Analis: Indeks Saham Belum Kokoh

Sentimen Negatif Masih Deras

Selasa, 24/09/2013

NERACA

Jakarta- Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpotensi tertekan aksi jual pasca rilisnya keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) menunda untuk melakukan pengetatan ekonomi. Di samping masih terimbas sentimen global, saat ini pelaku pasar masih fokus pada perkembangan kondisi perekonomian Indonesia sendiri, “Diperkirakan investor kembali fokus atas kelanjutan kondisi ekonomi dalam negeri, dan bagaimana hasil laporan keuangan kuartal ketiga 2013.” Kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Senin (23/9).

Menurut dia, selain sentimen tersebut, dari luar negeri sendiri setelah hiruk-pikuk drama taperring off berakhir dengan anti klimaks, dua persoalan pokok yang cukup besar yang sedang ditunggu pelaku pasar minggu ini adalah bagaimana hasil resmi pemilu di Jerman dan debt ceiling anggaran AS. “Diperkirakan pertarungan partai politik akan semakin menghangat diakhir pembicaraan tanggal 30 September untuk menggolkan resolusi pendanan anggaran pemerintah AS, di mana itu artinya akan menaikkan volatility market,” jelasnya.

Tidak heran, pada perdagangan Senin (23/9), IHSG masih tertekan aksi jual dengan penutupan di level 4.562,85 setelah melemah 0,4% atau 20,9 poin. Indeks LQ45 turun 0,5%, indeks JII melemah 0,4%, indeks ISSI melemah 0,5%. Sedangkan indeks SMinfra18 lebih rendah 0,7% dan IDX30 melemah 0,4%. Sementara di sisi sektoral, saham sektor properti mengalami penurunan terdalam hingga 2,03% disusul saham sektor infrastruktur 0,8%.

Selain itu, sambung dia, data ekonomi AS serta rangkaian pidato beberapa gubernur The Fed yang akan dirilis sepanjang minggu ini cukup berat, seperti akan diumumkannya data Chicago Fed activity index, PMI manufacturing index flash, Fed's Lockhart speaks pada Senin. Selanjutnya, pidato pengumuman Fed's Pianalto speaks, FHFA home price index, S&P Case-Shiller index, consumer confidence, Richmond Fed mfg index, Fed's George speaks pada Selasa.

Pengumuman data durable goods orders, new home sales pada Rabu. Data GDP, jobless claims, pending home sales, Fed Kocherlakota speaks pada Kamis, dan data Fed's Evans speaks, personal income & outlays, consumer sentiment, Fed's Dudley speaks di akhir pekan ini.

Sementara itu, Kepala Riset Trust Securites, Reza Priyambada mengatakan, IHSG akan bergerak variatif cenderung melemah pada pekan ini akibat aksi ambil untung (profit taking) dari investor. Mengingat, kondisi internal dan luar negeri yang belum stabil dan masih dibayangi sentimen negatif. Oleh karena itu, diharapkan rilis data-data manufaktur global dan laju rupiah dapat lebih stabil sehingga mampu menahan laju pelemahan IHSG. “Cermati sektor konsumer, perdagangan, infrastruktur, dan Industri dasar.” ujarnya.

Dia memperkirakan, pada pekan ini IHSG akan berada pada rentang Support 4325-4450 dan Resistance 4664-4798. Pola IHSG sendiri, kata dia, membentuk pola menyerupai shooting star di bawah middle bollinger bands. MACD sedikit menurun dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba naik dari area oversold. “IHSG mampu menjauhi target support (3995-4182), bahkan mampu melampaui target resisten (4465-4500). Secara teknikal masih ada harapan untuk melanjutkan kenaikannya, namun adanya keinginan investor untuk melakukan profitisasi dapat memperlambat laju IHSG,” jelasnya. (lia)