Harga Produk Indonesia Masih Kurang Kompetitif

Terbebani Ongkos Distribusi

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan, produk Indonesia di mata dunia, termasuk di negara-negara ASEAN memiliki kualitas yang sangat bagus bila dibandingkan Thailand dan Vietnam. Sayangnya, kelebihan ini tak dibarengi dengan harga yang kurang kompetitif.

"Dari kualitas, produk Indonesia punya desain yang jauh lebih bagus. Tapi dari sisi harga sangat kurang bersaing, terutama dibanding Thailand dan Vietnam yang memiliki keragaman sama banyak dengan kita," ujar Direktur Jenderal Industri Kelas Menengah Kemenperin, Euis Saedah, di Jakarta, kemarin.

Alasannya, lebih jauh dia menjelaskan, pengusaha bisnis kecil dan menengah selama ini terbebani dengan tingginya ongkos distribusi produk dari satu daerah ke daerah atau negara lain."Biaya transportasi, ongkos energi dan tenaga kerja sudah mahal. Akhirnya produk Indonesia tidak bisa mempunyai daya saing seperti produk luar negeri. Paling yang bisa berdaya saing cuma produk dari Pulau Jawa karena dekat dengan Jakarta," jelasnya.

Di samping itu, Euis mengatakan, pemerintah Indonesia tidak memberikan subsidi langsung kepada UKM, namun bentuk penyaluran subsidi bisa dalam bentuk pembelian mesin-mesin produksi, pelatihan dan sebagainya."Sedangkan pemerintah Thailand dan Vietnam memberikan subsidi berupa modal kerja dalam bentuk pinjaman, sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan usaha," ucapnya.

Padahal dari jumlah IKM saat ini yang mencapai 4 juta usaha, sekitar 25 ribu IKM berpotensi ekspor produk ke pasar luar negeri. Dari total jumlah IKM di Indonesia, sekitar 40% bergerak di industri makanan, 30% berkecimpung di bisnis kerajinan."Selebihnya IKM bergerak di bisnis komponen otomotif, minyak wangi, fashion yang mempunyai nilai tambah cukup besar dibanding usaha lainnya, IKM yang bermain di bisnis teknologi informasi, asesoris otomotif dan sebagainya," tandas Euis.

Sementara itu,Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah mendorong daya saing perekonomian Indonesia."Kalau kita bicara daya saing banyak faktor yang diukur tapi yang paling menonjol adalah kemampuan Iptek kita yang meningkat," ujarnya.

Hatta memberikan apresiasi atas laporan Global Competitiveness terbaru World Economic Forum (WEF) yang menaikkan daya saing Indonesia dari sebelumnya tahun 2012 di peringkat 50, menjadi peringkat 38 pada 2013.

Menurut dia, selain adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia, kenaikan peringkat tersebut menunjukkan adanya kemajuan dari pemerintah dalam mengelola perizinan dan birokrasi di Indonesia."Di situ ada juga hal-hal seperti tata kelola, misalkan bagaimana kita bisa mengelola perizinan. Itu yang membuat doing business di Indonesia membaik," katanya.

Namun, Hatta mengakui peningkatan pelayanan tersebut, juga diikuti oleh peningkatan korupsi yang berarti kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi belum berjalan secara maksimal dan masih memiliki kelemahan struktural."Kita mengedepankan peningkatan belanja pegawai yang harus dikaitkan pelayanan publik sehingga tidak bisa lagi menambah pegawai yang memberatkan APBN, kalau tidak bermuara pada meningkatnya pelayanan publik," katanya.

World Economic Forum mencatat Indonesia saat ini memiliki momentum pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berada pada kisaran 5,2 %. Dalam beberapa dekade terakhir. Hal tersebut yang menyebabkan adanya peningkatan peringkat Indonesia secara signifikan.

Dari 12 pilar yang menjadi ukuran dalam penilaian, Indonesia mengalami kenaikan peringkat dalam 10 indikator, dan yang menunjukkan kinerja paling baik adalah dalam bidang pembangunan infrastruktur, efisiensi di pasar tenaga kerja dan peningkatan pelayanan di institusi publik.

Kemudian, lingkungan makroekonomi Indonesia juga menunjukkan kinerja baik, karena rasio utang terhadap PDB dan laju inflasi relatif terjaga. Selain itu, penggunaan Iptek yang menjadi salah satu indikator penilaian ikut memperlihatkan adanya peningkatan.

Di tempat berbeda, Periset dan Pengajar Competitive Dynamics’ dan Manajemen Stratejik Pascasarjana UI,Martani Husein mengungkapkan emang tidak mudah menata sebuah wilayah yang memiliki visi besar, berdaya saing tinggi, dan akhirnya bisa mendunia. Kasus Kota Detroit dengan kepemilikan ikon kota industri automotif akhirnya runtuh juga. Pemahaman aspek makro dan mikro dunia hingga wilayah perlu dicermati. Hal yang vital di dalam organisasi perlu didalami adalah aspek “PPL”-nya (people, process, dan leverage) yang cukup rumit.