Industri Padat Karya Rawan Praktik Monopoli dan Kartel - Pemodal Besar Kuasai Bisnis dari Hulu hingga Hilir

NERACA

Jakarta - Direktur sekaligus Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menghimbau pemerintah segera membersihkan praktik monopoli maupun kartelisasi di beberapa industri di tanah air. Salah satunya di industri padat karya yang dilakukan oleh industri skala menengah ke atas.

\"Kompetitor industri padat karya tidak selalu padat karya juga. Misalnya industri garmen dan tekstil skala Usaha Kelas Menengah (UKM), pesaingnya justru industri yang punya teknologi tinggi,\" kata dia saat dihubungi Neraca di Jakarta, Selasa (24/9).

Praktik monopoli dan kartel di industri padat karya, menurut Enny, bisa terjadi apabila pemodal besar menguasai jalur perdagangan, distribusi sampai pasar. \"Kalau hal itu terjadi, maka industri padat karya yang masih skala UKM atau tradisional lama-lama akan kolaps. Seperti industri garmen di Pekalongan dan Cirebon yang sedang menggenjot penetrasi besar-besaran,\" paparnya.

Enny berpesan, agar pemerintah dapat menciptakan struktur pasar atau pola tata niaga yang sehat. \"Struktur pasar yang sehat bisa mengeliminir dan menertibkan praktik monopoli dan kartel di industri padat karya, bahkan industri lainnya sehingga industri Indonesia dapat bersaing atau kompetitif,\" tukas Enny.

Sementara itu, salah satu andalan Indonesia dalam persaingan di ASEAN adalah industri tekstil. Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan total populasi di ASEAN kurang lebih sebanyak 600 juta jiwa, sementara Indonesia memiliki 240 juta penduduk. Jika tidak mampu bersaing maka nantinya Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi komunitas ASEAN tersebut. \"Oleh karena itu, tekstil harus kompetitif sehingga bisa mengekspor ke negara lain,\" kata Hidayat.

Hidayat mengatakan, pihaknya juga telah melakukan pembicaraan dengan para pengusaha tekstil Indonesia untuk bisa menyiapkan roadmap atau peta industri tekstil ke depan. \"Memang kekurangan kita adalah di mesin karena mulai dari komponen hingga mesin kita harus impor, dan hal tersebut yang melemahkan daya saing kita,\" kata mantan ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini. Dengan kondisi seperti itu, lanjut Hidayat, maka pemerintah telah memberikan tax holiday untuk investor yang akan berinvestasi mesin di Indonesia.

Dia menyebutkan telah ada beberapa negara yang berminat untuk melakukan investasi, salah satunya perusahaan dari China. Menurut Hidayat, saat ini ada kurang lebih sebanyak 2.900 pabrik tekstil di Indonesia, dan sekitar 500 di antaranya membutuhkan peremajaan mesin beserta komponennya.

Menperin mengatakan, industri tekstil Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kontribusi kebutuhan tektil dunia sebesar 5% dalam waktu 10 tahun ke depan. \"Kontribusi Indonesia untuk kebutuhan tekstil dunia baru 1,8%, saya berharap dalam waktu 10 tahun lagi meningkat menjadi 4 atau 5%,\" kata Hidayat.

Dia mengatakan, Indonesia memang bukan industri tekstil terbesar namun telah masuk dalam jajaran 10 besar di dunia. Bahkan untuk ASEAN saja peringkat Indonesia berada di bawah Vietnam yang menjadi negara dengan industri tekstil terbesar. \"Saya yakin industri tekstil di Indonesia akan meningkat, banyak investor dari China yang melirik untuk melakukan investasi di sini karena mereka memiliki masalah tenaga kerja di sana,\" ujar Hidayat.

Industri Tekstil

Sementara itu, Ketua API Ade Sudrajat mengatakan pihaknya menyambut baik permintaan Menperin MS Hidayat untuk menyiapkan peta industri tekstil Indonesia.\"Yang akan kita siapkan antara lain adalah negaranegara mana yang bisa didekati agar bisa meningkatkan ekspor, dan juga bagaimana kedepannya Indonesia mampu untuk membuat mesin sendiri,\" ujar Ade.

Dia mengatakan, untuk pembuatan mesin sendiri harus didahului dengan industri komponen dan didukung dengan industri motor penggerak dan utamanya sektor-sektor industri ringan. Indonesia merupakan salah satu pemasok tekstil dan produk tekstil (TPT) dan mampu memenuhi 1,8% kebutuhan dunia dengan nilai ekspor mencapai US$ 12,46 miliar atau setara dengan 10,7% dari total ekspor nonmigas.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mempunyai peran penting di dalam perekekonomian. Diawali pada tahun 1970-an industri TPT Indonesia mulai berkembang dengan masuknya investasi dari Jepang di sub-sektor industri hulu (spinning dan man-made fiber making).

Periode 1970 sampai 1985, industri tekstil Indonesia tumbuh lamban serta terbatas dan hanya mampu memenuhi pasar domestik (substitusi impor) dengan segment pasar menengah-rendah.

BERITA TERKAIT

Revolusi Industri 4.0 Untuk Bidik 10 Besar Dunia

NERACA Jakarta – Pemerintah telah menetapkan target Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tahun 2030.…

Kontribusi Sektor Logam Pada Transaksi Online Hingga 70 Persen - Hasil Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) nasional terus didorong agar dapat memanfaatkan fasilitas promosi online melalui platform…

Sejarah Perdamaian Dunia Dimulai dari Singapura

Oleh: Yunianti Jannatun Naim Konflik antara Amerika Serikat dengan Korea Utara yang terus memanas dalam sebulan terakhir akhirnya mereda setelah…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…