Telat Audit, Link Net Tunda IPO

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta- PT First Media Tbk (KBLV) memastikan pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) atas anak usahanya, PT Link Net mundur dari rencana semula. Alasannya, laporan keuangan yang digunakan untuk mengantarkan PT Link Net mencatatkan sahamnya telah melewati masa tenggang dari tanggal audit (buku) laporan keuangan yang digunakan. “Awalnya kita pakai buku Maret 2013. Proses selesainya audit agak telat, sesuai peraturan yang ada tidak keburu untuk IPO karena telah berlalu enam bulan.” kata Direktur KBLV, Harianda Noerlan di Jakarta, Selasa (24/9).

Menurut dia, untuk saat ini perseroan belum dapat memastikan pelaksanaan IPO anak usahanya tersebut dan besaran jumlah saham yang akan dilepas. Padahal sebelumnya, pelaksanaan IPO PT Link Net diperkirakan dapat dilaksanakan pada Oktober 2013 dengan target dana yang dibidik sekitar Rp500 miliar. “Yang jelas kita mundur. Kita belum tahu nantinya akan memakai buku apa, bisa Juni, Juli ataupun Oktober. Tahun ini apa tahun depan kita juga belum tahu,” jelasnya.

Dari beberapa anak usaha perseroan, kata dia, Link Net merupakan penyumbang terbesar terhadap pendapatan perseroan. Hingga akhir tahun ini, Link Net menargetkan peningkatan layanan menjadi 36.000 pelanggan di wilayah Kota Surabaya dan Sidoarjo melalui perluasan jaringan kabel hybrid fiber coaxial (HFC).

Sementara itu, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar kemarin, perseroan memutuskan akan melakukan perluasan bisnis dari yang saat ini dijalankan. “Perubahan pasal tiga anggaran dasar kita mengenai bidang usaha. Kita mengantisipasi perkembangan bisnis ke depan sehingga sekarang perlu diperluas di bidang penyedia konten,” jelasnya.

Untuk perluasan bisnis ini sendiri, kata dia, masih dalam tahap persiapan, dan pada tahun depan baru dapat dilaksanakan. Karena itu, dia enggan menyebutkan dana yang dikeluarkan perseroan untuk pengembangan bisnis ini. “Tahun ini persiapan. Investasinya belum bisa kita bilang karena baru diputuskan hari ini,” ucapnya.

Sementara untuk meningkatkan kinerja perseroan, saat ini pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan operator pemegang lisensi daerah Banten, Internux untuk menggarap layanan broadband wireless access (BWA) di area Jabodetabek dan Banten. “Untuk pengembangan BWA saat ini masih dalam proses roll out jaringan.” ujarnya.

Ke depan, sebagai tahap awal, perseroan akan membangun 1500 Base Transceiver Station tower di Jakarta dan selanjutnya akan dikembangkan hingga 3500 tower. Namun, untuk saat baru dalam tahap mengganti jaringan secara fisik, peralatan BTS, dan menyiapkan sistem yang baru.

Lebih lanjut dia mengatakan, First Media dan Internux merupakan dua operator pemegang lisensi untuk layanan jaringan internet nirkabel atau broadband wireless access di area Jabodetabek dan Banten. Untuk kerja sama ini, pihaknya telah menyiapkan US$200 juta yang bersumber dari pendanaan vendor, kas internal, dan pinjaman bank. “Pendanaan dari vendor memiliki porsi lebih besar.” imbuhnya. (lia)