Bioteknologi Diyakini Mampu Genjot Produksi Pangan

Sektor Pertanian

Kamis, 26/09/2013

NERACA

Jakarta - Himpunan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) meminta pemerintah menggalakkan penerapan bioteknologi pada pertanian di Indonesia. Aplikasi ini dinilai menjadi salah satu cara yang ampuh untuk meningkatkan produksi pangan nasional dan juga meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketua Umum KTNA Winarno Tohir mengungkapkan bioteknologi menjadi solusi untuk kestabilan pangan nasional karena mampu menghasilkan tanaman yang lebih unggul, hasil lebih banyak dan toleransi terhadap penyakit umum pada tanaman pangan.

Menurut dia, terjadinya ledakan jumlah penduduk, perubahan iklim yang terjadi secara ekstrim serta terjadinya alih fungsi lahan sehingga lahan pertanian semakin sempit menjadi tantangan utama dari ketahanan pangan.

Dia menjelaskan, saat ini terjadi kerusakan pada infrastruktur pertanian sebesar 52% sehingga kenaikan produksi pangan hanya mencapai 0,3% per tahun.

Sementara itu, dengan luas wilayah yang besar, luas lahan panen pangan di Indonesia hanya mencapai 14 juta hektar atau sekitar hanya menghasilkan 5,1 ton pangan per hektare.

"Untuk itu, seluruh anggota KTNA yang tersebar di Indonesia siap untuk menerapkan bioteknologi ini. Kami ingin meningkatkan produksi pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.

Aplikasi bioteknologi ini sendiri telah meningkat dari semula hanya 1,7 hektar pada tahun 1996 menjadi 160 juta hektar pada tahun 2011 lalu, atau terjadi peningkatan sebesar 94 kali. Aplikasi ini juga telah diterapkan pada 29 negara dimana 19 diantaranya merupakan negara-negara berkembang.

Cara Pandang

Sementara itu pengamat pertanian, Khudori memaparkan perubahan budaya atau aspek sosial ternyata merubah cara pandang. Jaman dahulu kala, manusia mencukupi kebutuhan pangan dengan cara berburu. Setelah lewat era itu, kebutuhan pangan diusahakan dengan bercocok tanam. Saat ini perkembangan itu sudah demikian dasyat.

"Teknologi pangan sudah demikian maju. Dari sekian bahan pangan yang dimakan oleh manusia ternyata masih banyak berasal dari muka bumi artinya belum tergantikan oleh produk digital. Dari mulai tanaman di tanam, dirawat, dipanen, dikemas, didistribusikan hingga di meja makan membutuhkan inovasi,"kata dia.

Namun demikian pada era industrialisasi global sekitar abad ke-18, peningkatan bahan pangan yang digenjot habis-habisan ini menyisakan masalah baru. Penggunaan teknologi saat itu masih menyisakan kesedihan kepada perubahan sosial, ekonomi dan ekologi saat ini. Penerapan teknologi pertanian konvensional yang membahana menyebabkan ketergantungan petani menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia.

Pelaksanaan budidaya yang kurang memperhatikan kelangsungan lingkungan hidup. Bahkan hitung-hitungan yang rasional terhadap pembelajaan sarana produksi pertanian tidak dihitung sebagai rugi laba. Pertanian berkelanjutan ini tidak lepas dari pemanfaatan teknologi.

Tiga pilar pertanian berkelanjutan antara lain; dimensi Sosial, dimensi Ekonomi dan dimensi Ekologi. Selain dimensi tersebut penting untuk mengaplikasikan teknologi yang berkaitan langsung dengan bidang pertanian maupun bidang lain. Teknologi ini harus mampu memacu peningkatan nilai tambah (value added), daya saing (competitiveness), dan keuntungan (profit/benefit) produk pertanian.

Organ teknologi yang diperlukan adalah cara budidaya dan bertani secara berkelanjutan dilakukan dengan baik, penanganan hasil panen yang baik, pengolahan/pasca panen dan membangun sistem distribusi yang baik. Indikasi atau ukuran keberhasilan pelaksanaan teknologi tersebut adalah standar terhadap produk pertaniannya.

Produk pertanian yang baik memenuhi kriteria kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Teknologi yang mampu mendaur ulang proses pemanfaatan (zero waste) dan pemanfaatan sumberdaya lokal serta diversifikasi merupakan salah satu bagian dari strategi penguatan teknologi.

Indonesia merupakan negara besar dan memiliki potensi untuk melaksanakan hal ini. Sumberdaya cukup melimpah dan didukung oleh iklim yang kondusif. Peran serta pengambil kebijakan lebih fokus dalam pembangunan bidang pertanian berkelanjutan akan mengenjot gairah perkembangan pertanian berkelanjutan. Pada masanya, produk petani Indonesia mampu menjadi daya saing global.