Pelambatan ULN Dinilai Tak Signifikan

Senin, 23/09/2013

NERACA

Jakarta - EkonomUniversitas Gadjah Mada, Sri Adiningsih, berpendapat terkait melambatnya Utang Luar Negeri (ULN) per Juli 2013 merupakan sesuatu yang tidak mencengangkan. “Karena ULN nya itu turun tapi tidak signifikan, hanya sekitar 0,7%. Itu karena utang-utang baru tidak dibuat pencatatannya,” ujar Sri kepada Neraca, Minggu (22/9).

Menurut dia, banyak pemberi utang yang takut kasih pinjaman. Karena dengan kondisi ekonomi Indonesia seperti sekarang ini, banyak negara justru takut memberi utang. Sri juga menjelaskan, ULN juga mempengaruhi terhadap rupiah, karena utang yang jatuh tempo. “Karena jatuh tempo tersebut akan membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah, seperti kemarin banyak utang swasta yang jatuh tempo akan menekan rupiah juga,” katanya.

Sebelumnya, BI mencatatkan pertumbuhan ULN Indonesia 7,3% year on year (yoy) pada bulan Juli tahun ini, sehingga posisi nya berada dikisaran US$259,54 miliar. Ini melambat jika dibandingkan dengan Juni lalu yang sebesar 8,0% yoy. Direktur Departemen Komunikasi BI, Peter Jacobs, mengatakan berdasarkan jangka waktu pinjaman, komposisi ULN ini lebih banyak di dominasi oleh ULN jangka panjang, yakni sebesar 82,3% dari total keseluruhan ULN, sedangkan sisanya merupakan ULN jangka pendek.

“Dari sisi komposisi valuta, ULN Indonesia sebagian besar bervaluta US$ sebanyak 68,2% sedangkan jenis valuta JPY mencapai 12,5% dan sisanya terdiri dari berbagai jenis valuta,” ujar Peter di Jakarta, pekan lalu. Perlambatan ini, menurut Peter, utamanya disebabkan oleh melambatnyya ULN swasta pada akhir Juli 2013 yang tumbuh sekitar 9,5% yoy, dibanding Juni sebesar 11%, sehingga pada akhir Juli tercatat sebesar US$133,94 miliar. “Sementara itu, ULN Publik tumbuh 5,1% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan Juni 2013 sebesar 4,9% (yoy), sehingga pada akhir Juli 2013 tercatat sebesar US$125,60 miliar,” tambah Peter.

Sedangkan, jika berdasarkan jangka waktu, Peter menjelaskan, perlambatan ULN swasta dipengaruhi pertumbuhan ULN swasta jangka pendek yang menurun dari 6,7% (yoy) pada Juni 2013 menjadi 4,0% (yoy) sehingga tercatat US$38,5 miliar pada Juli 2013. Posisi ULN swasta jangka pendek pada Juli 2013 tersebut lebih rendah dibandingkan posisi Juni 2013 sebesar US$39,59 miliar.

Lalu, berdasarkan kelompok peminjam, ULN Swasta lebih banyak dilakukan oleh korporasi nonbank yaitu mencapai US$111,6 miliar atau 83,3% dari total ULN swasta, sedangkan sisanya US$22,3 miliar merupakan ULN bank. “Berdasarkan kelompok krediturnya, ULN korporasi nonbank sebagian berasal dari perusahaan induk dan afiliasinya yang pada akhir Juli 2013 mencapai US$33,4 miliar. Sementara itu, ULN bank yang berasal dari perusahaan induk dan afiliasinya mencapai US$7,9 miliar,” imbuh Peter.

Berdasarkan jangka waktunya, ULN korporasi nonbank didominasi ULN jangka panjang yaitu mencapai 78,6% dari total ULN korporasi non bank. Sementara itu, ULN bank umumnya jangka pendek yaitu 65,7% dari ULN bank, yang sebagian besar berbentuk pembiayaan perdagangan internasional (Bankers’ Acceptance). Komposisi ULN yang didominasi ULN jangka panjang tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah yang berasal dari permintaan US dollar untuk pembayaran ULN tidak terlalu besar.

Bank Indonesia memandang perkembangan ULN Indonesia tersebut masih cukup sehat dan berkesinambungan. Perlambatan pertumbuhan ULN Indonesia, khususnya ULN Swasta, sejalan dengan tren perlambatan ekonomi nasional. Bank Indonesia akan terus memonitor perkembangan ULN Indonesia tersebut sehingga tetap dapat mendukung upaya menjaga ketahanan sektor eksternal. [sylke]