Hatta Ingin Tarik Investor Korea Selatan

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa akan berangkat menuju Korea Selatan, Selasa (24/9), untuk mempercepat investasi dari Korea Selatan agar masuk ke Indonesia. “Intinya saya akan percepat investasi kita. Dalam current account defisit (defisit transaksi berjalan) seperti ini, tentu kita harus kuat menarik investasi. Saya terutama ingin Korea sesegera mungkin ke petrokemikal untuk mengurangi defisit kita,” jelas Hatta di Jakarta, kemarin.

Dalam kunjungannya ke Korea Selatan, Hatta berencana akan menemui Presiden Korea Selatan dan akan berbicara di forum bisnis yang melibatkan 400 pengusaha besar Korea Selatan. “Saya akan menyampaikan policy-policy kita. Akan menarik investasi. Dan saya juga akan bicara di parlemennya,” kata Hatta.

Perlu diketahui, defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2013 ini melebar dari US$5,8 miliar pada kuartal I 2013 menjadi US$9,8 miliar pada kuartal II. Jumlah ini setara dengan 4,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara pada kuartal I 2013, defisit transaksi berjalan hanya setara 2,6% PDB. Hatta menilai, penarikan investasi sedikit banyak akan membantu mengurangi defisit transaksi berjalan.

Menteri Keuangan Chatib Basri sebelumnya mengatakan bahwa defisit transaksi berjalan ini masih akan terus berlanjut sampai tahun 2014, tetapi dengan jumlah yang akan terus menurun. Menurut Chatib, bukanlah hal mudah untuk menekan defisit transaksi berjalan. Hal tersebut dikarenakan defisit transaksi perdagangan sudah berlangsung selama tujuh kuartal berturut-turut atau hampir dua tahun.

Chatib menilai, penyelesaian masalah ini bukanlah perkara gampang dan cepat. Sebab, masalah defisit selisih antara perdagangan ekspor dan impor ditambah selisih perdagangan jasa ini sudah berlangsung selama 7 kuartal berturut-turut. Artinya, defisit ini sudah berjalan hampir 2 tahun.

Untuk diketahui, data Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa nilai investasi Korea Selatan di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010, nilai investasi Korea Selatan di sektor manufaktur Indonesia adalah sebesar US$221 juta dengan jumlah proyek sebanyak 220 buah. Pada tahun 2011, nilai investasi dari negeri ginseng ini bernilai US$1,154 miliar dengan jumlah proyek 359 buah. Nilai investasi Korea Selatan meningkat lagi di tahun 2012 menjadi US$1,209 miliar, dengan jumlah proyek 524 buah.

Kementerian Perindustrian mencatat, beberapa sektor manufaktur yang diminati Korea Selatan adalah industri pakaian jadi, industri kemasan, industri komponen elektronik,d an industri kimia. Kebanyakan investasi yang ditanam di Indonesia berlokasi di Pulau Jawa. Hanya sebagian kecil saja yang di luar Jawa.

Tiga perusahaan Korea Selatan yang memiliki nilai investasi paling besar adalah Krakatau Posco, PT. Hankook Tire Indonesia, dan PT. Pacific Place Indonesia. Krakatau Posco bergerak di industri besi baja dan berlokasi di Cilegon, Jawa Barat. PT. Hankook Tire Indonesia bergerak di industri karet dan berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. Sementara PT. Pacific Place Indonesia bergerak di industri jasa, hotel, apartemen, dan pusat belanja.

Salah Kaprah

Direktur Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengatakan langkah Hatta menarik investasi masuk dari Korea Selatan ke Indonesia adalah langkah yang keliru. Dia mengatakan, pada akhirnya nanti Hatta akan menjual proyek-proyek infrastruktur yang akan dijalankan di Indonesia.

“Itu salah kaprah dalam melihat modal luar negeri. Yang mau dijual ke Korea dan lain-lain itu infrastruktur, public goods yang seharusny bisa jadi milestone kita mengembangkan industri. Infrastruktur seharusnya tidak diserahkan ke swasta. Sementara Hatta mau jual ke semua,” kata Daeng.

Menurut Daeng, industri petrokemikal yang direncanakan akan menarik investasi dari Korea Selatan seharusnya dikembangkan oleh orang Indonesia. “Itu industri dasar. Harus dipegang nasional,” kata Daeng. [iqbal]