PHE Siapkan Investasi Rp9 Triliun

Bikin 6 Anjungan Minyak

Senin, 30/09/2013

NERACA

Jakarta - General Manager PHE WMO Bambang Kardono menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan dana sekitar Rp9 triliun untuk membangun 6 anjungan minyak di 2014. Namun, Bambang mengatakan bahwa rencana tersebut masih menunggu persetujuan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

"Kami akan bangun enam anjungan, anjungan PHE-7, PHE-12, PHE-24, PHE-29, PHE-44, dan PHE-48, dana untuk bangun satu anjungan mencapai US$ 150 juta, jadi kami menyiapkan dana sekitar Rp9 triliun. Dan nantinya kami targetkan bisa produksi pada 2015. Tapi kami menunggu persetujuan dari SKK Migas dulu. Kalau diizinkan awal 2014 konstruksi sudah bisa dimulai," kata Bambang di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bambang menyebutkan bahwa tujuan pembangunan 6 anjungan tersebut adalah agar dapat meningkatkan produksi minyak, apalagi saat ini rata-rata cadangan minyak menurun hingga 50% per tahun. "Cadangan minyak kita decline rate-nya (penurunannya) cukup tinggi, 50% per tahun," ujarnya.

Bambang mengatakan, dengan adanya tambahan 6 anjungan tersebut, maka diharapkan dapat menambah produksi sebanyak 12.000 barel per hari. "Diharapkan dengan enam anjungan tambahan tersebut, ada tambahan produksi 12.000 barel per hari, sehingga produksi minyak WMO pada 2015 bisa mencapai rata-rata 26.000-27.000 barel per hari," kata Bambang.

Lebih lanjut dijelaskan Bambang, Jika pembangunan platform itu selesai tahun depan. Maka, PHE dapat melakukan pengeboran 10 sumur setahun kemudian. "Ada rencana 10 sumur pengembangan dari 6 platform yang baru akan dibangun 2014, dan akan dipasang pada 2015. Kita proyeksikan tahun 2015 pertengahan sudah bisa beroperasi," ungkap Bambang.

Sejauh ini, PHE-WMO telah merealisasikan investasi sebesar US$ 750 juta. Sementara, anggaran investasi yang disediakan pada tahun ini sebesar US$ 885 juta.

Sejauh ini, PHE WMO telah menargetkan jumlah produksi 27.000 barel per hari (bph) akhir tahun ini. Ini berkaca pada kuota minyak yang mampu diproduksi sampai Agustus 2013 mencapai 24.900 bph. "Produksi dari awal tahun sampai sekarang meningkat sekitar 186 persen dengan prestasi di Agustus-September," ujar Bambang.

Bambang mengatakan, bulan Agustus ini merupakan prestasi produksi tertinggi. Dia pun yakin, target akhir tahun dapat terpenuhi jika pengeboran 4 sumur eksplorasi dapat selesai. "Tujuan kami 27.000 barel. Akhir tahun ini mudah-mudahan," terang dia.

Lebih lanjut, Bambang berharap, upayanya untuk terus memaksimalkan produksi mendapat dukungan dari SKK Migas. Salah satunya dengan mempercepat perizinan. "Kami sangat agresif untuk pemboran dan bangun platform. Kami harapkan SKK Migas membantu kami untuk itu," tugkas dia.

Pertama di Dunia

Selain itu, PHE ONWJ juga mempunyai prestasi yang cukup baik yaitu telah berhasil mengangkat 3 anjungan minyak di lepas pantai Laut Jawa, tepatnya di LIMA Flowstation secara bersamaan. Keberhasilan ini merupakan pertama kali di dunia. "Ini pertama kali di dunia, oleh Pertamina berhasil mengangkat 3 anjungan di laut lepas secara bersamaan dan setinggi 4 meter dari permukaan laut," ungkap Executive VP/General Manager PHE ONWJ Jonly Sinulingga.

Pengangkatan 3 anjungan minyak ini, kata Jonly, harus dilakukan karena posisi ketiga anjungan tersebut sudah menyentuh permukaan laut. "Sehingga kalau ada ombak anjungan kemasukan air laut, tentu ini berbahaya dan berisiko bagi pekerja," ucapnya.

Diakui Jonly, teknologi pengangkatan anjungan ini sudah ada dan pernah dilakuan di beberapa negara. "Tapi yang baru diangkat itu hanya 1 anjungan, nah mengapa proyek pengangkatan deck raising ini menjadi perhatian dunia, karena yang diangkat ada sebanyak 3 anjungan secara bersamaan dan setinggi 4 meter. Ini belum pernah terjadi di mana pun, dan Pertamina yang pertama kali melakukannya, apalagi berat untuk 1 anjungan mencapai 300 ton," jelas Jonly.

Dilaksanakannya proyek pengangkatan anjungan ini adalah dengan metode "Synchonized Hydraulic Jacking System", memaksa 5 anjungan minyak harus dimatikan dan mengakibatkan produksi minyak 5.000 barel per hari dan 20 juta kaki kubik feet per hari (mmscfd) berhenti. "Dengan berhasilnya proyek ini diharapkan produksi akan normal kembali pada pertengahan Oktober 2013," katanya.