Seret Sentimen Positif, IHSG Kembali Terkoreksi

Selasa, 24/09/2013

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan ditutup melemah sepanjang perdagangan. Aksi jual saham-saham unggulan membuat indeks tak bisa bergerak positif, “IHSG masih melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan. Melemahnya indeks BEI terimbas dari faktor eksternal dimana kekhawatiran akan pengurangan stimulus kembali muncul setelah sebelumnya pasar sempat 'rally' karena diundurnya pengurangan stimulus," kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono di Jakarta, Senin (23/9).

Dia menuturkan, salah satu pejabat the Fed mengatakan kemungkinan pengurangan stimulus akan dilakukan bulan depan, yaitu pada pertemuan the Fed 29-30 Oktober mendatang. Maka dengan demikian, indeks BEI diperkirakan masih akan mendapat tekanan.

Sementara itu, Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan, secara teknikal indeks BEI kembali berada di area tren penurunan meski untuk jangka pendek, “Rekomendasu kepada pelaku pasar untuk melakukan transaksi saham 'buy on weakness' bila sudah mencapai kondisi jenuh jual atau oversold," kata dia.

Tercatat perdagangan Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 20,971 poin (0,46%) ke level 4.562,857. Sementara Indeks LQ45 melemah 3,941 poin (0,51%) ke level 769,993. Transaksi investor asing melakukan pembelian bersih senilai Rp 47,49 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 121.891 kali pada volume 4,237 miliar lembar saham senilai Rp 4,118 triliun. Sebanyak 62 saham naik, sisanya 166 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Bursa Jepang tidak berdagang menyambut libur nasional, perdagangan dilanjutkan Selasa. Sedangkan bursa Hong Kong sempat dihentikan sementara gara-gara ada angin topan, perdagangan dilanjutkan pada pukul 13.00 waktu setempat. Bursa-bursa Asia lainnya masih bergerak mixed hingga akhir perdagangan. Bursa China menguat paling tinggi dengan lonjakan lebih dari satu persen.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Inti Bangun (IBST) naik Rp 650 ke Rp 6.400, Charoen (CPIN) naik Rp 275 ke Rp 3.825, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 250 ke Rp 15.300, dan Bank Mega (MEGA) naik Rp 225 ke Rp 2.225.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 39.250, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 500 ke Rp 32.000, Saratoga (SRTG) turun Rp 250 ke Rp 4.500, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 250 ke Rp 10.700.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 50,395 poin (1,10%) ke level 4.533,433. Sementara Indeks LQ45 anjlok 11,059 poin (1,43%) ke level 762,875. Hampir semua indeks sektoral di lantai bursa kena koreksi, kecuali sektor industri dasar. Investor asing belum bergerak lincah di sesi pertama dan cenderung wait and see.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 69.289 kali pada volume 2,231 miliar lembar saham senilai Rp 2,043 triliun. Sebanyak 62 saham naik, sisanya 166 saham turun, dan 74 saham stagnan. Bursa-bursa Asia lainnya masih bergerak mixed pada sesi pertama.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Siloam (SILO) naik Rp 400 ke Rp 10.600, Bayan (BYAN) naik Rp 300 ke Rp 8.500, Inti Bangun (IBST) naik Rp 250 ke Rp 6.000, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 250 ke Rp 19.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.050 ke Rp 38.750, Unilever (UNVR) turun Rp 450 ke Rp 31.550, Matahari (LPPF) turun Rp 400 ke Rp 11.700, dan SMART (SMAR) turun Rp 250 ke Rp 6.650.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 57,03 poin atau 1,24% menjadi 4.526,80 mengikuti bursa saham di kawasan Asia. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 13,33 poin (1,72%) ke level 760,60, “Bursa Asia, termasuk indeks BEI dibuka melemah memfaktorkan koreksi di bursa AS pada akhir pekan lalu," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia mengemukakan, sentimen negatif datang dari AS menyusul pelaku pasar yang kembali mengantisipasi kenaikan batas atas utang (debt ceiling) AS. Selain itu, pasar juga sedang mengantisipasi data manufaktur China yang akan dirilis pada awal pekan ini. Head of Research PT Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan "debt ceiling" AS bisa menjadi ancaman baru bagi pasar, karena khawatir AS "default". Faktor tersebut hanya sebagai sinyal yang patut diwaspadai oleh pelaku pasar.

Lanjutnya, diharapkan dampak penundaan stimulus keuangan the Fed dapat membuka peluang kembalinya dana asing ke pasar modal Indonesia. Sikap Gubernur The Fed Ben Bernanke juga mengisyaratkan potensi kenaikan suku bungannya diundur hingga 2016.

Sebagai informasi, bursa regional diantaranya indeks Shanghai Composite dibuka menguat 21,26 poin (0,97%) ke level 2.213,12, indeks Nikkei-225 turun 23,76 poin (0,16%) ke level 14.742,42, dan Straits Times melemah 19,79 poin (0,61%) ke posisi 3.218,29. (bani)