Kementan : CPO Indonesia Selalu Dapat Tudingan Miring

NERACA

Jakarta – Salah satu ekspor unggulan Indonesia di non migas yaitu Crude Palm Oil (CPO) karena telah berhasil mengekspor pada Juni 2013 mencapai 1,619 juta ton. Angka tersebut mengalami peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan pada periode yang sama di 2012 yaitu mencapai 1,254 juta ton. Namun, komoditas CPO asal Indonesia selalu mendapatkan tudingan miring atau kampanye hitam dari Lembaga Swadaya Masyarakat atau NGO di dunia internasional.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono menjelaskan salah satu kampanye hitamnya adalah terkait dengan anggapan perkebunan sawit yang dinilai memiskinkan petani. “Indonesia adalah produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia, namun saat ini Indonesia banyak mendapat serangan negatif dari para LSM-LSM di banyak negara,” ujar Hari yang mewakili Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Selasa (24/9).

Ia menjelaskan para LSM menuding perkebunan sawit dan minyak kelapa sawit Indonesia banyak membunuh satwa langka, memiskinkan petani, mengeluarkan polusi udara terutama efek rumah kaca. Menurut dia, akibat kampanye negatif para LSM tersebut membuat beberapa negara khususnya di Eropa mengurangi impor minyak sawit dari Indonesia. “Walau mempengaruhi Eropa untuk mengurangi impornya akibat kampanye tersebut, tetapi China dan India yang selama ini impor terbesar sawit dari Indonesia tidak mengurangi, karena memahami Indonesia terus memperbaiki perkebunan sawit yang berkelanjutan,” katanya.

Saat ini, Indonesia memiliki pedoman perkebunan sawit berkelanjutan dengan menerbitkan sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). “Dengan ISPO tersebut diharapkan kualitas perkebunan dan produksi Palm Oil. Saat ini produksi minyak sawit Indonesia masih 1 juta ton, tapi ke depan dengan produksi berkelanjutan ini produksi dapat ditingkatkan menjadi 3 juta ton,” katanya.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sempat bertemu dengan Pangeran Andrew atau Duke of York dari Inggris. Gita dan Andrew membahas kampanye hitam produk sawit asal Indonesia khususnya di Eropa. \"Saya ketemu Pangeran Andrew, dia datang ke sini dan makan malam juga. Yang kita bicarakan soal kampanye negatif kelapa sawit,\" ungkap Gita.

Gita menceritakan bahwa ia dan Andrew duduk bersama membahas kelanjutan masalah produk sawit. Negara-negara Eropa memang secara terus menerus melakukan kampanye hitam soal produk sawit. Produk sawit dinilai produk yang tidak ramah lingkungan.

Total ekspor per tahun produk sawit Indonesia terutama biodiesel ke dunia rata-rata 1,2 juta ton, 60% diantaranya diekspor ke Eropa. Sedangkan secara keseluruhan total ekspor sawit ke dunia periode satu tahun adalah sebesar 18 juta ton. Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia bersama Malaysia. \"Bagaimana dia mengerti dan duduk permasalahannya dan mendengarkan. Yang pasti dia dengar dulu deh,\" cetusnya.

Ekspor Menurun

Selain kampanye hitam yang harus pemerintah segera luruskan, ekspor CPO asal Indonesia juga mengalami perlambatan. Hal itu lantaran permintaan dari China, India dan beberapa negara tujuan ekspor lainnya. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia mengalami penurunan sebesar 1,64% dibandingkan dengan bulan lalu yaitu dari 1,62 juta ton menjadi 1,59 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengungkapkan, India mengurangi pasokan CPO dan turunannya karena inflasi yang terjadi di negara tersebut dan ada isu pemerintah India akan menaikan pajak impor untuk refined vegetable oils. Pada Juli ini, ekspor CPO dan turunannya ke India tercatat turun 14,3% dibandingkan dengan bulan lalu atau dari 404,52 ribu ton menjadi 346,51 ribu ton. \"Tidak hanya India, penurunan permintaan juga diikuti oleh China,\" kata Fadhil.

Fadhil menuturkan, volume ekspor ke China tercatat turun sebesar 7,75% dari 170,57 ribu ton menjadi 157,34 ribu ton. Penurunan permintaan dari China disebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan banyaknya stok kedelai yang dimiliki China saat ini. “Selain itu keputusan pemerintah China untuk menghapuskan pelarangan impor kedelai dari Brazil turut andil dalam pelemahan permintaan CPO,” ungkap Fadhil.

Sementara itu, di negara berbasis muslim seperti Pakistan dan Bangladesh, permintaan CPO tercatat meningkat cukup signifikan tetapi tidak memberikan dampak kenaikan harga karena dari segi volume. Permintaan negara ini tidak besar jika dibandingkan dengan India dan China. Volume ekspor ke Pakistan pada Juli 2013 tercatat naik 108,6% dari 44,25 ribu ton menjadi 92.30 ribu ton. Sedangkan, ekspor ke Bangladesh tercatat naik 20,64% dari 64,2 ribu ton menjadi 77,45 ribu ton pada Juli 2013. “Kenaikan permintaan dari dua negara ini karena pengaruh hari raya Idul Fitri yang biasanya konsumsi akan pangan lebih meningkat daripada bulan-bulan biasa,” ujar Fadhil.

Adapun, menurut Fadhil, penguatan mata uang Amerika Serikat terhadap mata uang negara Asia masih menjadi salah satu faktor yang meningkatkan permintaan dari \'Negeri Paman Sam\' ini. Volume ekspor CPO dan turunannya ke Amerika Serikat pada selama tiga bulan terakhir terus meningkat. Pada Juli ini tercatat naik 36,5% dibanding bulan lalu atau dari 43,85 ribu ton menjadi 59,87 ribu ton. Sementara, volume ekspor ke negara Uni Eropa tercatat meningkat sebesar 7,87% dibanding bulan lalu atau dari 343,27 ribu ton menjadi 370,29 ribu ton.

Related posts