Tren Indeks Melemah, Investor Diminta Realistis - Harga Wajar Saham

NERACA

Jakarta - Melihat pergerakan indeks diawal tahun yang cukup bagus namun saat ini rawan koreksi dengan kecenderungan menguat terbatas, membuat investor harus bersikap realistis. Tidak lagi berharap terlalu tinggi karena potensi indeks memang cenderung negatif.

Menurut analis PT Danareksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo, penguatan terbatas indeks yang hanya pada nol poin dan bergerak stagnan mengharuskan investor bersikap realistis. Namun, sikap realistis tersebut dibarengi dengan optimisme, karena dia memprediksi ke depannya negara akan cukup baik.\"Ada kecenderungan up trend tetapi memang lambat karena postur pergerakan indeks kita cenderung melandai. Namun, sekitar 3 sampai 4 tahun akan up trend, jangka pendek pada 1 tahun ke depan down trend dan jangka menengah gerak indeks tidak kemana-mana\", ujar dia di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dengan kondisi seperti itu, dia berharap investor tidak lagi memilih saham melihat harga murah. Tetapi justru memperhatikan trend saham tersebut dan juga harga wajar saham yang akan dibeli. Dia menambahkan bahwa dalam memilih saham harus dilihat terlebih dahulu sektor yang sedang menarik baru kemudian memilih saham di sektor tersebut yang peformanya cukup bagus.

Dalam pertemuan dengan investor ritel tersebut, dia berbagi ilmu untuk melihat trend beberapa saham. Terdapat 8 saham yang dikaji bersama-sama dalam pertemuan tersebut. Pertama, Antam yang dinilai memiliki postur down trend. Sehingga investor yang ingin masuk ke saham tersebut diharapkan secara akumulasi sekitar 10%.

Hal ini disebabkan penilaian dia bahwa Antam belum sehat 100%, sehingga dengan pembelian akumulasi tersebut investor tidak terburu-buru dalam melihat untung, “Sampai Desember sebelum Natal harus sudah bersih-bersih saham tersebut karena harus cut lost yang disebabkan belum sembuh 100%\", kata dia.

Saham PTBA

Selain itu, ada PTBA yang dinilai masih down trend namun tetap masih hidup dan dapat bertahan. Beberapa investor sudah mulai membeli meskipun tidak banyak namun berhasi rebourn. Hal ini disebabkan indeks masih diselimuti serbuan \"beruang\". PT Timah juga masih down trend, namun sama halnya dengan Antam dan PTBA, masuk secara akumulasi merupakan pilihan tepat dan bijak.\"Selanjutnya ada BBCA dan BBRI, keduanya memiliki postur up trend. Untung long term kedua bank ini cukup menarik. Namun jika ingin masuk ke saham ini pastikan 10 hari sebelum 30 Oktober atau setelahnya. Sebab 30 Oktober akan ada meeting FOMC, sehingga H-2 FOMC harus bersihkan seluruh saham ini. Hal ini disebabkan hanya akan ada 2 hal setelah meeting FOMC, naik sekali atau turun sekali\", jelas dia.

Dia menambahkan untuk saham BBRI memang ada koreksi cukup tajam dan berda di zona merah. Namun hal ini tidak menghalangi up trend yang akan mendominasi pergerakannya. Selanjutnya ada WIKA dan SMGR, WIKA dinilai masih positif dengan tren naik. Sementara SMGR yang tadinya memiliki performa kurang baik, terlihat sudah mulai memperbaiki diri. Sehingga tren ke depannya akan naik dan akumulasi menjadi pilihan tepat untuk 2 saham tersebut.

Terakhir ada saham Kimia Farma yang mengalami koreksi cukup dalam. Namun, saham ini memiliki jalan keluar setelah psikologis pasar memberi rebourn. \"Sehingga yang tadinya berada di zona merah, akan masuk ke tren naik meskipun tidak banyak karena cenderung melandai. Jadi, Kimia Farma belum cepat akan naik\", ujarnya. (nurul)

Related posts