KKP Patok Produksi Udang 700 Ribu Ton di 2014

Geliat Industrialisasi Perikanan Budidaya

Jumat, 27/09/2013

NERACA

Situbondo - Direktorat Jenderal (DItjen) Budidaya Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang pada 2014 mencapai 700.000 ton. Pasalnya, tingkat konsumsi udang dan permintaan ekspor terus meningkat.

Direktur Jenderal Budidaya Perikanan KKP Slamet Soebiakto menyatakan bahwa target produksi udang tersebut meningkat setelah melihat konsumsi udang dalam negeri meningkat dan permintaan ekspor ke luar negeri juga bertambah. Sementara target produksi udang untuk tahun ini mencapai 680.000 ton. Selain itu dia juga menjelaskan bahwa konsumsi ikan tiap tahunnya meningkat 1,9%, sementara pertumbuha produksi stagnan dengan peningkatan yang tidak signifikan.

"Hingga semester pertama tahun ini kita sudah memanen sekitar 320.000 ton udang. Saat ini kita juga tengah mengusahakan pengembangan vaname Nusantara 2, yaitu bibit unggul yang tahan terhadap penyakit mio. Kalau Vaname Nusantara 1 sudah dikembangkan. Selain itu kami juga ingin mengembang biakan induk unggul yang saat ini kita impor dari Hawai dan Florida," jelas dia di Situbondo, Jawa Timur, Rabu (25/9).

Dalam mencapai target tersebut dia menjelaskan beberapa strategi yang akan ditargetkan. Diantaranya memperbanyak induk dan benih unggul, perluasan daerah percontohan (demonstration farm/demfarm) yang saat ini sudah mencapai 400 hektar. Selain itu, semua Vaname Nusantara 1 akan dibesarkan di demfarm. Terakhir adanya perbaikan infrastruktur untuk menjangkau daerah pelosok dan juga irigasi yang akan menarik investor asing untuk berinvestasi di daerah sehingga dapat membangun daerah.

"Hingga saat ini kita memiliki 8 demfarm baru di 8 lokasi diantaranya terletak di Banyuwangi, Situbondo, Sidoarjo . Keseluruhan demfarm baru tersebut luasnya sekitar 120 hektar. Induk unggul yang kita kembangkan juga untuk menghadapi pasar bebas agar kita dapat bersaing dengan negara lain," ujar dia.

Dia juga menyatakan bahwa Situbondo dijadikan pusat benih udang dan ikan nasional. Dengan Provinsi Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar untuk produksi ikan Kerapu sebanyak 80% dan udang 40%. Sisanya 60% didapat dari sejumlah daerah lain. Selain itu, dia juga menjelaskan potensi ikan Mas yang banyak dikonsumsi di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Namun, akibat banyaknya permintaan dibandingkan stok yang ada, harga ikan ini tengah naik.

"Harga ikan sebenarnya memang naik terus, namun naiknya stabil tidak seperti harga daging dan ayam. Sehingga untuk menjaganya kita selalu diskusikan dengan P2HP dan SCI untuk terus mengamati stok dan permintaan. Ini terus dilakukan guna menjaga harga stabil dan tidak ada kekurangan stok," jelas dia.

Selain itu, terkait pelemahan rupiah terhadap dolar AS, dia menyatakan bahwa hal ini menyenangkan bagi pembudidaya. Pasalnya, pendapatan ekspor pembudidaya ikut naik. Sementara untuk pakan yang diimpor dari luar harganya naik, hal ini tidak memberatkan para pembudidaya karena mereka juga menaikan harga jual. Sehingga kondisi rupiah saat ini tidak memberatkan bagi pembudidaya.

Selain melakukan kunjungan kerja, dia juga memberi paket bantuan berbasis kelompok masyarakat kepada Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Syafi'I yang terletak di Sukorejo - Situbondo, Jawa Timur. Paket senilai Rp75 juta tersebut akan direalisasikan untuk memperbaiki lahan budidaya yang dimiliki ponpes. Pasalnya lahan yang dimiliki cukup luas dan dengan bantuan tersebut akan dialihfungsikan untuk budidaya ikan Lele.

"Lele merupakan salah satu komoditas unggulan di perikanan. Selain itu, kita juga meminta 2 mahasiswa perikanan dari ponpes untuk mempelajari pembudidayaan Lele di Depok, sehingga setelah mempelajari budidaya akan diterapkan di sini," ujar dia.

Komoditas Unggulan

Lebih lanjut dia mengatakan, beberapa komoditas unggulan adalah Kerapu, Kakap Putih, Nila, Lele, Gurame, Mas, dan ikan hias. Sehingga dengan mempelajari dan menerapkan budidaya ikan ini, dia berharap mahasiswa dapat menjadi wirausahawan yang berani dan memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Saat memberi kuliah terhadap mahasiswa ponpes, dia juga menjelaskan 3 strategi utama untuk meningkatkan produksi perikanan yaitu pengembangan kawasan budidaya yang salah satunya diwujudkan dalam minapolitan, peningkatan industrialisasi, terakhir basic blue economy.

"Nantinya, ketiga startegi tersebut menerapkan pengembangan komoditas unggulan, penguatan value chain, menciptakan kreativitas dan inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dan kewirausahaan," kata dia.

Sementara itu terkait usaha menambah produksi, melalui UPT Ditjen Budidaya, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBAP) mengembangkan jenis varietas ikan. Salah satunya ikan Kerapu yang menjadi komoditas unggulan dan harganya cukup tinggi. Menurut Koordinator produksi BBAP-Situbondo, SM Naiborhu, beberapa jenis dikembangkan dengan kawin silang seprti jenis Cantang dan Kustang. Ikan hasil budidaya tersebut dikirim ke berbagai wilayah Indonesia seperti Lampung, Manado, Makassar hingga Papua, namun untuk ekspor tergantung permintaan.

"Selain itu ada bentuk pembinaan kerapu untuk masyarakat sekitar. Namun saat ini mereka sudah cukup pintar untuk budidaya sendiri. Kalau ada teknologi atau cara budidaya baru, kita akan edukasi lagi ke masyarakat," jelas dia.

Selain ikan Kerapu, udang juga dibudidayakan dan diteliti untuk mendapatjenis unggul yang tahan terhadap penyakit dan virus. Sementara musim angin menjadi kendala bagi budidaya ikan Kerapu. Karena budidaya yang dilakukan di laut terombang-ambing oleh angin yang membuat para pembudidaya kesulitan menjangkau ikan budidayanya.