Hilangnya Jejak Kehidupan Masa Silam Kota Lampung

Tak Cetak Manuskrip Kuno

Sabtu, 28/09/2013

Paling tidak sebanyak 400 naskah kuno Lampung tersimpan di museum-museum di luar negeri. Dari inventarisasi koleksi dan dari penelusuran mengenai naskah-naskah kuno Lampung di luar negeri, diketahui naskah kuno Lampung tersimpan di 20 perpustakaan milik museum atau lembaga penelitian di luar negeri.

Salah satunya adalah kamus kuno bahasa Lampung karya Herman Neubronner Van Ver Tuuk yang saat ini disimpan di Universitas Leiden, Belanda. Di Indonesia, manuskrip kamus bahasa Lampung tidak sempat dicetak. Tak ayal, hal itu menyulitkan bagi para peneliti yang hendak melakukan pengkajian tentang budaya dan kehidupan Lampung masa lalu.

Terkait hal tersebut, sejumlah budayawan Lampung mendesak pemerintah daerah memperjuangkan pengembalian kamus kuno bahasa Lampung karya Van Der Tuuk. Pasalnya, sebagai peneliti sekaligus linguis, pria Belanda yang juga adalah orang pertama yang membuat kamus Batak, dan kamus bahasa Bali yang tebalnya sekitar 3.600 halaman itu banyak berjasa dalam mencatat sejarah bahasa Lampung.

"Kamus kuno bahasa Lampung merupakan salah satu karya penting Van Der Tuuk dan merupakan aset budaya yang nilainya sangat tidak ternilai, namun ketiadaaan duplikatnya di Indonesia menyebabkan kita kehilangan jejak sejarah," kata budayawan Oyos Saroso HN

Oyos menjelaskan, upaya melacak kamus kuno bahasa Lampung karya Van Der Tuuk itu harus langsung dilakukan melalui komunikasi antara pemerintah Indonesia-Belanda melalui kerjasama bilateral, bukan oleh perorangan, karena menyangkut hak cipta dan kekayaan intelektual yang pengesahan dan legalitas hukumnya dipegang langsung oleh Belanda.

Sementara itu, peneliti yang intens melakukan penelitian tentang Van Der Tuuk dan karyanya, Arman AZ,menceritakan kamus kuno bahasa Lampung tersebut setebal hampir 600 halaman dan dibuat saat Van der Tuuk berada di Lampung selama 1868-1869.

“Ternyata dari kamus tersebut diketahui banyak ungkapan Lampung kuno yang sudah punah dan banyak tidak digunakan lagi saat ini,” tutur dia.