Proyek Boezem Menelan Dana Rp205 Miliar

Selasa, 01/10/2013

NERACA

Jakarta – Proyek revitalisasi yang dilakukan di Boezem Morokrembangan atau Setu Morokrembangan, Surabaya, telah menelan dana sebesar Rp205 miliar sejak 2007. Boezem yang dibangun pada era Pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1934 silam itu sempat tidak terawat, penuh endapan tanah, sampah, dan tanaman air. Lokasi kumuh dan berbau tajam ini mulai ditata ulang pada tahun 2007.

"Kita perlu meninjau proyek yang didanai APBN sebagai bentuk pengawasan. Sejauh ini kita lihat perkembangannya luar biasa, wilayah yang dulu dikenal kumuh setelah lima tahun berubah menjadi lokasi wisata dan budi daya ikan," kata anggota Komisi V Fary Djemi Francis akhir pekan lalu.

Sementara anggota Kommisi V dari Fraksi PKB Andi Muawiyah Ramli meminta program revitalisasi tidak meninggalkan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi Boezem. "Penduduk sekitar mesti dirangkul sebisa mungkin dilibatkan dalam kegiatan penataan lingkungan. Mereka kita harapkan ke depan ikut menjaga," kata Andi.

Perlu diketahui, tujuan utama dibangunnya Boezem Morokrembangan yaitu sebagai kolam retensi genangan air hujan di kawasan pusat Kota Surabaya yang tidak bisa mengalir ke laut saat air laut pasang. Sementara sasaran utamanya yaitu masyarakat di kawasan pusat kota terutama di Kecamatan Krembangan, Kecamatan Bubutan, Kecamatan Sawahan, dan sebagian Kecamatan Dukuh Pakis.

Manfaat yang dihasilkan yaitu menampung air hujan yang menyebakan genangan di kawasan perkotaan/permukiman, mencegah terjadinya intrusi air laut untuk cadangan air tawar, untuk obyek wisata/sarana olahraga air dan untuk budidaya ikan air tawar.

Dahulu, Boezem Morokrembangan terkenal merupakan salah satu kawasan permukiman kumuh di Kota Besar dan dengan bantuan pemerintah guna memperbaiki kualitas lingkungan sehingga tidak kumuh lagi dan dapat menyulap permukiman Boezem Morokrembangan menjadi bersih, indah, dan alami.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), Pemerintah Kota Surabaya, Erna Purnawati menjelaskan saat ini sedang dipersiapkan pembangunan rumah susun (rusun) sewa yang akan dilaksanakan Cipta Karya. "Pembanguan rusun memanfaatkan lokasi spoil bank/disposal area milik Sumber Daya Air. Pemkot Surabaya nantinya bertanggung jawab pada urusan pembebasan dan masalah sosial lain," kata dia.

Erna berharap Komisi V dapat mendukung program lanjutan revitalisasi Boezem Morokrembangan yang masih memerlukan tambahan anggaran. Sejauh ini kegiatan sudah berhasil menata Boezem sebagai kolam retensi genangan air hujan dari kawasan pusat kota Surabaya. Ini menurutnya mengatasi banjir setidaknya di empat kecamatan. [iqbal]