​Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Meningkat 22,85%

Kuartal II 2013

Senin, 30/09/2013

NERACA

Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan total pendapatan industri di kuartal II 2013 mencapai Rp71,38 triliun, ini terdiri dari 45 perusahaan asuransi jiwa. Perolehan ini meningkat sekitar 22,85% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp58,46 triliun.

Pendapatan premi masih menjadi faktor utama penyebab tumbuhnya pendapatan tersebut, yakni dengan kontribusi sebesar 80,17% dari total pendapatan atau sekitar Rp57,59 triliun. “Total pendapatan premi naik sekitar 14,48% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim di Jakarta, Jumat (27/9) pekan lalu.

Dia juga menjelaskan, dari kinerja kuartal kedua ini, ada peningkatan yang signifikan di investasi industri asuransi jiwa nasional mencapai Rp245,17 triliun yang tumbuh 17,74% year on year (yoy). Untuk jumlah premi produksi baru di kuartal II 2013 bertumbuh 7,1% menjadi Rp37,4 triliun. Dari pertumbuhan ini, premi unitlink kembali mengambil porsi yang lebih besar dibandingkan premi tradisional yaitu masing-masing Rp19,28 triliun atau sebesar 51,55% dan Rp18,12 triliun atau sebesar 48,45%.

Begitu pula dengan premi lanjutan yang tumbuh 31,25% menjadi Rp20,18 triliun pada kuartal II 2013, premi unitlink ini kembali mendominasi dengan porsi Rp13,17 triliun atau sebesar 65,25%, sedangkan premi tradisional Rp7,01 triliun atau sebesar 34,75%. Sedangkan untuk imbal hasil investasi (yield) juga tumbuh cukup signifikan, yakni sebesar 78,37% atau mencapai RP12,23 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,85 triliun.

"Total aset yang tumbuh 37,65% menjadi Rp281,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat aset sebesar Rp204,28 triliun. Ini menunjukkan kekuatan asuransi jiwa dalam membayarkan kewajiban kepada nasabahnya," kata Hendrisman.

Sementara Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Nini Sumohandoyo mengungkapkan, total tertanggung di kuartal II 2013 mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 54,55%, menjadi 87,19 juta orang dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 56,42 juta orang.

Untuk tertanggung perorangan juga mengalami kenaikan sebesar 29,38% menjadi 12,79 juta orang dari posisi 9,88 juta orang di tahun sebelumnya. Sementara tertanggung kumpulan mengalami kenaikan lebih tinggi yakni 59,89%, dari posisi 46,53 juta orang menjadi 74,4 juta orang.

“Kenaikan jumlah orang yang terlindungi asuransi jiwa mengindikasikan meningkatnya kesadaran publik akan manfaat memiliki asuransi jiwa, serta bukti nyata komitmen perusahaan asuransi jiwa nasional dalam melaksanakan kewajibannya,” jelas Nini.

Target tenaga pemasar

Kenaikan jumlah tertanggung, lanjut dia, tidak terlepas dari dukungan yang konsisten dari tenaga pemasar perusahaan asuransi jiwa. Sejauh ini, komposisi jumlah tenaga pemasar Asuransi Jiwa nasional hingga kuartal kedua 2013 bertumbuh 29,86%, menjadi 342.051 tenaga pemasar. “Angka ini bertumbuh seiring pertumbuhan dari sisi pendapatan premi dan angkatan usia muda di Indonesia,” tambahnya.

Nini juga mengungkapkan bahwa, peningkatan tenaga pemasar tidak terlepas dari upaya AAJI yang menurunkan tarif ujian sertifikasi pada Maret 2013 lalu. Alhasil, jumlah tenaga pemasar berlisensi di Indonesia langsung naik tajam. Jika biasanya rata-rata jumlah tenaga pemasar berlisensi naik 13,9% per tahun, namun dalam enam bulan pertama tahun ini kenaikannnya sudah 29,86%.

Dengan adanya peningkatan pertumbuhan jumlah tenaga pemasar mendekati 30% hingga kuartal II 2013, ini membuat AAJI optimistis mampu melampaui target tenaga pemasar pada 2015 mendatang. “Jadi kalau dengan simulasi rata-rata pertumbuhan jumlah tenaga pemasar kita setiap tahun naik 13,9% saja sudah mencapai sekitar 500 ribu tenaga pemasar tahun 2015. Maka dengan pertumbuhan di atas 25%. Target akan terlampaui.” ucap dia.

Saat ini penetrasi asuransi jiwa masih menjadi tantangan utama di industri pasalnya, dari total 240 juta penduduk Indonesia hanya sekitar 5,3% (12,7 juta jiwa) yang terlindungi asuransi jiwa sebagai tertanggung individu dan 74,4 juta jiwa atau 31% untuk tertanggung kumpulan. [ardi/sylke]