Telkom Masih Kaji Keuntungan Lebih Besar

Rencana Lepas Miratel

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta – Rencana PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) untuk melepas anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi (Miratel) rupanya belum final. Pasalnya, perseroan masih mengkaji skema yang paling menguntungkan untuk aksi korporasi melepas saham anak usaha di bidang BTS tersebut, “Kalau untuk Mitratel masih mencari yang memberi value (nilai) yang besar. Ada beberapa cara (melepas Mitratel), yang pertama kita bisa backdoor listing, yang kedua indirect listing dan yang ketiga adalah merger. Dari tiga ini, mana yang memberikan paling tinggi (itu yang dipilih),"kata Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Arif Yahya di Jakarta, Selasa (24/9).

Dia menuturkan, hingga saat ini perseroan belum menentukan tenggat waktu untuk melepaskan Miratel. Sementara itu, kandidat yang paling menonjol sebagai pembeli anak usaha perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut adalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). "Tetapi lihat harga pasarnya dulu, dengan jumlah sekian harga pasarnya berapa, kita harapkan tahun ini," jelasnya.

Sementara pada Juni lalu, perseroan menyatakan sudah ada tiga perusahaan publik yang bergerak di bisnis menara telekomunikasi memasukkan proposal ke Telkom terkait rencana pelepasan anak usaha tersebut. Ketiga perusahaan itu, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Tower Bersama Infastructure Tbk (TBIG) dan PT Solusi Tunas Pratama (SUPR).

Pengamat pasar modal Lucky Bayu Purnomo pernah bilang, keputusan Telkom melepas Miratel adalah keputusan yang tepat. Pasalnya, Telkom sebagai perusahaan yang terus berkembang secara berkesinambungan harus melepas beban anak usaha yang tidak lagi menguntungkan.

Menurutnya, dalam upaya mempercepat tercapainya sasaran perusahaan menjadi leader dan provider terbesar di bisnis telekomunikasi, membuat Mitratel terus melakukan proses pembangunan yang berkesinambungan dan tentunya membutuhkan banyak biaya. “Saat ini Mitratel dipandang memerlukan biaya operasi yang cukup tinggi, dimana hal tersebut dapat menggangu kinerja keuangan Telkom itu sendiri, sehingga saya kira merupakan keputusan yang tepat dan harus segera di realisasikan untuk melepas saham Mitratel,”katanya.

Kata Lucky, jika saham Mitratel dilepas akan menjadi upaya untuk meminimalisir pengeluaran dana operasional perusahaan yang rata rata di ambil dari perusahaan induk. Selain itu, anak usaha yang menyumbang keuntungan dan laba bersih paling tinggi adalam PT Telkomsel dan tidak mungkin dilepas oleh induk usahanya.

Lanjutnya, pelepasan saham Miratel juga untuk menjawab tantangan pasar. Dimana, setiap perusahaan yang akan melakukan berbagai macam proses akuisisi, baik akuisisi asset ataupun akuisisi atas perusahaan yang sejenis tentunya membutuhkan biaya besar. Maka seiring perkembangan zaman dan kemajuan era teknologi dan informasi, para pelaku usaha seharusnya mempertimbangkan aspek keuangan yang dapat mempengaruhi performa perusahaannya sendiri termasuk mitratel. (bani)