Bursa Hijau Berpotensi Profit Taking

Selasa, 24/09/2013

Oleh : Dr Agus S Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Kejutan The Fed pekan lalu bagaikan “paracetamol” bagi bursa Asia yang selama dua pekan terakhir ini meriang dalam kecemasan terombang-ambing oleh spekulasi tapering off. Faktanya, keputusan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunda pengurangan stimulus moneter atau penghentian quantitative easing (QE) ini sekaligus menghembuskan angin segar bagi bursa saham Indonesia. Hal ini ditandai oleh meroketnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa domestik seiring dengan menguatnya nilai rupiah terhadap dolar AS.

Bursa saham Indonesia pada awal perdagangan (19/9) langsung menguat 7% dan akhirnya ditutup menguat 4,65% ke level 4.670,73 dengan nett buy asing mencapai Rp1 triliun lebih. Hal ini terjadi seiring dengan penguatan rupiah 4,21% ke posisi Rp10.867 per US$. Penguatan indeks juga dialami oleh bursa-bursa regional, Hang Seng (Hong Kong) naik 1,67%, Nikkei (Jepang) naik 1,80%, strait times (Singapura) naik 1,81%, indeks saham Filipina naik 2,8%, dan indeks bursa Thailand menguat 3,3% pada hari perdagangan 19/9.

Namun apa mau dikata, euforia ini tidak berlangsung lama. Pada perdagangan akhir pekan (20/9) aktivitas perdagangan di BEI sudah mulai diwarnai oleh profit taking sehingga IHSG ditutup melemah 1,86% ke level 4.583,83. Berdasarkan catatan sepekan, aksi beli bersih (nett buy) asing menurun 45,84% dari Rp2,07 triliun akhir pekan sebelumnya menjadi Rp1,12 trilun akhir pekan lalu (20/9). Penurunan IHSG ini pun seiring dengan melemah tipisnya rupiah sebesar 0,66% atau menurun 74 poin ke posisi Rp11.352 per US$.

Dari fakta empirik tersebut ada beberapa hal yang perlu kita sikapi berkaitan dengan cara pandang kita terhadap keputusan FOMC dan perilaku investor asing di bursa lokal. Keputusan FOMC tentang penundaan penghentian quantitative easing (QE) tersebut jangan dianggap final dan tidak akan ditinjau kembali, mengingat bahwa keputusan tersebut belum merupakan suara bulat dari semua anggota lembaga penentu arah kebijakan ban sentral Amerika Serikat itu. Cepat atau lambat The Fed pasti akan mengeksekusi tapering off baik secara bertahap maupun spontan. Ketika hal itu terjadi dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya gejolak di bursa saham dan pasar uang lokal seiring dengan perginya dana asing dari emerging market.

Akhirnya kita juga perlu mewaspadi perilaku investor asing yang selama ini membawa hot money besar-besaran untuk berspekulasi jangka pendek di bursa lokal dengan pola “positive feedback trading”. Artinya, ketika kondisi bursa bullish mereka berbondong-bondong memborong saham, namun ketika bursa bearish mereka segera melakukan aksi profit taking dan pergi meninggalkan pasar. Bahkan, mereka tidak akan segan-segan menarik dananya keluar bursa kapan saja. Hal ini perpotensi menimbulkan situasi pembalikan secara tiba-tiba (sudden reversal) yang dapat merusak stabilitas bursa dan menebar kepanikan di kalangan investor lokal.