Sesal Bonus Demografi

Kamis, 26/09/2013

Oleh : Irvan Rahardjo

Pendiri Kupasi (Komunitas Penulis Asuransi Indonesia)

Indonesia saat ini dalam tahap memasuki era bonus demografi. Suatu kondisi menurunnya proporsi jumlah penduduk usia non produktif dan meningkatnya proporsi jumlah penduduk usia produktif yang dimulai sejak awal tahun 1990-an. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan dampak jangka panjang dari program KB yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1970-an.

Tingginya angka kelahiran pada dekade 60 dan 70-an menyebabkan meningkatnya proporsi penduduk kelompok usia muda mulai pada decade 90-an. Keberhasilan program KB mulai dirasakan pada dekade 80-an ketika terjadi penurunan proporsi penduduk dibawah 15 tahun. Para ahli memperkirakan Indonesia akan menikmati bonus demografi hingga awal tahun 2030-an. Setelah itu, secara perlahan bonus akan hilang dengan semakin besarnya proporsi penduduk usia lanjut.

Diperkirakan pada kurun waktu 2020-2030 Indonesia akan mencapai puncak window of opportunity dimana angka ketergantungan mencapai tingkat terendah .

Menurut Bank Dunia ada empat syarat yang harus dipenuhi agar bonus demografi mendatangkan manfaat peningkatan kesejahteraan masyarakat yaitu angkatan kerja yang produktif dan tidak mengurangi jam kerja, meningkatnya tabungan dan investasi secara bijak dan angkatan kerja yang berpendidikan dan berketrampilan tinggi dan penduduk yang berkualitas.

Para ilmuwan bahkan mengemukakan hadirnya bonus demografi gelombang kedua. Ketika proporsi penduduk usia produktif yang lebih besar telah menghasilkan kemampuan untuk meningkatan tabungan untuk hari tua dan akumulasi aset di tingkat rumah tangga yang pada gilirannya mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Bonus demografi hanya dapat dimanfaatkan dengan baik bila terdapat perhatian terhadap investasi di bidang pendidikan dan sumber daya didukung kebijakan makro ekonomi yang sesuai seperti tersedianya infrastruktur.

Studi di negara negara dalam masa transisi dan Amerika Latin menunjukkan keuntungan yang diperoleh dari bonus demografi jauh dibawah potensi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi (Mason, 2005)

Penetrasi asuransi dan pengeluaran asuransi per kapita Indonesia yang masih sangat rendah masing masing sebesar 1,9% PDB dan US$49,7 dibanding penetrasi asuransi emerging market Asia yang mencapai 3, 7 persen PDB dan pengeluaran asuransi per kapita sebesar 111 dolar AS di tahun 2010, menunjukkan rendahnya tabungan masyarakat.

Hanya 19,6% penduduk Indonesia berusia 15 tahun keatas yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal. Dibandingkan dengan India 35,2%, Malaysia 66,2% dan Thailand 72,7%.

Tarik ulur yang demikian panjang dan melelahkan memberlakukan Sistim Jaminan Sosial Nasional, menunjukkan keengganan menggalang dana jangka panjang untuk memberikan perlindungan dan jaminan sosial bagi seluruh penduduk.

Proporsi angkatan kerja kita saat ini didominasi oleh lulusan SD. Padahal mulai 2015 kita memasuki era AFTA dimana tenaga kerja dari mana pun bebas masuk dan bersaing sesuai kompetensi professional .

Alih alih memanfaatkan bonus demografi, Indonesia akan dirundung sesal berkepanjangan bila kebijakan ekonomi serba impor bahan pangan maupun barang konsumsi terus berlangsung.