Asumsi Makro RAPBN 2014 Belum Realistis

Penilaian Banggar

Rabu, 25/09/2013
NERACA

Jakarta - Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menilai asumsi makro RAPBN 2014 belum sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Pertumbuhan ekonomi yang dipatok 6% dianggap belum realistis. "Estimasi asumsi ini harus dicari format yang lebih realistis sehingga bikin rancangan tidak meleset terus, itu tidak bener," kata anggota Banggar Ahmad Riski Sadig dalam Rapat Kerja (Raker) di gedung DPR, Jakarta, Senin (23/9).

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Banggar DPR Ahmadi Noor Supit yang belum melihat ada upaya serius dari pemerintah untuk membuat perencanaan dan dan realisasi di RAPBN itu selaras. "Problem dan penyelesaiannya itu harus matching, itu harus didesain dari awal," ujar dia.

Sedangkan Anggota Banggar DPR lainnya yaitu Dolfie OFP meminta pemerintah mewujudkan pertumbuhan ekonomi 6% secara berkualitas sesuai Pasal 38 UU APBN."Di situ ada syarat pertumbuhan berkualitas yaitu mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, mengurangi Gini rasio, meningkatkan nilai tukar petani, dan meningkatkan pendapatan," tandas Dolfie.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa asumsi makro yang disampaikan merupakan perkiraan yang moderat. Tidak terlalu optimistis, juga tidak pesimistis. "Kami kira asumsi ini sudah moderat, jika terlalu pesimis akan berpengaruh pada market," jelas Bambang.

Dia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 akan berada di kisaran 5,9%."Ini seperti sudah disampaikan sebelumnya adalah akibat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia," ungkap dia.

Bambang juga memaparkan, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2013 direvisi turun oleh World Bank menjadi 2,2%. Perkiraan World Bank tentang pertumbuhan Ekonomi Indonesia juga direvisi turun ke 5,9%."IMF juga merevisi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 menjadi 5,3% dari 5,5%," imbuh dia.

Dia pun menjelaskan pada perkiraan inflasi, pemerintah juga pada 2013 akan berada di kisaran 9,2%. Sedangkan untuk rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang 2013 berada di level Rp10.200, naik dari perkiraan APBN-P 2013 yakni Rp10.600.

“Selain itu, International Crude Price (ICP) akan berada pada kisaran harga US$105 per barel dan lifting sendiri ada pada level 834 ribu barel per hari. Sedangkan untuk suku bunga, pemerintah perkirakan ada di kisaran 5,5% pada tahun 2013,” tandas Bambang.

“Berdasarkan asumsi 2013 yang direvisi turun, perkiraan pemerintah untuk 2014. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 6,4%,” tambah dia.

Sedangkan dalam Raker ini, pemerintah dengan Panja Badan Anggaran DPR RI menyepakati asumsi makro sementara RAPBN 2014. Dalam rapat tersebut, pemerintah dan Banggar menyepakati empat asumsi makro dasar, yaitu pertumbuhan ekonomi 2014 sebesar 6%, inflasi sebesar 5,5%, nilai tukar rupiah sebesar Rp10.500 per dolar Amerika Serikat, dan tingkat bunga tiga bulan sebesar 5,5%.

Sebelumnya, pada Pidato Kenegaraan tanggal 16 Agustus 2013 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merincikan asumsi makro ekonomi RAPBN 2014 sebagai berikut; pertumbuhan ekonomi 6, 4%, inflasi 4,5% , rupiah 9.750/US$ dan SPN Tiga Bulan 5,5%.

Sedangkan ICP mencapai USD106/barel, lifting minyak 870 ribu barel per hari dan lifting gas sebesar 1,24 juta barel per hari setara minyak. Rapat Komisi VII DPR sudah memutuskan, harga ICP di kisaran US$100-USD115/barel, lifting minyak 870 ribu barel per hari dan lifting gas sebesar 1,24 juta barel per hari setara minyak. [mohar]