Sektor Properti Diproyeksi Masih Tertekan

Jumat, 27/09/2013

NERACA

Jakarta-Kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7,25% yang disebut-sebut akan berdampak terhadap pertumbuhan penyaluran kredit dinilai juga akan berpengaruh terhadap kinerja sektor properti. Ditambah, Bank Indonesia (BI) menetapkan ketentuan mengenai rasio kredit terhadap nilai agunan (loan to value/ltv). Tidak ayal, hal ini akan menambah sentimen pada sektor tersebut ke depan. “Bila dilihat secara teknikal, sektor saham properti masih berpotensi melemah pada kuartal ketiga 2013.” kata analis OSO Securities, Fanny Suherman di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, indeks properti akan mencoba menuju ke level 309-325 pada kuartal ketiga dan keempat 2013. Salah satu sentimen yang akan mempengaruhi perkembangan sahamnya antara lain adanya kenaikan suku bunga acuan dan aturan LTV membatasi ruang gerak properti. Pasalnya seseorang yang menginginkan kredit harus membayar lebih tinggi. Tak ayal, pertumbuhan kredit pun akan melambat.

Untuk sektor ini, dia merekomendasikan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) karena memiliki potensi naik. “Rekomendasi untuk saham SMRA, speculative buy dengan target harga Rp1.100-Rp1.250. Support di level 850 dan cutloss jika break 700,” jelasnya.

Sementara itu, analis saham, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, pengaruh kenaikan suku bunga tidak akan signifikan pada emiten yang memiliki landbank cukup besar. Dia pun merekomendasikan saham-saham properti yang memiliki recurring income besar seperti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). \"Emiten properti punya land bank besar dan modal besar tidak terlalu berpengaruh dengan ketentuan itu,\" ucapnya

Hal senada juga disampaikan analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono. Menurut dia, saham berbasis properti diproyeksi bakal mengalami tekanan. Hal ini seiring dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menyempurnakan aturan loan to value ratio (LTV), “Tekanan kami lihat mulai muncul pada saham sektor properti seiring dengan kebijakan baru BI terkait KPR untuk rumah kedua dan ketiga,” jelasnya.

Bukan kali ini aja saham properti tertekan, sebelumnya keputusan BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin dari sebelumnya 6% menjadi 6,5% juga mengancam pergerakan indeks saham sektoral, khususnya properti, “Dengan kenaikan BI Rate yang terlalu besar dalam satu kali kebijakan tidak serta merta berdampak positif pada perkembangan pasar,”ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), Justini Omas mengatakan, saat ini masih terlalu dini untuk mengomentari dampak ketentuan LTV terhadap properti. Pihaknya masih akan melihat beberapa bulan ke depan setelah aturan diberlakukan. "Secara umum saja konsumen kami yang memanfaatkan fasilitas KPR/A secara keseluruhan hanya sekitar 10%-15%%. Jadi mungkin dampaknya tidak terlalu besar, kecuali untuk yang di Grand Taruma Karawang sekitar 50%.” jelasnya.

Jadi, kata dia, mungkin dampaknya tidak akan besar. Akan tetapi bisa dilihat beberapa bulan ke depan setelah peraturannya dijalankan, bagaimana dampak spesifikasinya terhadap perseroan. “Supaya bisa dikaji strategi pemasaran apa yang perlu diambil selanjutnya,” imbuhnya.