Masih Ada Ruang Penguatan IHSG

Kamis, 26/09/2013

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 53,646 poin (1,20%) ke level 4.406,767. Sementara Indeks LQ45 anjlok 12,166 poin (1,62%) ke level 737,036. Pelemahan indeks BEI dipicu aksi jual investor asing lebih dari Rp 500 miliar.

Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, IHSG kembali turun cukup dalam seiring dengan aksi jual yang dilakukan investor asing, “Aksi jual asing ini juga terefleksikan dengan kurs nilai tukar rupiah yang melemah, aksi jual investor asing tercatat mencapai Rp640 miliar,”ujar dia di Jakarta, Rabu (25/9).

Dia menambahkan, sementara faktor eksternal yang mempengaruhi indeks regional adalah pemerintah AS yang gagal menyepakati anggaran belanja negara seiring dengan dana anggaran yang hampir mendekati batas. Selain itu ada beberapa data ekonomi AS yang kurang bagus juga menambah sentimen kejatuhan.

Menurut dia, meski belum ada sinyal pembalikan arah pada pergerakan indeks BEI, akan tetapi masih terbuka potensi pembelian untuk jangka pendek seiring dengan penurunan yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir. Indeks BEI Kamis diproyeksikan akan bergerak pada kisaran 4.320--4.450 poin.

Head of Research PT Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan investor kembali mencermati perkembangan kebijakan stimulus AS menyusul perbedaan pernyataan mengenai waktu pelaksanaannya, sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar.

Dia mengemukakan bahwa beberapa kalangan ekonom mengatakan bahwa pemangkasan stimulus the Fed bisa dilakukan pada Oktober 2013, sementara lainnya memperkirakan pada Desember 2013, “Namun kelanjutan stimulus itu bisa jadi akan tergantung kepada ketua The Fed baru, dimana pergantian pimpinan The Fed akan dilakukan setelah 31 Januari 2014," paparnya.

Pada perdagangan kemarin, aksi jual saham dilakukan oleh investor domestik dan asing. Transaksi investor tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 561,75 miliar di seluruh pasar.

Indeks sektor agrikultur jadi satu-satunya yang menguat, sementara sembilan sektor lainnya terjebak di zona merah dipimpin oleh sektor industri dasar. Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 127.168 kali pada volume 3,835 miliar lembar saham senilai Rp 5,357 triliun. Sebanyak 81 saham naik, sisanya 185 saham turun, dan 91 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan mixed cenderung melemah. Hanya bursa Hong Kong yang berhasil menguat. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Astra Agro (AALI) naik Rp 550 ke Rp 19.600, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 250 ke Rp 5.900, Nipress (NIPS) naik Rp 250 ke Rp 9.050, dan Indomobil (IMAS) naik Rp 250 ke Rp 5.450.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 2.200 ke Rp 29.600, Solusi Tunas (SUPR) turun Rp 900 ke Rp 6.800, Indocement (INTP) turun Rp 900 ke Rp 19.100, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 66.500.

Perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 66,699 poin (1,50%) ke level 4.393,714. Sementara Indeks LQ45 anjlok 15,337 poin (2,05%) ke level 733,865. Investor asing memilih untuk keluar lagi dari lantai bursa. Stimulus The Fed yang selama ini memanjakan pasar keuangan dunia masih belum jelas, apakah jadi dikurangi atau tidak. Situasi ekonomi global yang tidak mendukung membuat pelaku pasar kurang bersemangat beli saham. Hampir seluruh indeks sektoral di lantai bursa terkena koreksi, hanya sektor agrikultur yang masih bisa menguat.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 69.018 kali pada volume 2,014 miliar lembar saham senilai Rp 2,572 triliun. Sebanyak 54 saham naik, sisanya 166 saham turun, dan 85 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak mixed, namun dengan kecenderungan menguat. Bursa saham China dan Hong Kong berhasil naik ke zona hijau

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 225 k eRp 4.900, Indomobil (IMAS) naik Rp 200 ke Rp 5.400, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 150 ke Rp 5.800, dan Siloam (SILO) naik Rp 150 ke Rp 10.500. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.900 ke Rp 29.900, Indocement (INTP) turun Rp 950 ke Rp 19.050, Solusi Tunas (SUPR) turun Rp 900 ke Rp 6.800, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 66.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 70,18 poin atau 1,57% menjadi 4.390,24. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 14,41 poin (1,92%) ke level 734,79, “Ketidakpastian mengenai program stimulus the Fed dan pembahasan anggaran pemerintah AS mengenai 'debt ceiling' yang akan berakhir pada 1 Oktober 2013 mendatang menjadi salah satu faktor bursa saham melanjutkan pelemahan," kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 95,65 poin (0,41%) ke level 23.274,69, indeks Nikkei-225 turun 31,39 poin (0,21%) ke level 14.702,35, dan Straits Times melemah 2,50 poin (0,08%) ke posisi 3.211,75. (bani)