Mengendalikan atau Dikendalikan Rupiah?

Oleh : Puja Rizqy Ramadhan, Mahasiswa Pascasarjana FE-USU, Pemerhati Ekonomi

Selasa, 24/09/2013

Pekan-pekan belakangan ini pikiran kita cukup terusik dengan kenyataan bahwa Rupiah kita telah menembus angka 11.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Seiring dengan hal itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun mengalami nasib yang serupa pula. IHSG kita mengalami penurunan yang cukup signifikan kalau tidak mau dibilang anjlok. Tentu ini merupakan alarm yang mengumandangkan sinyal bahaya terhadap kondisi makro perekonomian kita.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi mikro perekonomian kita. Pasar uang dan pasar modal boleh jadi sedang sakit, akan tetapi jangan sampai hal ini menular kepada sektor riil. Cukup sulit memang membayangkan sektor riil kita tidak merasakan dampak dari kondisi perekonomian secara makro. Fakta di lapangan telah menunjukkan bahwa masyarakat pelaku ekonomi kita telah menjerit merasakan ekses dari situasi ini. Para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah salah satu contoh nyata. Memang ada beberapa kalangan pelaku usaha yang malah mendulang keuntungan, terutama dari sektor usaha ekspor. Namun lagi-lagi, di negeri yang masih sangat tergantung dengan mengandalkan impor ini -walaupun kita tahu bersama sumber daya kita begitu melimpah- mayoritas pelaku usaha kita tentu akan tercekik dengan merosotnya nilai tukar rupiah. Para pelaku usaha ini, terutama dari kalangan mikro, kecil, bahkan informal, harus memutar otak sedemikian rupa hanya untuk sekadar mempertahankan kelangsungan usahanya.

Lihat saja nasib para produsen dan pedagang tahu tempe kita saat ini. Ancaman mogok skala nasional telah digaungkan mereka menyikapi kondisi ini. Meningkat drastisnya harga kedelai sebagai bahan baku produksi mereka adalah penyebabnya. Tak lain tak bukan situasi ini disebabkan pula oleh depresiasi nilai rupiah yang sedang terjadi mengingat pasokan komoditas kedelai kita, sangat bergantung pada impor dari luar negeri.

Pemerintah dalam hal ini telah berupaya menstabilkan kembali perekonomian negara kepada kondisi yang diekspektasikan publik. Maka terbitlah instrumen yang dikeluarkan pemerintah berupa paket kebijakan ekonomi dalam rangka memberikan solusi terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Tetapi, paket kebijakan ini tak lantas memberikan gairah terhadap para pelaku ekonomi kita. Banyak kalangan yang menyangsikan apakah kebijakan ini mampu menyelamatkan perekonomian kita dari ancaman krisis (atau sebenarnya malah sudah terjadi krisis ?). Tak sedikit pengamat maupun praktisi ekonomi dan usaha kita menyatakan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kita sudah sangat terlambat. Selain itu, efektivitas dan efisiensi kebijakan ini juga diragukan akan dapat tercapai.

Saya tak hendak menyoroti fenomena ini secara teknis. Dalam tulisan ini, saya tidak akan menyodorkan angka-angka, statistik, ataupun asumsi-asumsi ekonomi kepada anda. Tentu hal-hal teknis semacam itu sudah terlebih dahulu banyak dikupas para pengamat secara detail. Sebaliknya, saya ingin mencermati kondisi ini dalam perspektif yang lebih luas, dari sebuah sudut pandang lain, yang mungkin akan menghadapkan kita kepada kenyaatan yang lebih berbahaya dari hanya sekadar persoalan angka-angka matematis-ekonomis.

Mengontrol Alat

Dalam tulisan ini saya tak akan mencoba \"membela\" rupiah. Dalam kacamata saya, ini sama sekali bukan persoalan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ini adalah masalah ketergantungan kita, ketergantungan manusia, terhadap alat tukar itu sendiri. Kepanikan dan jeritan para pelaku usaha seperti yang sedang terjadi sekarang adalah jelas-jelas merupakan indikasi dari sebuah problematika besar.

Mungkin anda akan bertanya, bukankah sudah sewajarnya pelaku usaha berteriak terhadap kondisi perekonomian kita sekarang ? Di situlah letak persoalannya. Para pelaku usaha seakan tak berdaya menghadapi situasi keuangan yang sedang terjadi. Setali tiga uang, masyarakat (baca : kita), lebih banyak hanya bisa pasrah menyikapi \"takdir\" ini. Pemerintah pun kelihatan kerepotan mengurusi perihal yang sama : uang. Kita, manusia, kelihatannya tak lagi mampu mengendalikan alat tukar yang kita ciptakan sendiri. Malah lebih parah lagi, kita telah dikendalikan olehnya. Menyedihkan memang.

Sejatinya, uang merupakan alat tukar yang diciptakan manusia dengan tujuan membuat transaksi menjadi lebih efisien. Ini dilakukan untuk menggantikan transaksi barter yang dianggap tak lagi relevan digunakan secara universal dalam sistem ekonomi modern, dikarenakan kesulitan dalam membutuhkan orang yang memiliki keinginan sama untuk melakukan pertukaran, serta terkendala dalam penentuan nilai suatu produk. Oleh karena itu, manusia menciptakan nilai pada uang.

Tetapi hari ini, nampaknya kita telah memberikan nilai yang terlalu tinggi terhadap alat tukar tersebut. Alih-alih menjadikannya sebagai alat tukar, ironisnya, banyak manusia hari ini malah menukarkan dirinya demi memperoleh uang.

Kita seolah lupa bahwa kita manusia, serta bangsa ini, juga telah dianugerahkan sebuah \"nilai\" oleh Yang Maha Kuasa. Nilai yang justru berwujud abstrak-transendental, bukan material seperti alat tukar yang kita ciptakan ini. Apa yang biasa kita sebut sebagai \"potensi\" , \"human capital\", atau \"sumber daya\" -baik alam maupun manusia-, tentu merupakan sebuah hal yang mungkin malah tak ternilai harganya. Jauh lebih berharga daripada sekadar nominal yang tertulis pada lembaran kertas.

Implementasi dari paradigma ini tentu akan bermuara kepada perilaku kita sebagai subjek perekonomian. Tentu ini akan berkaitan pula dengan kondisi perekonomian baik secara makro maupun mikro. Sebagai contoh, apabila bangsa ini telah mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, sudah pasti kita tak lagi perlu repot-repot melakukan impor dari negara lain, setidaknya pada sektor-sektor yang dianggap vital.

Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah seharusnya tak ada alasan bagi bangsa ini terjebak pada kondisi perekonomian yang buruk dan terancam masuk ke dalam jurang krisis berkepanjangan. Tak ada pula alasan harga kedelai akan melonjak tak terkendali seperti yang dirasakan oleh produsen serta pedagang tahu tempe kita pada hari ini. Lagi-lagi, concern terhadap \"modal\" yang berwujud imateriil ini harus menjadi syarat utamanya.

Pada akhirnya, semua orang sudah tentu membutuhkan uang. Namun mari kita tempatkan uang pada hakikat sejatinya sebagai alat tukar. Mari kita lebih fokus berinvestasi mengembangkan nilai (value) yang ada pada diri kita. Bukan semata berinvestasi dalam bentuk fisik-material. Ini semua demi kemajuan pribadi kita dan perekonomian bangsa. Semoga. analisadaily.com