'Jokowi' Dari Bangka

TARMIZI SAAT, BUPATI BANGKA

Sabtu, 28/09/2013

Tarmizi Saat, Bupati Bangka

‘Jokowi’ Dari Sungai Liat

Tak banyak publikasi hingga ke tingkat nasional terhadap sosok Tarmizi Saat. Pada 25 September 2013 lalu, bersama anggota DPRD Kabupaten Bangka Rustamsyah, dia dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Kabupaten Bangka periode 2013-2018 oleh Gubernur Bangka-Belitung Rustam Effendi di gedung DPRD Kab Bangka.

Dalam pemungutan suara pada 26 Juni lalu, dia berhasil mengalahkan incumbent (petahana) Bupati Bangka Yusroni Yazid yang berpasangan dengan Rozali Romkad, juga pasangan anggota DPD RI Noorhari Astuti – Wakil Ketua DPRD Bangka Rendra Basri, dan pasangan independen Abdul Gani – Vendy Andireja.

Hasil rekapitulasi surat suara Pilkada Kabupaten Bangka, pasangan Tarmizi – Rustamsyah berhasil menyabet 40.480 suara, disusul incumbent memperoleh 36.287 suara, pasangan Noer Astuti – Rendra memperoleh 21.394 suara, dan pasangan nomor urut 4 Abdul Gani-Vendy meraup 12.595 suara. Pilkada Kabupaten Bangka itu berjalan mulus, tanpa ada protes dari para calon yang kalah.

Semula, pasangan Tarmizi dan Rustamsyah itu akan dilantik menjadi bupati pada 25 Agustus. Namun ditunda, karena Gubernur Bangka Belitung Eko Maulana Ali meninggal dunia pada 30 Juli karena sakit. Jadi pelantikannya menunggu gubernur pengganti yang ditunjuk Mendagri.

Semula Tarmizi dilamar untuk menjadi pasangan Yusroni dan Noohari. Namun, ayahnya, Haji Saat bin Asir itu melarangnya. Kalau mau maju ke politik, sebaiknya maju sendiri menjadi calon bupati, bukan calon wakil bupati. Kebetulan ada dua partai yang meminangnya agar berpasangan dengan Rustamsyah, yaitu PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera. (PKS).

Apa kelebihan Tarmizi hingga dipinang kedua partai itu? Dan siapa sebetulnya sosok Tarmizi saat itu? Pria bertubuh gempal itu adalah putra asli Desa Kemuja, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, kelahiran 26 Desember 1962. Ketika itu suami Hj Mina itu sedang menduduki jabatan sebagai sekretaris wilayah daerah (sekwilda) Kabupaten Bangka.

Kebiasaannya nongkrong di warung kopi maupun makan bubuk ayam di pinggir jalan itulah yang menyebabkan dia banyak dikenal masyarakat kaki lima. Kebiasaan bersepeda itu terbawa sejak masa SMA dan kuliah di Yogyakarta. “Saya memang biasa jalan-jalan sendiri, kadang jalan kaki atau naik sepeda, lalu mampir di warung kopi sambil ngobrol-ngobrol,” tutur Tarmizi saat mengajak Neraca berjalan keliling kota Sungai Liat hingga ke Pangkal Pinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung, beberapa saat sebelum dilantik.

Yang tak pernah dia tinggalkan adalah kebiasaan azan di masjid. Walaupun sudah menjadi pejabat, kebiasaan itu tak pernah dia lupakan saat ada kesempatan. Kebetulan dia menjadi ketua harian Takmir Masjid Agung Sungai Liat, ibukota Kabupaten Bangka. Kepiawaiannya mengumandangkan azan merupakan bawaan saat masih tinggal di desanya di Kemuja. Bujoi, nama panggilan di masa kecil berada dalam keluarga petani yang taat dalam menjalankan syariat agamanya. Kebetulan, Kemuja dijuluki sebagai desa santri. Gudangnya para alim ulama di Pulau Bangka.

Saat merantau ke Jawa, yaitu di Yogyakarta, Tarmizi tidak hanya sering diminta menjadi bilal, yaitu orang yang mengumandangkan azan sebagai tanda waktu salat. Suaranya yang khas, dia pun sering ditunjuk untuk mengaji, yaitu membaca ayat-ayat suci Alquran. Bahkan sempat menjadi spesialis memandikan jenazah. “Pulangnya membawa berkat (makanan lengkap dengan lauk-pauknya),” ujar pria berkumis tipis ini.

