Penundaan Tapering Off Momen Baik Investasi

Selasa, 24/09/2013

NERACA

Jakarta - Kebijakan The Fed yang menunda tapering off dinilai sebagai kesempatan tepat untuk memperbaiki kesehatan fundamental ekonomi dalam negeri. Pasalnya, The Fed pada akhirnya tetap akan mengambil langkah tersebut untuk waktu yang belum diketahui. Sehingga diperlukan langkah-langkah bijak untuk mendorong pertumbuhan investasi.

“Kami melihat awalnya pasar kaget dengan penundaan tapering off. Tapi akhirnya semua sadar bahwa hal itu memang tidak akan permanen. Suatu saat akan dicabut juga. Jadi kalau memang sudah akan dicabut lebih baik kita bersiap-siap diri,” kata Wakil Menteri Keuangan sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Mahendra Siregar, di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, fokus utama memperbaiki ekonomi dalam negeri dengan memperhatikan kesehatan keuangan perbankan. Selain itu juga perlu adanya perhatian terhadap dampak yang terjadi pada pasar obligasi. Serta terus berkomitmen untuk menjaga momentum pertumbuhan. Karena pada dasarnya kepercayaan para investor terhadap kesehatan ekonomi dalam negeri merupakan hal yang paling penting.

“Jadi letak persoalannya bukan pada tapering off. Saya rasa pesan atau sinyal itu sudah ditangkap baik oleh kita semuanya. Sehingga kita tinggal menjawabnya dengan langkah-langkah konkrit,” tutur Mahendra. Lalu dirinya mengaku target investasi pada tahun ini tetap dikisaran Rp390 triliun. Dia juga optimistis pada akhir tahun target itu dapat tercapai. Sebab hingga kuartal III 2013, pertumbuhan investasi sudah mendekati target tersebut.

“Saya rasa kalau angka itu mestinya bisa tercapai. Hanya memang sejalan dgn penyesuaian pertumbuhan ekonomi tahun depan harus dilihat lagi apakah angka yangg sudah disebut-sebut sebagai target investasi tahun depan itu masih bisa dicapai. Atau memang ada penyesuaian atau bagaimana. Sebab kita harus lihat lagi respon dari berbagai pihak. Jangan kita tidak menyesuaikan angka-angka itu. Nanti malah menimbulkan pertanyaan sendiri,” tambahnya.

Sementara pertumbuhan ekonomi dalam negeri hingga akhir 2013 diakui Mahendra tidak akan mencapai target 6%. Bahkan pada tahun 2014 nanti akan melambat pada angka yang sama. Dia mengaku pandangan ini merupakan penilaian yang proporsional. Agar pertumbuhan itu sendiri dapat sesuai dengan angka pertumbuhan konsumsi dan investasi.

“Sebetulnya pertumbuhan ekonomi hanya penyesuain dari perngaruh dan saling mempengaruhi antara tingkat konsumsi dan investasi. Tapi selama angka keduanya konsisten, saya lihat tidak ada gap dari ekspektasi di tingkat pertumbuhan dan di tingkat konsumsi maupun investasi,” jelas Mahendra.

Peran konkrit

Selain itu Mahendra menegaskan pemerintah sudah ambil peran konkrit untuk mendorong pertumbuhan investasi yaitu melalui Undang-undang (UU) Pph Pasal 21 dan 25 yang maksudnya untuk memberikan ruang lebih besar kepada perusahaan untuk aspek arus kasnya. Dengan begitu ia menilai para investor bisa lebih fleksibel dalam mengatur arus kasnya. Karena tidak harus terikat kewajiban pajak sebesar peraturan sebelumnya.

Kalau untuk investasi tidak sepenuhnya dicukupi oleh kebijakan itu. Mahendra mengatakan kebijakan tersebut lebih untuk menjaga keberlangsungan operasi perusahaan terutama padat karya. Karena pemerintah berkeinginan untuk menjaga daya tahan dan daya beli terkait dengan karyawan padat karya. “Jadi bukan untuk ekspansi investasi sebenarnya. Kalau mau ada pertumbuhan investasi yang sebenarnya memang mustinya ada kebijakan yang lain-lain lagi,” tutur Mahendra.

Kemudian terkait palfon utang di Amerika Serikat (AS) Mahendra mengatakan secara internasional pasti akan ada pengaruhnya terhadap kondisi keuangan global. Untuk itu ia menekankan semua pihak harus menjaha stabilitas di sektor keuangan dan fokus kepad reformasi sektor riil. “Saya rasa itu saja yang perlu ditekankan. Sebab kalau kita terlalu khawatir terhadap langkah-langkah pihak lain di dunia internasional, nanti kita malah tidak fokus terhadap prioritas utama kita,” tandasnya. [lulus]