Emisi Obligasi di Pasar Capai Rp 44,34 Triliun

Kamis, 26/09/2013

NERACA

Jakarta – Kendatipun pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengalami fluktuasi yang sangat tajam, rupanya tidak mempengaruhi pasar obligasi. Pasalnya. PT Bursa Efek Indonesia membukukan total emisi obligasi dan sukuk sebanyak 46 emisi dari 39 emiten senilai Rp44,34 triliun. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (25/9).

Disebutkan, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 235 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp212,79 triliun dan US$100 juta, yang diterbitkan oleh 101 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 99 seri dengan nilai nominal Rp930,85 triliun, sedangkan lima EBA tercatat senilai Rp1,60 triliun.

Jumlah ini bertambah seiring mulai dicatatkannya obligasi berkelanjutan I SAN Finance dengan tingkat bunga tetap tahap I- 2013 yang diterbitkan oleh PT Surya Artha Nusantara di Bursa Efek Indonesia. Obligasi berkelanjutan I SAN Finance tahap I- 2013 dicatatkan dengan nilai total nominal sebesar Rp500 miliar yang terdiri dari seri A dengan nilai nominal Rp109 miliar berjangka waktu 370 hari dan seri B senilai nominal Rp391 miliar dengan jangka waktu 36 bulan.

Aksi korporasi tersebut memperoleh peringkat idAA dari PT Fitch Ratings Indonesia dan IdAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Bertindak sebagai wali amanat dalam emisi ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Sebelumnya, analis obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah bilang, kenaikan inflasi yang lebih tinggi di akhir tahun berimbas pada kinerja pasar obligasi. Salah satunya, permintaan imbal hasil (yield) yang akan terus bergerak naik sehingga penerbit mau tidak mau harus membayar biaya lebih mahal akibat suku bunga (kupon) yang diminta investor mengalami kenaikan signifikan.

Menurutnya, kenaikan yield tidak hanya pada obligasi korporasi, namun juga obligasi pemerintah. “Investor akan meminta kenaikan yield yang diminta pada setiap lelang. Secara historis, untuk seri SPN ada kenaikan 5-10 bps untuk yield yang dimenangkan. Sementara untuk seri FR itu bervariasi mulai dari 30-70 bps.”tuturnya.

Dia menjelaskan, hal tersebut disebabkan investor sudah berekspektasi angka inflasi masih akan mengalami peningkatan, apalagi kemudian BI rate juga naik. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kupon sehingga dapat terserap pasar dengan baik. “Kalau dari sisi demand saat ini belum ada masalah sehingga yang dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kuponnya sehingga tetap menarik.” ucapnya.

Memang, kata dia, dengan adanya kenaikan BI rate investor konservatif akan cenderung memilih untuk memperbanyak porsinya di perbankan karena dinilai risiko lebih kecil dan terukur. Terlebih dengan kondisi pasar yang bergejolak. Namun sebenarnya, sambung dia, ini saatnya investor masuk ke pasar. (bani)