Penguasaan Pasar Industri Tekstil Susut 5%

NERACA

Bandung - Tingginya impor tekstil yang membanjiri pasar domestik dinilai menjadi penyebab turunnya daya beli masyarakat di dalam negeri sehingga pasar tekstil dan produk tekstil lokal di pasar domestik makin menipis saja.

\"Hingga semester pertama tahun ini saja misalnya penguasaan pasar produk lokal di negeri sendiri tergerus hingga 5%,\" ungkap Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat saat berbincang dengan Neraca di acara Pameran Produk Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian di Bandung, Rabu (26/9).

Menurut Ade, enam bulan pertama tahun ini pangsa pasar pelaku industri TPT di dalam negeri hanya mencapai 40%. Jumlah ini menurun dari periode yang sama di tahun lalu yang masih ada di kisaran 45%.

\"Hingga paruh pertama tahun ini sendiri, nilai pasar TPT domestik disebutnya mencapai US$ 3,5 miliar. Artinya penjualan TPT buatan dalam negeri di pasar domestik mencapai sekitar US$ 1,4 miliar,\"ujar Ade.

Lebih lanjut lagi Ade mengungkapkan, nilai penjualan TPT di pasar domestik sendiri naik sekira 7% secara year on year. Yang didorong oleh meningkatnya kondumsi sejalan dengan pertumbuhan penduduk di dalam negeri.

\"Makin berkuasanya produk impor di pasar lokal, kata dia dipengaruhi oleh faktor pelemahan ekonomi yang terjadi di China. Akibatnya banyak produk buatan negara tersebut yang tidak terserap di pasar domestik mereka,\"papar Ade.

Sehingga, ujar Ade produk-produk tersebut dilempar ke berbagai negara dengan harga yang jauh lebih murah, asal barang-barang itu terjual. \"Dengan besarnya pasar yang kita punya, tentu Indonesia jadi salah satu sasaran. Di sisi lain, dengan biaya produksi yang melonjak di tahun ini, maka makin menyulitkan pelaku industri untuk bersaing secara harga dengan produk-produk impor ini,” ungkapnya.

Cukup Berat

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Anshari Bukhari mengakui kondisi industri TPT di dalam negeri pada tahun ini cukup berat. Hal ini menyebabkan kemampuan bersaing di pasar domestik makin ketat.

Di sisi lain beban produksi malah meninggi seperti naiknya tarif listrik dan harga gas. \"Terutama karena masalah pengupahan karena sebagai sektor padat karya tentu dampaknya besar,\" kata dia.

Padahal industri padat karya semacam TPT masih dibutuhkan di dalam negeri untuk menyerap tenaga kerja. Karena itu Anshari bilang pihaknya akan mengawal kestabilan industri ini, termasuk soal upah yang berkesinambungan.

Sekedar informasi,Industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu industri yang di prioritaskan untuk dikembangkan karna memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penyumbang devisa negara, menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup besar, dan sebagai industri yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sandang nasional.

Hal ini dapat ditunjukkan melalui perolehan surplus ekspor terhadap impor selama satu dasawarsa terakhir, bahkan saat krisis ekonomi melanda dunia, ITPT Nasional masih dapat mempertahankan surplus perdagangannya dengan nilai tidak kurang dari US$ 5 Milyar, penyerapan tenaga kerja 1,34 juta jiwa, capaian TKDN hingga 63% dan berkontribusi memenuhi kebutuhan domestik sebesar 46%.

Ditinjau dari performa neraca ekspor-impor antara Indonesia dengan beberapa negara produsen TPT Asia untuk produk serat, benang, kain lembaran dan pakaian jadi pada kurun waktu beberapa tahun, menunjukkan bahwa ITPT Nasional masih cukup baik. Namun, performa ekspor-impor TPT Nasional yang cukup baik itu belum dapat menjadi jaminan bahwa ke depan industri TPT masih tetap dapat bersaing, mengingat kinerja ekspor selama lima tahun terakhir cenderung melambat, akibat dari kompleksitas berbagai faktor yang dihadapi industri TPT.

Sementara industri TPT Nasional memiliki cukup banyak faktor yang potensial berpengaruh melemahkan daya saing, baik faktor internal maupun faktor eksternal, yang perlu segera diselesaikan dengan program kerja yang konkrit, implementatif, terarah, dan sinergis.

Faktor internal yang dihadapi industri TPT adalah kondisi permesinan yang teknologinya sudah usang dan perlu diremajakan belum tersedianya industri permesinan tekstil di dalam negeri yang mengakibatkan ketergantungan dengan mesin impor, bahan baku kapas yang masih 99,5% diimpor, bahan penolong seperti zat warna azzo belum tersedia cukup di dalam negeri, terbatasnya SDM yang terampil dan profesional, belum cukupnya dukungan perbankan dalam pemberian kredit modal kerja, dan penggunaan energi yang boros.

Sedangkan faktor eksternalnya adalah pasokan energi yang tidak kontinyu, belum adanya prioritas akses pasar yang memadai bagi produk tesktil dalam negeri di pasar modern, kurangnya fasilitasisasi marketing produk TPT di luar negeri, belum memadainya fasilitas sarana dan prasarana transportasi, pelabuhan, serta tidak adanya kepastian waktu penyelesaian restitusi pajak, dan lain sebagainya.

Related posts