KKP Bantu 18 Kelompok Pembudidaya Ikan di Tulungagung

Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan

Jumat, 27/09/2013

NERACA

Tulungagung - Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberi bantuan kepada kelompok pembudidaya di Tulungagung yaitu Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP). Bantuan tersebut diberikan kepada 18 kelompok dengan total Rp1,17 miliar.

Setiap kelompok pembudidaya diberikan Rp65 juta. Target pemberian PUMP kepada kelompok budidaya di tahun ini mencapai 4.000 kelompok dan sebanyak 4.500 kelompok akan diberikan dana tersebut pada 2014.

Menurut Dirjen DJPB KKP Slamet Soebjakto PUMP tersebut diberikan kepada kelompok pembudidaya yang telah memenuhi beberapa syarat yang telah di tetapkan dari DJPB KKP. Adapun syarat-syarat tersebut adalah pembudidaya pemula yang sudah membudidayakan ikan minimal selama 6 bulan. Selain itu Dinas Perikanan setempat sudah menentukan kelompok yang berhak menerima.

Selain itu, kelompok yang sudah menerima PUMP tidak akan menerima dana tersebut untuk kedua kalinya. Namun, dalam pelaksanaannya kelompok yang baru menerima PUMP akan didampingi pembudidaya yang telah berhasil meningkatkan budidayanya. Proses pemberian dana PUMP nantinya juga akan diawasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) guna menjaga agar dana tersebut tidak diselewengkan.

"Dengan pengawasan BPK mudah-mudahan pelaksanaan PUMP dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Selain itu patin di sini juga sudah masuk industri sehingga harus terus ditingkatkan budidayanya", ujar dia saat menghadiri acara Pembinaan Terpadu KKP di Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (26/9).

Di Kabupaten Tulungagung sendiri memiliki 4 komoditas utama yaitu patin, lele, gurame, dan ikan hias. Untuk komoditas patin dan lele cukup besar hasil panennya, yang dapat memenuhi kebutuhan ikan diberbagai daerah di Indonesia.

Menurut Kepala Dinas Tulungagung Sigit Widiono, panen patin dan lele mencapai 15 ton per hari. Sementara untuk gurame mencapai 10 ton per hari. Dia menyatakan bahwa ikan hasil panen di kabupatennya dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Barat, Sumatera, Bali dan beberapa wilayah lain. Dia juga menyatakan bahwa Tulungagung akan memfokuskan produksi untuk 4 komoditas tersebut, namun tidak menutup kemungkinan untuk membudidayakan komoditas lain.

"Perkembangan mina politan di sini cukup bagus, contohnya patin yang mengalami peningkatan produksi hingga 1.000%, dari 345 ton pada 2011 mencapai 4.948,65 ton pada 2012. Rata-rata pertumbuhan panen di sini untuk 4 komoditas ikan tersebut setiap tahunnya 3%. Kami berharap KKP dapat terus mendorong budidaya ikan di sini", ujar dia pada kesempatan yang sama.

Ditambahkan Wakil Bupati Tulungagung Maryoto Birowo menyatakan bahwa dengan adanya bantuan ini menjadi kesempatan baik bagi Tulungagung untuk membantu pergerakan roda ekonomi. Selain itu dia menilai bahwa dengan adanya bantuan tersebut, selain meningkatkan konsumsi masyarakat akan ikan juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar dan menciptakan daya saing untuk menghasilkan panen yang baik.

Sentral Gurame

Sementara itu, Penyuluh Perikanan Lapangan untuk Kecamatan Tanggung Gunung dan Campur Darat, Suyatna menyatakan bahwa di Desa Wates menjadi sentral untuk budidaya gurame. Di desa tersebut 5 kelompok pembudidaya membudidayakan gurame di atas lahan seluas 12 hektar. Namun dari 5 kelompok tersebut hanya 1 kelompok yang menerima dana PUMP. Hal ini disebabkan di desa Wates masih terdapat peternakan unggas, sehingga belum bisa diajukan untuk menerima bantuan tersebut.

Selain menghadiri acara pembinaan, Slamet juga mengunjungi kelompok pembudidaya yang menerima PUMP. Dia melihat kendala budidaya ikan di Tulungagung adalah masalah pembuangan limbah karena hampir setiap rumah yang ada menjadi pembudidaya, namun belum bisa mengelola limbah air kolamnya. Padahal, menurit dia air limbah kolam tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyirami tanaman, karena air limbah tersebut mengandung probiotik yang bagus untuk tanaman agar tetap subur.

Contohnya pembudidaya patin Suhaili, yang dikunjungi Slamet. Suhaili mengakui bahwa usahanya terkendala oleh air limbah yang akan membuat banjir kawasan tempat tinggalnya saat dikuras. Suhaili sendiri telah memiliki lebih dari 100 petak kolam dengan luas keseluruhan mencapai 1 hektar. Selain masalah pembuangan air limbah, dia juga menyatakan kesulitan akan pakan ikan yang harganya mendominasi hingga 70% bagi usahanya.

"Dengan mendapat bantuan PUMP, bisa menggunakannya untuk pembelian pakan", ujar Slamet setelah mendengar keluhan pembudidaya.

Sementara itu, pengusaha olahan ikan lele, Rusli Winarno di desa Gondosuli, Kecamatan Gondang, Tulungagung, mengaku membudidayakan dan mengolahnya memberikan keuntungan yang cukup tinggi dibandingkan pertanian. Dia telah mengolah berbagai jenis makanan berbahan baku lele seperti brownies lele, abon lele, pangsit lele, ikan bakar lele, kerupuk lele, bahkan keripik kepala lele. Hingga kini, dia telah memproduksi 15 jenis olahan dari lele. Olahan yang paling banyak diminati adalah abon lele yang mampu memberinya keuntungan Rp6 juta setiap bulannya.

"Olahannya dikirim ke Jakarta, Bali, Surabaya dan lainnya. Sementara untuk ke luar negeri kita pernah kirim ke Amerika, Qatar dan Belanda. Kita menggunakan internet sebagai wadah untuk pemasaran. Dari internet inilah, banyak orang di luar Tulungagung yang mengetahui dan menyukai olahan dari sini", jelas dia.

Produksi ikan di Tulungagung sendiri cukup tinggi, seperti patin 345 ton pada 2011 menjadi 4.948,65 ton pada 2012. Gurame pada 2011 mencapai 6.855 ton sementar di tahun 2012 mencapai 13.571 ton. Total produksi ikan dari 6 komoditas 21.090 ton pada 2011 dan naik menjadi 28.367 ton pada 2012.

Sementara gurame menjadi kontributor terbanyak terhadap nilai produksi tertinggi pada 2011 mencapai Rp191,94 juta dan pada 2012 mencapai Rp416,92 juta. Total hasil panen mencapai Rp421,56 juta pada 2011 dan naik menjadi Rp591,25 juta pada 2012.