Pasar Modal Makin Tidak Bergairah

REAKSI PASAR PASCA SENTIMEN THE FED

Senin, 23/09/2013

NERACA

Jakarta - Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menunda pengurangan stimulus, direspon positif oleh pelaku pasar modal untuk melakukan aksi beli terhadap saham-saham yang sudah terdiskon, meski pada akhir perdagangan akhir pekan lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 86,905 poin (1,86%) ke level 4.583,828.

Menurut analis PT Buana Capital, Alfred Nainggolan, penundaan pengurangan stimulus atau pengetatan ekonomi (tapering off) tersebut tidak serta merta membuat pasar bergairah dan IHSG bergerak ke arah tren positif.

“Pertumbuhan setelah adanya keputusan tersebut hanya karena over reactive dari pelaku pasar. Ke depan, fluktuasinya masih sangat kuat. Terlebih dengan adanya masalah internal terkait defisit neraca perdagangan sehingga koreksi yang terjadi akhir pekan kemarin sebenarnya wajar. Untuk perdagangan besok masih akan mengalami koreksi , dan sarannya bagi trader keuntungan 4-5% bisa diambil, “tuturnya di Jakarta kemarin.

Meski demikian, dia meyakini, AS akan mengambil kebijakan konservatif untuk mulai mengurangi stimulusnya di tahun ini karena dapat mempengaruhi bursa saham global dan menimbulkan kontraksi di pasar. Tidak terkecuali bagi negaranya yang termasuk masih rentan.

Menurut dia, pengetatan ekonomi Amerika Serikat merupakan sentimen yang dalam jangka pendek dapat memberikan kejutan di pasar modal Indonesia. Pasalnya, untuk saat ini belum ada dana masuk yang dapat menggantikan besarnya quantitative easing (QE). “Tidak ada yang dapat menggantikan QE 3, di mana saat masuknya QE di 2009-2012 dapat memicu pertumbuhan Indeks dari level 2.000 ke level 5.000. Itu artinya dananya sangat besar sekali,”ujarnya.

Adanya pengetatan ekonomi yang dilakukan AS, sambung dia, tentu akan memicu keluarnya dana-dana asing di pasar modal (capital outflow), meskipun untuk saat ini masih dalam penundaan. Tak ayal, hal ini akan menekan laju IHSG dan memangkas kapitalisasi di pasar. “Adanya tapering off berarti likuiditas di pasar akan berkurang. Kapitalisasi di pasar dari Rp4.400 triliun menjadi Rp 4.000 triliun.” ucapnya.

Menurut dia, dibanding dana yang keluar, pasar Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menarik kembali masuknya dana-dana dari para investor asing (capital inflow).“Ekonomi kita masih bisa tumbuh mendekati 6%. Dan dengan adanya ancaman penundaan, seharusnya kalaupun dicabut dampaknya tidak terlalu besar lagi.” ujarnya.

Untuk saat ini, dia pun menyarankan agar pelaku pasar fokus pada pertumbuhan kinerja atau fundamental emiten. Selain ekonomi yang masih akan tumbuh, pasar saham masih menjadi tempat investasi yang menarik untuk jangka panjang dan akan bertumbuh positif ke depan. Dengan catatan, pihak otoritas terus menggenjot jumlah investor dan emiten yang benar-benar bisa masuk ke pasar.

Kembali Terkoreksi

Sementara analis pasar modal dari Dana Reksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo menuturkan, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan ini akan berpotensi melemah karena menunggu rapat FOMC yang akan dilaksanakan pada 30 Oktober mendatang. Menurut dia, pada 30 Okt. 2013 nanti kemungkinan terbesar penarikan stimulus akan direalisasikan.

“Dengan jeda yang cukup panjang tersebut, justru membuat pelaku pasar panik karena kondisi pasar diselimuti ketidakpastian. Karena dengan penundaan penarikan stimulus The Fed justru mencerminkan kondisi perekonomian global sedang tidak stabil termasuk Amerika. Dampaknya, negara Asia yang banyak melakukan ekspor-impor dengan Amerika merasakan ketidak stabilan tersebut, termasuk Indonesia”, jelas dia kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Sehingga, profit taking menjadi sikap tepat hingga menunggu hasil rapat tersebut. Dia juga menambahkan bahwa trading harian dalam jangka pendek menjadi pilihan yang tepat menunggu keputusan The Fed. Karena dia menyatakan bahwa ditengah kondisi yang tidak tentu seperti saat ini tidak tepat untuk melakukan trading jangka panjang.

“OJK dan BEI harus melakukan beberapa hal untuk menenangkan pasar, seperti himbauan agar emiten melakukan public expose untuk menenangkan investor karena kondisi saat ini bukan disebabkan fundamental perusahaan melainkan sentiment global”, jelas dia.

Selain itu, dampak buruknya bagi pasar IPO dan obligasi cukup besar dengan penarikan stimulus ini, namun dia menilai akan sedikit berbeda dampak yang dirasakan bagi yang akan IPO dan obligasi. Jika IPO dinilai akan lebih dapat bertahan dengan kondisi ini karena termasuk jangka pendek, obligasi akan alami sebaliknya.

“Obligasi merupakan investasi jangka panjang, jadi akan terkena dampak negatif karena pasar sifatnya tidak mau selalu berinvestasi pada posisi yang sama, sementara IPO bias ditransaksikan dalam jangka pendek”, ujar dia.

Asal tahu saja, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad pernah bilang, pihaknya tetap mengambil langkah hati-hati terhadap dampak dari keputusan The Fed bagi industri keuangan domestik, “Kita masih tetap harus hati-hati,”tandasnya. Dia mengatakan bahwa pihaknya akan terus fokus terhadap pendalaman pasar modal dan pengawasan. Selain itu, OJK juga tetap fokus pada penerapan prinsip-prinsip kehatian-hatian (prudential) dan manajemen risiko. lia/nurul