Indonesia dan APEC

Di tengah krisis finansial dan ekonomi global, Indonesia berani tampil menjadi ketua penyelenggara APEC 2013 yang akan berlangsung di Bali bulan depan. Kita semua mengetahui efek pelemahan global akibat krisis berkepanjangan di Zona Eropa berdampakpadapelemahankawasan Asia Pasifik,khususnya bagi mereka yang mengandalkan ekspor ke Eropa dan Amerika. Sepanjang 2010–2011, negara-negara yang tergabung dalam APEC mengalami tekanan pelemahan global akibat krisis utang Eropa.

Apalagi ditambah dengan pelemahan ekonomi yang juga terjadi di Amerika Serikat, pada akhirnya turut menambah beban penurunan kinerja ekonomi sejumlah negara APEC. Imbasnya memang mulai terasa. China, Jepang, dan sejumlah negara lainnya mengalami perlambatan ekonomi. Tekanan ini akan semakin kuat jika konsolidasi ekonomi kawasan Asia Pasifik berjalan lamban atau stagnan. Karena itu, tema yang diusung nanti dalam APEC 2013 adalah untuk membangun daya tahan terhadap krisis, baik yang terjadi di kawasan Asia Pasifik ataupun krisis yang diakibatkan kawasan lain.

Asia Pasifik terintegrasi dengan kawasan lain sehingga perlu adanya kemampuan yang lebih adaptif untuk merespon setiap sentimen negatif. Seperti ketidakpastian pasokan pangan dan minyak dunia membutuhkan koordinasi dan kerja sama kawasan untuk terhindar dari persaingan yang berpotensi menciptakan destabilitas kawasan. Kepemimpinan Indonesia juga akan sangat menentukan bagi tidak hanya terciptanya ketahanan ekonomi,tetapi juga pengondisian bagi terciptanya kawasan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia Pasifik.

Dibandingkan di KTT APEC di Vladivostok yang mengangkat empat tema sentral, yaitu integrasi regional melalui perdagangan dan investasi,ketahanan pangan, sistem rantai nilai (supply-chains), dan intensifikasi kerja sama untuk pertumbuhan yang inovatif. Keempat tema sentral ini merupakan pijakan bagi Indonesia dalam merumuskan agenda pertemuan tahun depan di Bali. Tidak mengherankan jika Indonesia sebagai ketua APEC 2013 diharapkan mampu meningkatkan pencapaian kerja sama ekonomi APEC selama ini.

Hal ini terlihat pada semakin menurunnya biaya transaksi perdagangan periode 2007–2010 sebesar 5% dengan nilai penghematan mencapai US$58,7 juta. Penurunan tarif pada 2010 dapat ditekan menjadi 5,8% dari 17% pada 1989.Kerja sama ekonomi APEC juga berhasil meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 10,8% dalam kurun waktu satu dekade (1999–2009) sehingga tingkat kemiskinan di kawasan APEC dapat ditekan dan berkurang 35% dalam kurun 1999–2009. Saat Indonesia memimpin APEC 2013, negeri ini juga menjaga perekonomian dunia mengingat APEC menguasai 56% PDB dunia, 39,8% penduduk dunia, dan total PDB 2011 US$38,9 triliun.

Di saat kawasan ini berhasil meningkatkan daya tahan dengan tetap menjaga pertumbuhan, hal itu akan berdampak positif terhadap perekonomian global. Karena itu, tantangan keketuaan Indonesia pada APEC 2013 menjadi sangat strategis dalam meningkatkan posisi tawar menawar Indonesia di tingkat global. Keberhasilan Indonesia keluar dari krisis ekonomi 1998 dan menjaga daya tahan perekonomian nasional pada sejumlah krisis seperti subprime mortgage dan krisis keuangan di Zona Eropa dapat menjadi inspirasi bagi APEC.

Kemampuan nasional untuk tetap menjaga defisit fiskal pada posisi yang aman tak melampaui 3% PDB, pembangunan inklusi, proteksi sosial, terkendalinya inflasi, dan terjaganya stabilitas sosial-politik merupakan kunci melewati kondisi krisis. Pembangunan nasional yang tidak hanya bertumpu atas keberpihakan industri besar tetapi juga industri mikro, kecil, dan menengah dapat menjadi model pembangunan di Asia Pasifik.

Pengurangan disparitas infrastruktur dan pembangunan antarnegara APEC menjadi tantangan selama keketuaan Indonesia. Perlu disadari, di dalam APEC tidak semua negara memiliki kemampuan ekonomi yang setara.Dinamika antara kepentingan negara berkembang dan maju dalam APEC terus mewarnai kesepakatan perdagangan dan investasi. Indonesia sebagai bagian dari negara berkembang dapat berperan untuk lebih menyeimbangkan kepentingan antara negara maju dan berkembang. Semoga!

Related posts