Isu Tapering, Investasi Saham Masih Menjanjikan

NERACA

Jakarta – Head of Invesment PT AAA Asset Managemet, Siswa Rizali menilai instrumen investasi di pasar saham kembali menarik pasca bank sentral AS (the Fed) menyatakan untuk tetap melanjutkan program stimulus keuangannya (quantitative easing/QE), “Saat ini kenaikan saham sangat tergantung sentimen. Sentimen the Fed mendorong pasar saham di dalam negeri hingga menguat cukup signifikan,\" ujarnya di Jakarta, Kamis (19/9).

Menurut dia, sentimen the Fed itu, membuat investor akan lebih agresif mengakumulasi saham-saham terutama yang tergabung dalam indeks LQ45. Dia menuturkan, sentimen the Fed saat ini dinilai lebih penting daripada fundamental perusahaan atau kondisi ekonomi makro negara, misal Indonesia.\"Disarankan investor fokus pada saham kapitalisasi besar seperti Astra, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR),\" kata Siswa Rizal.

Untuk saham komoditas, lanjut dia, investor dapat memperhatikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA). Momentum pertumbuhan memang tidak lagi berpihak pada sektor ini, maka pemilihan benar-benar fokus pada fundamental dan valuasi saham murah.

Sementara itu, analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengharapkan agar investor mengingat bahwa penguatan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek indonesia (BEI) pada Kamis (19/9) ini sebesar 4,65% dan penguatan rupiah terhadap dolar AS bukan karena perbaikan makro ekonomi Indonesia.\"Pengurangan stimulus keuangan AS cepat atau lambat akan terjadi sehingga penguatan ini bersifat jangka pendek,\" kata Purwoko.

Sebelumnya, analis PT Dana Reksa Sekuritas, Lucky BAyu Purno pernah bilang, dampak tapering off akan dialami market dengan memicu asing akan melakukan nett sell secara besar-besaran dengan jumlah yang belum bisa diprediksi. Namun kemungkinan, kata Lucky lebih banyak 10% dari pekan lalu.

Dia juga memperkirakan kondisi ini akan terjadi hingga Oktober mendatang, “Indeks juga akan bergerak fluktuatif dengan target 4.400-4.380 dengan kecenderungan melemah. Sehingga bagi investor yang sudah memiliki profit sebaiknya segera keluar, yang loss atau floating loss sebaiknya hold, sedangkan yang belum masuk sebaiknya menghindar atau wait and see”, jelas dia. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…

Pertebal Likuiditas - Adhi Karya Rencanakan Rights Issue dan PMN

NERACA Jakarta – Geliatnya pembangunan infrastruktur yang tengah di bangun pemerintah memacu PT Adhi Karya (Perseo) Tbk (ADHI) untuk mengembangkan…

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp 1,8 Triliun

NERACA Jakarta – Pendapatan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) sepanjang tahun 2019 kemarin tumbuh 3,7% menjadi Rp10,8 triliun,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kadin: Industri Tidak Bisa Langsung Tumbuh Meski Harga Gas Turun

NERACA Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai bahwa penurunan harga gas industri yang rencananya akan mulai berlaku…

Beli Rumah di Usia Muda Bukan Lagi Mustahil

Empat tahun sejak di lantik menjadi perwira polisi, Nuril Fajar (25) memberanikan diri mengambil rumah di usia muda. Hal ini…

PP Properti Rilis Obligasi Rp 401,3 Miliar

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnisnya, emiten properti PT PP Properti Tbk (PPRO) akan menerbitkan dua seri obligasi senilai dari…