Bursa Tersandera Ketidakpastian Global

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Bagaikan anak “ABG” yang sedang galau dalam ketidakpastian menanti jawaban sang idaman hati, bursa saham Indonesia kini gundah gulana “H2C” (harap-harap cemas) pada ketidakpastian global. Kata orang bijak, hal yang pasti terjadi di masa datang adalah ketidakpastian. Masalahnya, ketidakpastian pasar yang dipicu oleh kondisi makroekonomi dan kinerja keuangan global merupakan sumber risiko sistemik yang uncontrollable bagi pelaku pasar.

Baru sehari, bursa mengalami perdagangan yang menggairahkan pasca penundaan tapering off (18/9), langsung kembali melemah di akhir pekan (20/9) dalam fase profit taking dan disusul oleh penurunan berkelanjutan selama tiga hari berturut-turut (23-25/9) pada fase wait and see.

Pada perdagangan Kamis (19/9) indeks harga saham gabungan (IHSG) melonjak 4,65% ke level 4.670,73 seiring dengan penguatan rupiah 4,21% ke posisi Rp10.867/US$. Pada perdagangan Jum’at (20/9) IHSG ditutup melemah 1,86% ke level 4.583,83 dan rupiah turun 0,66% ke posisi Rp11.352/US$. Pada Senin (23/9) indeks ditutup turun 0,47% ke level 4.562,86 dengan rupiah terperosok 3,66% ke angka Rp11.445/US$. Pada perdagangan Selasa (24/9) indeks terjerembab 2,25% ke level 4.460,41 bersamaan dengan turunnya nilai rupiah 0,24% ke level Rp11.473/US$. Pada penutupan perdagangan Rabu (25/9) indeks terkoreksi 1,2% ke angka 4.406,76 dan rupiah tersuruk lagi 0,33% ke posisi Rp11.511/US$. Sampai kapankah kinerja bursa dan rupiah akan terus meluncur? Apakah gerangan pemicunya?

Setelah babak drama penundaan tapering off the Fed terlewati dengan menyisakan ketidakpastian, kini muncul ketidakpastian baru yang dipicu oleh ancaman shutdown pemerintah Amerika Serikat AS terkait pagu utang (debt ceiling) negara adidaya itu yang kini sudah mencapai 100% GDP. Masalah ini diwarnai oleh semakin meruncingnya perseteruan politik antara pihak pemerintah dan pihak kongres republikan. Presiden Barack Obama meminta kongres untuk menaikkan pagu utang dengan tenggat waktu hinggu tanggal 30/9 (awal pekan depan). Di pihak lain, kongres mengancam akan menutup undang-undang fasilitas kesehatan (program Obamacare) yang diprakarsai oleh Obama.

Suhu politik di Washington kian memuncak seiring dengan ancaman pentagon, jika kongres gagal menaikkan pagu utang hingga akhir September ini, maka pemerintah AS akan melakukan shutdown. Dengan ungkapan lain, jika pagu utang tidak dinaikkan maka negara Paman Sam itu terancam kolaps.

Tidak ayal lagi, drama politik AS ini telah menebar kecemasan global yang membuat investor miris dan melarikan diri dari pasar. Bukan hanya IHSG saja yang terancam stagnan pada pekan ini, tetapi Dow Jones juga melemah 0,32%, Nikkei turun 0,46%, Hangseng anjlok 0,82%, Straits Times Times merosot 0,72%. Akhirnya para pelaku bursa cenderung wait and see menanti angin segar berikutnya dari berbagai ketidakpastian global yang silih berganti.

BERITA TERKAIT

Inflasi

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Harga bawang putih mulai meroket di pekan kedua…

Mendesak, RUU Keamanan dan Ketahanan Siber

  Oleh: Stanislaus Riyanta Mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik UI   Di era Industri 4.0 saat ini sudah menjadi tuntutan…

Apa itu Simpel?

Oleh: Sigit Reliantoro Sekretaris Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Istilah Simpel adalah berupa Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup. Artinya,  sebuah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…

Akselerasi Industri Halal

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sejak UU No 33 Tahun 2014  tentang Jaminan Produk Halal dilaksanakan mulai 17…

Inflasi

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Harga bawang putih mulai meroket di pekan kedua…