Pelebaran Tol Jagorawi Kuras Rp129 Miliar

NERACA

Jakarta – Tol Jagorawi saat ini sudah terbilang padat. Itu terlihat dari volume to capacity ratio (V/C ratio)-nya yang sudah lebih dari 0,8, padahal di perjanjian usahanya, PT Jasa Marga Tbk sebagai pengelola Tol Jagorawi beranji mempertahankan V/C ratio di bawah 0,8. Oleh karena itu, Jasa Marga melakukan pelebaran di sebagian ruas jalan tol Jagorawi.

V/C ratio adalah indikator kepadatan suatu jalan. Nilai 1 pada V/C ratio menggambarkan lalu lintas yang padat. Sementara jika V/C ratio lebih dari 1, maka jalan sudah dalam kondisi sangat macet.

“Pelebaran ini sudah berjalan sejak April 2013 kemarin dan direncanakan selesai pada Desember akhir tahun ini. Sekarang pembangunan fisik sudah 40%,” kata General Manager Tol Jagorawi Hardjono Santoso di Jakarta, Kamis (26/9).

Pelebaran, kata Hardjono, dilakukan sepanjang 9,5 kilometer, yaitu pada ruas Cibinong – Citeureup – Sentul Selatan, atau lebih tepatnya pada Kilometer 27,5 sampai Kilometer 37. Dana yang dibutuhkan untuk pelebaran tersebut adalah sebesar Rp129 miliar.

Tadinya, ruas tersebut hanya memiliki tiga lajur. Dengan pelebaran ini nantinya akan menjadi empat lajur, sehingga total lajur bolak-balik adalah delapan lajur. Satu lajur memiliki lebar sebesar 3,75 meter.

Menurut Hardjono, meningkatnya volume kendaraan yang melewati Tol Jagorawi adalah karena meningkatnya jumlah perumahan di daerah Puncak dan bertambahnya tempat wisata di sekitar Tol Jagorawi. “Banyaknya perumahan dan tempat wisata secara signifikan membuat Tol Jagorawi lebih ramai,” kata dia.

Peningkatan kualitas

Selain akan melebarkan sebagian ruas tol, Jagorawi nantinya akan dihiasi dengan penerangan jalan yang menggunakan LED, tetapi sumber dayanya menggunakan listrik. “Sementara sampai saat ini, lampu LED hanya ada di daerah menuju Ciawi. Karena di daerah itu sering terjadi tabrak belakang,” kata Hardjono.

Namun ke depannya, lanjut dia, penambahan lampu LED akan dilakukan dari Cawang sampai Cibubur. Setiap 50 meter akan ada satu lampu LED. Pemasangan lampu itu dilakukan Jasa Marga dari sekarang sampai awal tahun 2014.

Gerbang miring yang selama ini menjadi inovasi baru di Jagorawi, ternyata memunculkan hasil yang memuaskan. “Bisa dilihat sendiri, tidak ada lagi antrian di gerbang tol itu,” kata Hardjono.

Jasa Marga sebelumnya membuat inovasi gerbang miring yang menambah jumlah gerbang transaksi menjadi 25 lajur, yang terdiir dari 18 lajur miring dan 7 lajur lurus. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan di pintu tol yang sebelumnya kerap terjadi. “Sekarang lancar sekali. Hampir tidak pernah ada antrean,” kata Hardjono.

Untuk segala perbaikan yang dilakukan Jasa Marga untuk Tol Jagorawi, pengguna tol dibebankan tarif tol yang terbilang murah, yaitu hanya Rp125 per kilometer untuk mobil sedan. Tol-tol baru pada umumnya mempunyai tarif Rp600 per kilometer. Bahkan tarif tol Nusa Dua – Ngurah Rai – Benoa di Bali adalah Rp10 ribu untuk 10 kilometer atau Rp1.000/kilometer.

Dengan tarif yang sudah murah dibanding tol-tol lainnya, Hardjono mengaku Jagorawi sudah cukup penghasilan untuk melakukan maintainance dan membiayai seluruh operasional yang ada di Tol Jagorawi. Pendapatan Tol Jagorawi berfluktuasi tiap harinya, tetapi rata-rata pendapatan per hari adalah Rp1,5 miliar per hari. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Pemerintah Yakin Dana Amnesti Pajak Tidak Kembali ke Asing

    NERACA   Jakarta - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyatakan hingga masa penahanan dana (holding period)…

Eksploitasi Air Tanah Sebabkan Penurunan Tanah Jakarta

    NERACA   Jakarta - Penurunan tanah (landsubsidence) di DKI Jakarta salah satu faktornya adalah disebabkan eksploitasi air tanah…

Internet Lambat Ikut Hambat Bisnis

    NERACA   Jakarta - Lembaga riset global Legatum Institute mengungkapkan bahwa koneksi internet yang lambat dan bandwidth jaringan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Haris Azhar Bakal Laporkan Majelis Hakim PT Jakarta ke KY dan Bawas - Diduga Tak Periksa Berkas Banding

      NERACA   Jakarta - Jaksa berprestasi Chuck Suryosumpeno tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan hukum di Indonesia.…

ITDC Fokus Kembangkan The Mandalika - Katalisator Pembangunan Ekonomi NTB

    NERACA   Jakarta - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN pengembang dan…

UMP 2020 Disebut Masih Mengacu PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan besaran upah minimum provinsi (UMP) untuk 2020 diperkirakan masih…