Manisnya Untung Bisnis Hewan Kurban

Jelang Iedul Adha

Sabtu, 28/09/2013

Meskipun pemain di sektor ini sudah cukup banyak, tetap saja peluangnya masih terbuka lebar. Apalagi jika melihat pada pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. Cenderung membuat tahun demi tahun jumlah orang yang berkurban terus bertambah.

NERACA

Iedul Adha atau Hari Raya Kurban sebentar lagi akan kita jelang. Sudah bukan rahasia umum lagi jika momen itu banyak dimanfaatkan pedagang hewan kurban untuk mendulang untung besar. Laiknya pedagang pakaian ketika menyambut Hari Raya Iedul Fitri, pedagang hewan kurban pun begitu laris walaupun pemainnya cukup banyak.

Tak mengherankan jika peluang yang ada tersebut banyak dimanfaatkan pedagang hewan kurban baik itu pedagang hewan kurban musiman atau pedagang musiman. Karena, keuntungan yang diperoleh cukup besar.

Seperti Sam’un misalnya, dia mulai minggu lalu sudah mencari posisi untuk membuat kandang sementara di pinggir jalan raya. Tujuannya, agar hewan kurban dagangannya mudah dilihat banyak orang.

“Bagi saya menjual hewan kurban seakan sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun jelang Iedul Adha, bisnis ini sudah saya mulai sejak 10 tahun lalu, dan hasilnya cukup lumayan, buat tambahan uang belanja,” kata Sam’un yang biasanya menjadi seorang karyawan sebuah konveksi di bilangan Sukabumi Selatan.

Ya, bagi pedagang musiman seperi Sam’un mungkin berjualan hewan kurban hanya untuk menambah penghasilan dari pekerjaan utamanya. Tetapi, banyak juga pedagang tetap yang memang hanya mengandalkan jualan hewan kurban sebagai ladang uang mereka.

Biasanya, selain berjualan hewan kurban, mereka juga biasanya mempunyai usaha peternakan heawn kurban macam kambing dan sapi atau kerbau. Lantas bagaimana para pedagang musiman ini memperoleh barang dagangannya.

Investasi Usaha

Biasanya, sebelum Iedul Adha tiba mereka (para pedagang musiman) sudah mencari hewan ternak di daerah-daerah luar kota Jakarta. Biasanya, kata Sam’un, beberapa bulan jelang Iedul Adha dia sudah berburu hewan kurban di daerah Bogor, Sukabumi dan Garut.

“Kalau cocok ya kita angkut, kalau tidak ya cari kita cari lagi di lain titik. Kan di daerah banyak peternak kambing dan kerbau. Tidak susah menemukannya, yang penting ada kemauan saja, “ ujar dia.

Sebelum masuk Jakarta, para penjual musiman ini biasanya sudah melengkapi dokumennya berupa surat kesehatan hewan, sehingga daging yang nanti digunakan untuk berkurban dijamin layak konsumsi dan sehat.

Khusus untuk penjualan kambing, Sam’un mengatakan, meskipun dokumen untuk ternak kambing tidak seketat pengawasan dokumen sapi. Namun, tetap saja, pihaknya harus memperhatikan kesehatan ternak yang dijualnya. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan pembeli. “Jika menjual barang hewan yang tidak berkualitas, nanti pembeli tidak akan datang lagi,” kata dia.

Sementara itu, mengenai harga jual kambing saat ini, dia mengatakan, harganya bervariasi sesuai berat dan ukurannya, sebagai gambaran kambing dewasa berukuran besar rata-rata dijual Rp1,5 juta-Rp2 juta per ekor.

Begitupun dengan hewan kurban lainnya seperti sapi, hewan ini juga dijual bervariasi antara Rp12 juta hingga Rp18 juta. “Ya, keuntungan sih tidak terlalu besar-besar, paling kita dapat untung besih antara Rp200 ribu-Rp400 ribu,” sebut dia.

Ya, pasalnya ada modal yang harus dikeluarkan untuk pembuatan kandang serta pakan hewan kurban. Untuk pembuatan kandang sederhana saja bisa menghabiskan uang jutaan rupiah. Belum untuk pakan ternak biaya yang harus dikeluarkan akan semakin membengkak lagi tentunya.

“Tetapi itu kita akali dengan pemberian makana alami saja, berupa dedaunan yang bisa kita peroleh dari kebun-kebun atau pepohonan di sekitar kita tinggal, paling modal untuk pembuatan kandang saja yang agak besar,” tutup dia.