Pasar Modal Harus Perkuat Investor Ritel

Agar Lebih Dinamis

Jumat, 27/09/2013

NERACA

Jakarta – Keberadaan investor ritel di pasar modal mempunyai peran penting di pasar modal. Oleh karena itu, PT Mandiri Sekuritas tengah membidik investor ritel untuk terus menggenjot tumbuh pesat agar industri pasar modal menjadi lebih dinamis, “Di negara manapun, investor ritel sangat penting, bursa saham itu merupakan kombinasi investasi jangka panjang dan pendek, pertumbuhan investor ritel akan membuat dinamis pasar modal ke depanya,”kata Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Abiprayadi Riyanto di Jakarta, Kamis. (26/9).

Dirinya menuturkan, investor institusi cenderung menginvestasikan dananya untuk jangka panjang, sementara investor ritel berorientasi jangka pendek."Kalau investornya mayoritas jangka panjang maka bursa akan sepi transaksi, maka itu diperlukan investor ritel," katanya.

Lanjutkan, perseroan menargetkan dapat menjaring investor ritel sebanyak 40.000 investor ritel di pasar modal pada tahun ini, per Agustus 2013 tercatat nasabah mandiri Sekuritas sekitar 22.000 nasabah ritel. Peningkatan investor ritel di Mandiri Sekuritas cukup signifikan, pada akhir Desember 2012 lalu jumlah ritel sebanyak 13.000 nasabah.

Dalam data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah sub rekening efek di C-BEST (Central Depository-Book Entry Settlement System) per Agustus 2013 381.755 atau meningkat sebesar 6,23 persen dari Desember 2012. Sementara jumlah aset yang tercatat di C-BEST sebesar Rp2.733,15 triliun, dengan rincian aset lokal sebanyak Rp1.335,01 triliun dan asing Rp1.398,14 triliun.

Direktur Capital Market Mandiri Sekuritas, Laksono Widodo mengharapkan bahwa kepemilikan aset investor lokal dapat mendominasi. Saat ini kepemilikan asing di pasar modal Indonesia masih dominan. Transaksi di pasar modal pun menurutnya masih ramai dilakukan oleh investor asing."Masyarakat Indonesia masih membutuhkan edukasi yang berkelanjutan mengenai industri pasar modal," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi mengatakan, jumlah investor dalam negeri menjadi penting agar dapat menahan gejolak krisis ekonomi, “Gejolak pasar saham yang sempat terjadi masalahnya hanya satu, yakni jumlah investor. Kalau investor domestik lebih banyak dibandingkan asing maka volatilitas di pasar saham tidak akan seperti beberapa hari lalu,”ungkapnya.

Menurut dia, dengan investor domestik yang besar maka pasar saham di dalam negeri akan lebih kuat sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak stabil. Dirinya menyakini, industri pasar modal dalam negeri mampu menyaingi dengan bursa saham Hong Kong yang nilai transaksi saham hariannya rata-rata mencapai Rp80 triliun, “Saat ini, rata-rata transaksi harian saham di bursa baru sekitar Rp4-Rp5 triliun,”ujarnya. (bani)