RI Minta Korsel Buka Kran Impor Dua Produk

Perjanjian Ekonomi Bilateral

Jumat, 27/09/2013

NERACA

Jakarta – Delegasi Indonesia yang diwakili oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perindustrian MS Hidayat telah berkunjung ke Korea Selatan. Kunjungan ke Negeri Ginseng tersebut membahas penyelesaian perjanjian ekonomi komprehensif kedua negara.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjelaskan dalam kunjungannya, pemerintah meminta Korea Selatan bisa membuka pasar hortikultura dan perikanan. “Pemerintah Korsel itu cukup menjaga produk hortikultura dan perikanan lokal makanya kita agak sulit untuk meminta mereka untuk membuka kedua sektor tersebut. Tapi kelihatannya mereka cukup terbuka,” ucap Gita saat ditemui di kantornya, Kamis (26/9).

Sebagai gantinya, Indonesia memberikan kebebasan kepada Korsel untuk masuk ke Indonesia. Ada dua sektor yang diminta oleh Korsel yaitu sektor otomotif dan elektronik. Namun secara tegas, Gita mengatakan bahwa Indonesia bisa memberikan kebebasan asalkan Korsel bisa investasi di Indonesia. “Kalau investasi Korea Selatan berupa pabrik kulkas, TV, dan produk lainnya sudah ada di sini. Tapi kalau bisa mendirikan pabrik Samsung maka kita akan menyambut baik,” ujar Gita.

Gita mengatakan, Presiden Park Geun-hye menyambut baik usulan tersebut. Selain itu, Presiden Park juga ingin memperluas investasi di bidang otomotif di Indonesia. Namun, Gita menambahkan, pihak Korea Selatan mengimbau pemerintah Indonesia agar menyelesaikan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) di antara kedua negara agar investasi antara Indonesia dan Korea Selatan dapat lebih ditingkatkan lagi. “Oleh karena itu, rencana investasi dan CEPA akan kita bahas dan selesaikan pada akhir bulan Oktober mendatang,” tutur Gita.

CEPA adalah perjanjian yang sudah dibicarakan sejak beberapa tahun terakhir oleh Indonesia dan Korsel. Tidak cuma perdagangan, kerja sama bilateral ini mencakup pula alih teknologi dan pelatihan sumber daya manusia.

Karenanya, Gita mengingatkan Korsel agar bersedia membuka lapangan kerja untuk buruh terampil asal Indonesia. “Permintaan ketiga capacity building supaya orang Indonesia bisa belajar di sana, tapi juga siap bekerja di bidang profesional services, terutama pekerja yang skilled, bukan hanya yang un-skilled,” paparnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami menyatakan bahwa ekspor produk pangan Indonesia ke Korea Selatan tahun lalu baru mencapai US$ 66 juta. Sementara, di saat yang sama, impor pangan negeri ginseng dari seluruh dunia mencapai US$ 8 miliar. “Ekspor kita masih kurang satu persen dari total impor mereka, artinya masih ada ruang kalau kita mau tingkatkan,” ujarnya.

Saat ini, menurut Gusmardi, beberapa produk pangan Indonesia yang telah memiliki pasar di Korea Selatan adalah ekspor krupuk udang, biskuit, dan coklat. Ke depan, beberapa produk lain yang akan didorong untuk ekspor adalah perikanan, termasuk rumput laut.

Di antara upaya yang dilakukan pemerintah adalah bekerja sama dengan ASEAN-Korea Centre (AKC) untuk memberikan wawasan bagi pengusaha Indonesia agar bisa menembus pasar Korea Selatan. Beberapa poin yang dipaparkan adalah peningkatan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar, serta memberikan panduan dalam menentukan strategi pemasaran yang efektif termasuk prosedur ekspor, khususnya ke negara Korea Selatan.