Ada Apa Dengan Bank Muamalat? - INVESTOR RAMAI-RAMAI “TOLAK” AKUISISI

Jakarta – Rencana Penjualan PT Bank Muamalat Tbk hingga saat ini masih tersendat. Pasalnya, sejumlah calon investor yang sebelumnya menyatakan minat mengakuisisi pelopor bank syariah itu ternyata belakangan ramai-ramai mengundurkan diri. Terbukti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, Bank Mega, dan Standard Chartered Bank akhirnya resmi mengundurkan diri.

NERACA

“Kelihatannya ketika dipelajari pada tahap awal tergolong mahal. Kalua nggak salah mereka minta [P/E Ratio] 3,2 kali, normalnya [P/ E ratio] 2 sampai 2,2 kali," ungkap Meneg BUMN Mustafa Abubakar, Minggu (10/7). Menurut dia, alasan harga penawaran yang terlalu tinggi itulah yang membuat BRI tidak lagi berminat melakukan akuisisi.

Pasca mundurnya BRI, praktis tak ada satupun Bank BUMN yang berminat akuisisi Bank Muamalat. Bahkan, minat BRI itupun datang setelah “dipaksa” Mustafa Abubakar. “Tidak ada Bank BUMN yang berminat, hanya BRI saja, itupun karena saya panggil. Mandiri [PT Bank Mandiri Tbk] dan BNI [PT Bank Negara Indonesia Tbk] belum pernah singgung soal pembelian Muamalat," imbuhnya.

Lain lagi alasan Bank Permata. Manajemen bank milik Grup Astra tersebut beralibi, perseroan tidak mampu menanggung risiko pembelian seperti risiko manajemen, risiko bisnis, masalah governance, dan masalah legal. “Tidak sesuai dengan kemampuan kita saat ini," terang Wakil Direktur Utama Bank Permata Herwidayatmo, akhir pekan lalu.

Kurang Menguntungkan

Bank Muamalat saat ini mengendalikan aset sekitar Rp21 triliun. Hingga Mei 2011, aset keseluruhan bank syariah di Indonesia mencapai Rp106 triliun dan diperkirakan meningkat menjadi Rp130 triliun pada akhir tahun ini. Keengganan para investor mengakuisisi Bank Muamalat merupakan perkara janggal. Lebih-lebih para pemegang saham asing, yakni Boubyan Bank Kuwait, Saudi Arabian Atwill Holdings Limited dan Islamic Development Bank (IDB) kini berniat serius melepas saham di Bank Muamalat.

Menurut pihak Bank Indonesia, Saudi Arabian Atwill merasa sudah saatnya untuk melepas Muamalat setelah 7 tahun. Sementara itu, International Development Bank (IDB) yang memegang 32% saham Bank Muamalat akan menekan porsi sahamnya menjadi 15%-17% akibat ketentuan baru perusahaan yang membatasi ekspansi di luar negeri. Ketentuan tersebut memutuskan penguasaan bank di luar negeri tidak boleh lebih dari 20%.

Namun alasan bahwa bank syariah tidak menguntungkan dibenarkan oleh ekonom FEUI Aris Yunanto. Dosen Fakultas Ekonomi UI itu mengungkapkan, di mata para investor, Bank Muamalat tidak dianggap menguntungkan. “Mereka (investor) melihat Bank Muamalat tidak begitu menguntungkan buat mereka, karena Bank Muamalat saat ini harus memberikan proyeksi dan keuntungan yang menarik buat para pembeli saham dan juga Bank Muamalat harus tidak menjual sahamnya terlalu tinggi,” terang Aris.

Pertumbuhan stagnan Bank Muamalat juga dianggap sebagai sebab molornya proses akuisisi bank tersebut. “Pertumbuhan Bank Muamalat tidak terlalu kuat dibandingkan dengan Bank Konvensional seperti bank BCA, bank MEGA, dan sebagainya. Sebenarnya penyebab utama keengganan mereka untuk membeli adalah harga IPO (Initial Public Offering) dari Bank Muamalat ini terlalu tinggi sehingga mereka takut saham mereka di Bank Muamalat tidak terlalu kuat,” imbuh Aris.

Maka, saran Aris, Bank Muamalat seharusnya menurunkan harga IPO-nya sehingga para pembeli tertarik untuk mengakuisisi. Seharusnya harga IPO Bank Muamalat harus diturunkan agar pasar banyak yang membeli saham mereka sehingga unit listing syariah di bursa indonesia ini ramai.

