Pasca Penundaan Tappering-Off

Oleh: Prof. Firmanzah, PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Seperti kita ketahui bersama, rapat terakhir The Fed akhirnya mengambil keputusan untuk menunda rencana pengurangan (tapering-off) stimulus moneter atau quantitative-easing (QE). Pengumuman atas penundaan ini memberikan kesempatan bagi banyak negara terutama emerging-countries untuk melakukan persiapan. Di banyak negara seperti Rusia, India, Brasil, dan termasuk Indonesia, pengumuman penundaan ini telah membuat posisi nilai tukar mata uang dan kinerja pasar modal mengalami perbaikan. Capital-inflow sudah mulai terjadi dan membantu mengurangi tekanan cadangan devisa yang terjadi akhir-akhir ini.

Namun karena sifatnya penundaan maka suatu waktu pengakhiran kebijakan ini cepat atau lambat pasti akan dilakukan. Pengambil kebijakan di setiap negara tetap menjalankan reformasi-struktural untuk memperbaiki dan memperkuat fundamental ekonomi. Bagi Indonesia penguatan fundamental ekonomi terutama di sejumlah aspek seperti memperkecil defisit transaksi perdagangan dan neraca pembayaran akan terus dilakukan. Stimulus kepada industri yang berorientasi ekspor dan pengelolaan impor menjadi fokus dan prioritas pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia.

Upaya untuk meningkatkan investasi di sektor riil dan infrastruktur juga dilakukan melalui berbagai strategi. Kebijakan pemberian insentif fiskal, kemudahan investasi, perbaikan regulasi sampai relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI) dilakukan agar investasi skala besar dan menyerap lapangan pekerjaan semakin meningkat. Selain itu juga, investasi di sektor industri pengolahan dan manufaktur semakin dibutuhkan tidak hanya untuk orientasi ekspor (export-oriented) tetapi juga pengganti impor (import-substitution). Saat ini, Indonesia berpacu dengan waktu untuk membangun struktur industri yang jauh lebih kuat dan efisien. Tentunya hal ini membutuhkan investasi baik dari sisi infrastruktur maupun sektor riil.

Selain itu juga untuk meredam capital-outflow serta tekanan terhadap nilai tukar mata uang rupiah juga terus dilakukan. pengelolaan kebutuhan valas yaitu dolar Amerika Serikat juga terus dilakukan. Pemerintah tengah menyelesaikan sejumlah aturan yang memungkinkan Pertamina melakukan mekanisme forward untuk kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk aktivitas importasinya. Bank Indonesia juga telah melakukan upaya untuk menjamin dan meningkatkan ketersediaan dolar Amerika Serikat bagi pelaku ekspor-impor. Penyesuaian BI Rate juga telah dilakukan yang tentunya akan disesuaikan kembali ketika situasi ekonomi membaik.

Di samping kebijakan di atas, otoritas moneter dan fiskal Indonesia akan terus menjalankan kebijakan penguatan daya beli masyarakat, pengelolaan inflasi dan penguatan sektor ketenagakerjaan di dalam negeri. Dengan terus dijalankannya reformasi struktural akan semakin memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Memperkuat fundamental ekonomi sangat penting agar ketika pengurangan atau bahkan penghentian stimulus moneter di Amerika Serikat benar-benar direalisasikan maka kita dapat memitigasi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Related posts