Sejumlah Perusahaan Asuransi Terganjal Aturan OJK

Senin, 23/09/2013

NERACA

Jakarta – ASEAN Economic Community (AEC) 2015 sudah di depan mata. Namun sejumlah perusahaan asuransi justru belum siap menghadapinya. Permalasahannya baik modal maupun sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan belum mampu memenuhi persyaratan.

“Jumlah asuransi di Indonesoa totalnya sekitar 800 perusahaan. Kalau kita lihat belum semuanya siap. Mereka yang tidak siap punya kendala baik dari segi modal maupun sumber daya manusia,” kata Direktur PT Asuransi MSIG Indonesia Bambang S Soekarno pada acara peresmian Asean Insurance Council (AIC) di Jakarta, pekan lalu.

Untuk itu Bambang mengatakan pihak regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah membuat aturan permodalan juga peraturan infratsruktur agar para perusahaan asuransi segera mengejar standarisasi yang diperlukan untuk dapat bersaing di kancah ASEAN. “Masalahnya ASEAN Economic Community tidak mungkin diundur. Itu kan sudah perjanjian G to G (Government to Government). Makanya suka tidak suka kita harus siap,” tambahnya.

Bagi Direktur PT Asuransi MSIG Indonesia Bambang S Soekarno menilai kebijakan itu sebetulnya hanya memberatkan perusahaan jasa asuransi jiwa dan jasa asuransi umum yang bermodal kecil. Sedangkan jasa asuransi umum yang bermodal menengah dan besar tidak mungkin kesulitan. Untuk itu ia menghimabua agar perusahaan asuransi yang bermodal kecil itu segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat modal.

“Lagipula kan sudah ada rekomendasi jalan kelurarnya seperti, cari investor baru atau menggabungkan diri dengan yang lain,” kata Bambang pada acara peresmian sekretariat Asean Insurance Council (AIC) di kawasan Permata Kuningan, Kamis (19/9).

Lalu Bambang menjelaskan pihaknya juga telah mengupayakan hal itu. Sehingga untuk saat ini ekuitas yang ada diperusahaannya Bambang mengaku hingga September 2013 ini pihaknya sudah mencapai modal Rp75 M. Untuk itu ia merasa percaya diri hingga tahun 2015 nanti ketentuan RBC yang ditetapkan OJK dapat terpenuhi. Meksi begitu, ia tidak menafikan bahwa perusahaan yang dipimpinnya itu sebagian besar modal berasal dari luar negeri, yaitu saham dari MSI (Mitsui Sumitomo Insurance) Jepang sebesar 80% dan saham Rudi Wanandi, 20%.

“Tapi intinya kita memang harus punya modal kuat untuk menghadapi ASEAN Econocim Community 2015 nanti. Karena pesaing-pesaing kita banyak yang kuat. Misalnya Singapura, belum lagi Cina dan Taiwan,” tukas Bambang.

Sementara Bambang menjelaskan fokus utama perusahaan yang dipimpinnya sekarang ini jusrtru mempersiapkan tenaga ahli dari segi financial seperti ahli aktuari. Itu kan jumlahnya snagat terbatas di negara kita. Tapi katanya regulator akan melakukan trobosan-trobosan untuk mencetak tenaga aktuari baru. Kita menunggu itu,” tukas Bambang.

Pada kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor menjelaskan pada dasarnya setiap perusahaan asuransi dalam negeri memang harus menyesuaikan kapasitas agar sejajar dengan industri di luar negeri. Untuk itu ia tidak mempermasalahkan mengenai ketentuan OJK yang mengatakan setiap perusahaan asuransi harus memiliki batas RBC minimal Rp 100 M. Jadi memang mau tidak mau setiap perusahaan mencoba menyesuaikan diri dengan ketentuan yang ada.

“Kalau dibilang ideal angka Rp100 M itu sebetulnya belum juga. Karena kalau kita compare dengan negara-negara di ASEAN sebetulnya kita masih jauh sih di bawah mereka. Jadi sebetulnyayang eprlu dilakukan adalah justru para perusahaan ini mengevaluasi. Buat positioning kita lah,” tutur Julian. [lulus]