Di Yogya, dia menghabiskan masa remajanya, yaitu untuk meneruskan belajar di SMAN 1 IKIP Yogyakarta dan kuliah. Sebetulnya, cita-citanya adalah menjadi pengacara kondang seperti Adnan Buyung Nasution. Namun keinginan itu kandas, karena selepas lulus SMA pada 1983, dia justru diterima di Fakultas Sastra UGM dan Institut Pertanian (Instiper).

“Saya sempat kuliah di dua tempat, tapi yang UGM itu kandas,” tuturnya. Gelar insinyur pertanian Program Studi Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Instiper itu diraihnya pada 1988. Dia pun sempat bekerja di sejumlah perusahaan di Jawa Timur.

Namun, orang tuanya, pasangan H Saat dan Hj Maimunah, meminta dia pulang untuk membangun negerinya sendiri, Bangka. Karier anak kedua dari tujuh bersaudara itu pun dimulai dari bawah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada 1990 di Kecamatan Mendobarat.

Pelan-pelan, tapi pasti, karirnya sebagai PNS dijalani dengan tekun. Dua tahun kemudian sudah menjadi Kabag Tata Usaha di Dinas Perkebunan Kabupaten Bangka. Lalu menjadi Kabag Penyusunan Program di Setwilda (1996). Tiga tahun kemudian diangkat menjadi kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Tanah selama setahun pada 1999 sebelum akhirnya pindah gedung menjadi kepala Dinas Perkebunan.

Saat menjadi pejabat Kabag Ekonomi Pembangunan di Setwilda Kabupaten Bangka, Tarmizi melanjutkan pendidikan S-2 di Jurusan Manajemen Pemasaran Sekolah Tinggi Manajemen Labora, Jakarta dan lulus dengan gelar MM pada 2001. Selama seahun menjadi asisten Administrasi Setwilda. Sebelum menjadi sekwilda pada 2007, Tarmizi sempat menjabat sebagai kepala Dinas Pendapatan Daerah.

Memimpin PS Bangka

Jabatan di berbagai organisasi dipegangnya. Mula-mula menjadi wakil ketua Yayasan Cendekia Bangka selama 10 tahun. Pernah menjadi kepala Stiper Bangka pada 2003. Lalu menjadi wakil ketua KONI Kabupaten Bangka sejak 2003 hingga 2013. Aktif menjadi ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Bangka. Dia juga masih memimpin Yayasan Masjid Agung Sungailiat dan Yayasan “Bachrul Ulum” Sungailiat,” sampai sebelum menjadi bupati. Namun yang paling berkesan adalah saat Tarmizi memimpin PS Bangka.

“Saya bersyukur bisa membawa PS (Persatuan Sepakbola) Bangka masuk ke divisi utama kompetisi perserikatan PSSI,” kata bapak tiga anak ini. Saat menjadi pejabat di Setwilda, banyak kegiatan dan jabatan organisasi disandangnya. Di antaranya, menjadi pengurus Korps Alumni HMI (Kahmi) Cabang Bangka, ketua Korpri Kabupeten Bangka, juga memimpin PBVSI Bangka.

Sampai Akhir Hayat

Tekadnya membangun kampung halamannya di Bangka sudah bulat. Itu juga sesuai dengan pesan-pesan terakhir mendiang Eko Maulana Ali. Bagi Eko yang dia pikirkan adalah kesejahteraan masyarakat di Bangka Belitung. "Gagasan kita ya untuk anak cucu ke depan bukan hanya kepentingan sekarang," ungkap Tarmizi mengutip pesan terakhir gubernur Bangka Belitung itu.

Seorang sahabat Tarmizi bernama Qodrat, yang kini menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan patungan Jepang di kawasan Cikarang, Bekasi, Jabar, menjuluki rekannya sebagai Jokowi dari Bangka. “Jika prestasinya bagus dan amanah dalam menjalankan tugas, saya yakin, karir politiknya bisa seperti Jokowi, gubernur DKI Jakarta yang berawal sebagai walikota Surakarta,” ujar Qodrat yang satu kampung dan satu SMA itu.

Gerakan Sejuta Lada

Tekad Tarmizi adalah menggerakkan Kabupaten Bangka melalui konsep Bangka Smart. Yaitu upaya mensejahterakan dan mengangkat martabat masyarakat Bangka. Pembangunan yang berhasil haruslah dilakukan dengan mempertimbangkan keberadaan generasi penerus,” kata bapak dari Mita Dewi Annisa, Agum Namoeri, dan Muhammad Parhan Akhdan.

Menurutnya, ada empat program besar yang dicanangkan untuk mengentaskan masyarakat dan membawa kejayaan Bangka. Program itu adalah, pertama, menjadikan sektor pertanian, perkebunan, perikanan.peternakan, dan pariwisata sebagai sektor unggulan daerah Bangka.