Hal senada diungkapkan guru besar FE Univ.Trisakti Prof. Dr. Sofyan S. Harahap. Dia menjelaskan, berlarut-larutnya akuisisi Bank Muamalat lebih karena persoalan harga. “Kinerja Bank Muamalat sejauh ini sangat baik. Dilihat dari ROI (Return On Investment) dan ROE (Return on Equity) di Bank Muamalat sangat menggiurkan,” ungkapnya.

Beralih Visi

Pakar ekonomi UI Lana Soelistianingsih mengatakan, secara matematis, potensi pasar bank syariah berbanding lurus dengan mayoritas umat Islam di Indonesia yang berjumlah sekitar 85%. Namun, kata Lana, penyerapan nasabah hanya 10% dari total umat Islam Indonesia.

“Nasabah kita tidak terlalu peduli dengan alasan ideologis tentang bunga haram atau fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI). Mereka lebih melihat bunga tinggi dan akses kredit yang praktis dan mudah,” ungkap Lana. Menurut dia, berdasarkan penelitian mahasiswanya, nasabah Bank Muamalat kebanyakan berada di Medan yang mayoritas adalah non-muslim.

Keengganan managemen Bank Muamalat melego ke investor juga dihubungkan dengan potensi perubahan visi bank tersebut. “Ini adalah alasan non-teknis. Kekhawatiran beralih visi dan misi jika dibeli pihak asing yang non muslim bisa jadi alasan utama,” imbuh Lana.

Namun, Sofyan Harahap menggarisbawahi adanya upaya-upaya managemen Bank Muamalat, pemerintah, atau MUI yang memang sengaja menarik-ulur penjualan bank tersebut. “Boleh jadi pemerintah atau MUI bahkan pihak lokal Muamalat yang sengaja mengulur untuk mendapatkan investor yang tepat karena alasan ideologis dan harga yang paling tinggi,” kata Sofyan.

Menurut Ekonom BRI Irianto, faktor mahalnya harga yang ditawarkan menjadi sebab utama terkatung-katungnya penjualan Bank Muamalat. Sebab jika dilihat dari nilai investasinya yang tidak terlalu besar dan peringkat (grade) di pasar perbankan yang terlampau rendah, Muamalat tidak bisa mematok harga tinggi untuk sahamnya.

"Kalau saja pemilik saham Muamalat memberi harga murah atau tidak terlalu tinggi, pasti akan banyak yang mau membelinya. Mungkin karena yang mau melepas ini investor asingnya, jadi mereka mematok harga tinggi untuk mengambil keuntungan," ungkap Irianto melalui telepon selulernya.

Dia juga menambahkan, enggannya para investor membeli saham Muamalat dikarenakan pada jajaran pemegang sahamnya, selain investor asing dengan saham terbesar yang hendak dilepas ada beberapa pemegang saham kecil yang masih mempertahankan sahamnya.

Hal tersebut akan menimbulkan kerumitan tersendiri dan menjadi bahan pertimbangan bagi investor yang akan membeli. "Lagi pula pasar syariah juga tidak terlalu menggeliat, jadi kalaupun ada bank yang tertarik pasti belum memiliki produk syariah. Sedangkan bank yang sudah memiliki produk syariah tidak akan terlalu tertarik. Kita pakai hukum pasar saja lah", ujarnya. iwan/vanya/munib

BERITA TERKAIT

Barito Targetkan Akuisisi Star Energy di 2018 - Siapkan Dana US$ 800 Juta

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama tahun 2018, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menargetkan akuisisi Star Energy Group bisa rampung.…

Strategi TRAM Merambah Bisnis Tambang - Lewat Serangkaian Akuisisi

NERACA Jakarta - Perusahaan jasa pelayaran dan penyelenggaraan angkutan laut PT Trada Maritime Tbk (TRAM) mengubah bisnis utamanya ke sektor…

Sinarmas MSIG Life Luncurkan 4 Produk Bancassurance - Gandeng Bank BJB

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) dan Bank BJB, berkolaborasi meluncurkan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sektor Industri Desak Pemberantasan Spekulan Gas

NERACA Jakarta – Dukungan terhadap pemberantasan praktik calo (trader) pada tata niaga hilir gas bumi terus bergulir, menyusul tingginya harga…

Kemenhub Rombak Aturan Taksi Online - DIBERLAKUKAN MULAI 1 NOVEMBER 2017

Jakarta-Kementerian Perhubungan akhirnya merampungkan rancangan peraturan menteri (PM), yang merupakan revisi dari aturan lama Permenhub No 26/2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan…

Media Asing Soroti Kebijakan Polkam dan Ekonomi RI

NERACA Jakarta - Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan, kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang telah melewati…