OJK Dorong Combine Assurance

NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong industri keuangan untuk melakukan combine assurance atau fungsi assurance terintegrasi. Di dalamnya, terdapat tiga lines of defends. Pertama adalah fungsi manajemen. Kedua fungsi risk manajemen dan quality assurance. Sedangkan yang ketiga adalah internal audit. Fungsi yang ketiga ini yang lebih dititikberatkan OJK untuk terus dipacu.

“Ini penjaga gawang yang ketiga. Kalau line pertama dan kedua bobol, tugas line ketiga yang diharapkan. Tapi kalau penjaga gawang terakhir bobol juga, habis sudah perusahaan itu,” kata Spesialis Madya Bidang Pengendalian Kualitas, OJK, Maskum di Jakarta, Selasa (24/9).

Ketiga komponen ini harus berjalan beriringan dan mempunyai tujuan yang sama agar jalannya perusahaan dapat efisien. “Kita akan kembangkan combine assurance di industri jasa keuangan sehingga industri ini bisa bersaing di pasar global, bisa akuntabel, dan transparana,” kata Maskum.

Maskum mengakui, jika industri jasa keuangan dapat menjalankan combine assurance dengan baik, maka tugas pengawasan OJK menjadi lebih mudah, meskipun bukan itu tujuan OJK mendorong combine assurance teraplikasi di industri.

“Bagaimana supaya perusahaan itu sehat, salah satu pendukung utamanya adalah fungsi internal auditnya. Kalau fungsi internal auditnya sehat, perusahaan jasa keuangannya sehat, dan industri jasa keuangan sehat,” kata Maskum.

Untuk mencapai internal audit yang sehat dan kuat, lanjut Maskum, kepala internal audit ini memegang peranan yang sangat penting. Untuk mendorong internal audit yang kuat, OJK melakukan pendekatan profesi. Kepala internal audit dikumpulkan, lalu didorong untuk menerapkan combine assurance di perusahaannya masing-masing.

“OJK sebagai otoritas yang punya kewenangan sangat besar harus menjamin bahwa fungsi harus berjalan dengan maksimal, efektif. Untuk itu, kita harus yakini aspek governance efektif. Dan governance yang efektif ini kami yakini kalau fungsi assurance-nya terintegrasi,” jelas Maskum.

OJK sendiri sebagai institusi, lanjut Maskum, melakuakn combine assurance. Kemudian OJK berkepentingan melalui regulasi dan pengawasan.

“Kita mau yakini bahwa industri menerapkan hal yang sama, karena praktek ini adalah praktek terbaik yang terjadi secara global. Dan sudah terbukti efektif,” kata dia.

Combine assurance, kata Maskum, adalah best practice yang dilakukan perusahaan-perusahaan terbaik. OJK mendorong dan mengajak menerapkan hal yang sama di institusinya masing-masing. Tentu, aplikasi combine assurance bukanlah proses yang mudah, karena ada aspek manusia, ada aspek sistem, ada aspek regulasi internal yang perlu disesuaikan. Perlu proses.

“Tapi kami yakini combine assurance ini akan dipilih seluruh institusi. Saya yakin semua butuh itu. Karena kalau tidak combine assurance akan terjadi duplikasi. Katakanlah risk manajemen melihat risiko yang A, nanti kualitas melakukan hal yang sama. Audit lakukan hal yang sama. Artinya tidak efisien. Kalau dengan combine assurance ini akan ada koordinasi yang lebih baik,” jelas dia. [iqbal]

BERITA TERKAIT

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Dewan Dorong Pemkot Sukabumi Bangun Gudang Aset

Dewan Dorong Pemkot Sukabumi Bangun Gudang Aset NERACA Sukabumi - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Sukabumi mendukung penuh jika…

Mazda Berpacu Dorong Penjualan, Produk Apa Jadi Andalan?

Distributor Mazda di Indonesia, PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), menargetkan adanya kenaikan penjualan pada tahun 2018 dari target 5.000 unit…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Proyek Kereta Cepat Diperkirakan Rampung 2020

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan waktu pengerjaan…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…