Pemanfaatan tata ruang wilayah dibuat berdasarkan unggulan masing-masing. Harapannya, terwujudlah swasembada pangan. Caranya, antardaerah di kabupaten dapat saling menopang dalam pemenuhan kebutuhannya. “Sehingga ketergantungan kepada pangan-pangan impor dapat dihindari. Jika bahan pangan diproduksi sendiri secara otomatis akan dapat membantu menstabilkan harga pangan pada harga yang terjangkau masyarakat,” kata pria yang juga memiliki hektaran lahan karet dan sawit.

Bangka terkenal juga dengan komoditas karet dan lada. “Karena itu kami akan mencanangkan gerakan sejuta pohon karet dan lada setiap tahun,” ujarnya.

Program kedua adalah menjadikan pemerintahan daerah yang profesional, demokratis, akuntabel hingga tercipta pemerintahan yang dipercaya masyarakat. “Saya juga ingin para pejabat di lingkungan Kabupaten Bangka diseleksi dan diangkat secara professional, karena itu saya ingin melibatkan lembaga psikologi dari UI atau UGM,” katanya.

Program ketiga, memberikan jaminan kesehatan dan pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat. Kongkretnya, mendekatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas. Dengan meningkatkan status Puskesmas menjadi Rumah Sakit Pratama. Lalu, menambah jumlah puskemas pada wilayah yang secara geografis jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Dia juga menargetkan tersedianya satu tenaga dokter untuk satu desa.

“Menyelenggarakan wajib belajar 12 tahun secara gratis dan tidak memperkenankan sekolah mengadakan pungutan,” kata dia. Agar pendidikan makin berkualitas, dia menargetkan penambahan jumlah sekolah kejuruan dan meningkatkan sarana pendidikan pada sekolah kejuruan, serta menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi dan tidak mampu sampai universitas,” kata dia.

Program keempat adalah menciptakan wiraswasta-wiraswasta sekala kecil dan menengah. Langkah yang akan ditempuh antara lain memberikan kesempatan pemuda untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan dan keterampilan lainnya. Seterusnya, pengalokasian modal bagi usaha kecil dan menengah. Tiap usaha akan diberi insentif Rp 25 juta – Rp 50 juta dengan bunga rendah. Lalu membebaskan biaya perizinan bagi usaha kecil dan menengah.

Selama ini Pulau Bangka dikenal juga sebagai Pulau Timah. Selain itu, daerah ini juga banyak menghasilkan bahan tambang lainnya seperti bauksit, kuarsa, dan bahan galian C lainnya.

Dalam bidang pertanian daerah ini dikenal sebagai penghasil lada putih (white muntok peper), karet, dan rempah-rempah lainnya. lada putih, dari kawasan ini merupakan komoditi yang memiliki kualitas dan nilai ekonomi tinggi dari lada yang dihasilkan daerah lain di Indonesia bahkan negara-negara penghasil lada lainnya. (saksono)

BIODATA

Nama : Ir. H. Tarmizi Saat, MM.

Tempat Tanggal Lahir : Kemuja (Bangka), 26 Desember 1962

Orang tua : H. Saat bin Asir (ayah)

Hj. Maimunah binti KH. Jemain (ibu)

Istri : Hj. Mina, S.IP.

Anak : 1.Mita Dewi Annisa

2.Agum Namoeri

3.Muhammad Parhan Akhdan

Pendidikan:

SD Negeri di Desa Kemuja SMP Karya di Mentok SMA Negeri I IKIP Yogyakarta Sarjana Pertanian Program Studi Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian STIPER Yogyakarta(lulus tahun 1998) Magister Manajemen Jurusan Manajemen Pemasaran Sekolah Tinggi Manajemen LABORA, Jakarta (LULUS, 2001)

Pengalaman Birokrasi:

1. KCD Ketahanan Pangan Kecamatan Mendobarat Unit Kerja Dinas Pertanian (1990)

2. Pj.Kabag TU Unit Kerja Dinas Perkebunan (1992)

3. Kabag Penyusunan Program Unit Kerja Setwilda (1996)

4. Kepala Dinas Perhutanan dan Komservasi Tanah (1999)

Kepala Dinas Perkebunan Unit Kerja Dinas Perkebunan (2000) Pj. Kabag Ekonomi Pembangunan Unit Kerja Setda Kabupaten Bangka (2001) Pj. Asisten Pemerintahan & Pengembangan Unit Kerja Setda Kabupaten Bangka (2003)

Topik Terkait

Tarmizi saat