Cenderung Melemah, IHSG Bergerak Konsolidasi

Rabu, 25/09/2013

NERACA

Jakarta - Seperti sudah diprediksi diawal, pelaku pasar masih melanjutkan aksi jual karena penguatan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin cukup melesat tinggi. Alhasil, aksi lepas investor terhadap perdagangan saham unggulan dan lapis dua memaksa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi tajam 102,444 poin (2,25%) ke level 4.460,413. Sementara Indeks LQ45 ditutup merosot 20,791 poin (2,70%) ke level 749,202. Tak satupun indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bisa menguat. Indeks sektor aneka industri terkena koreksi cukup dahsyat hingga lebih dari lima persen.

Analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan, IHSG masih melanjutkan pelemahan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, “Investor global masih menunggu kabar kebijakan terkait stimulus AS," kata dia di Jakarta, Selasa (24/9).

Selain itu, lanjut dia, posisi anggaran pemerintah AS dan batas utangnya sudah dalam keadaan sulit, ditambah dengan selisih pendapat di pemerintahannya akan menyulitkan terjadi kesepakatan untuk meningkatkan anggaran belanja. Pelaku pasar saham memandang negatif kondisi di AS itu.

Berikutnya, dia memprediksikan indeks BEI Kamis akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Namun di sisi lain, Purwoko melihat masih ada peluang terjadinya 'buy on weakness' terhadap saham yang telah mengalami penurunan besar beberapa hari terakhir ini.

Perdagangan kemarin berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 178.098 kali pada volume 4,832 miliar lembar saham senilai Rp 5,122 triliun. Sebanyak 50 saham naik, sisanya 221 saham turun, dan 71 saham stagnan. Bursa dalam negeri dapat predikat yang jatuh paling dalam di antara bursa-bursa regional. Bursa Asia kompak melemah dengan koreksi yang dangkal, masih kurang dari satu persen.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Chandra Asri (TPIA) naik Rp 300 ke Rp 4.000, Saratoga (SRTG) naik Rp 200 ke Rp 4.700, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 150 ke Rp 10.850, dan Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 150 ke Rp 5.350. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 2.100 ke Rp 37.150, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.700 ke Rp 67.300, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 800 ke Rp 13.200, dan Indocement (INTP) turun Rp 700 ke Rp 20.000.

Pada perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 41,252 poin (0,90%) ke level 4.521,605. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 8,588 poin (1,12%) ke level 761,405. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 92.112 kali pada volume 2,638 miliar lembar saham senilai Rp 2,454 triliun. Sebanyak 70 saham naik, sisanya 164 saham turun, dan 78 saham stagnan.

Bursa-bursa regional akhirnya kompak melemah hingga sesi pertama. Pelaku pasar yang kebingungan gara-gara The Fed memilih untuk keluar sejenak dari lantai bursa. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 300 ke Rp 5.500, Siloam (SILO) naik Rp 250 ke Rp 10.500, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 200 ke Rp 10.900, dan Tiga Raksa (TGKA) naik Rp 100 ke Rp 2.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.400 ke Rp 37.850, Mayora (MYOR) turun Rp 600 ke Rp 31.750, Asahimas (AMFG) turun Rp 400 ke Rp 7.600, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 350 ke Rp 13.650.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 4,31 poin atau 0,31% ke posisi 4.548,55, sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,65 poin (0,47%) ke level 766,34.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG masih memperpanjang laju negatifnya dimana pelaku pasar masih banyak melakukan aksi ambil untung, “Pelaku pasar sedang menanti kebijakan the Fed selanjutnya, dalam kondisi itu dijadikan alasan oleh pelaku pasar untuk mengambil posisi ambil untung," katanya.

Secara teknikal, lanjut dia, indeks BEI masih berpotensi bergerak melemah. Apalagi, laju bursa saham global juga cenderung negatif, kondisi itu menambah IHSG ikut tertekan. Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam risetnya mengemukakan kembali munculnya pengurangan stimulus the Fed kembali mendorong IHSG bergerak cenderung melemah.

Disebutkan, minimnya sentimen positif domestik juga membuat pasar modal Indonesia diselimuti ketidakpastian. Kisaran IHSG Kamis (24/9) diproyeksikan berada dalam 4.530-4.580 poin. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 137,95 poin (0,59%) ke level 23.233,59, indeks Nikkei-225 turun 111,69 poin (0,76%) ke level 14.630,73, dan Straits Times menguat 3,22 poin (0,44%) ke posisi 3.217,47. (bani)