IHSG Diproyeksi Akan Tembus 4.800

NERACA

Jakarta- Merujuk kenaikan pada bursa saham global pasca dirilisnya keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang akan menunda pemotongan paket stimulusnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai berpeluang memasuki tren positifnya. Terlebih untuk menembus posisi 4.800 di akhir tahun. “Saya memperkirakan IHSG akan menguat dan saya kembali optimis bahwa IHSG berpotensi ditutup dilevel 4.800 paling sedikit di akhir tahun 2013,” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Kamis (19/9).

Menurut dia, bukan hanya Wall Street yang menari kegirangan atas penundaan pemotongan paket stimulus, pasar komoditas pun menyambutnya secara bersuka cita. Hal tersebut terlihat dari kenaikan tajam harga beberapa komoditas, seperti emas naik tajam sebesar 4,14% ditutup di level US$ 1.363,6 sementara Nymex Oil juga naik 2,52% ditutup di level US$ 108,08. “Padahal sebelumnya market berekspektasi The Fed akan melakukan pemotongan sebesar US$10-US$15 miliar/bulan,” ucapnya.

Di lain pihak, sambung dia, The Fed juga men-downgrade outlook ekonomi AS, dimana GDP tahun 2013 diturunkan menjadi 2-2,3% dari sebelumnya 2,3-2,6% serta menurunkan outlook GDP AS tahun 2014 menjadi 2,9-3,1% dari sebelumnya 3,0-3,5% di tengah data housing starts bulan Agustus yang naik dibawah ekspektasi yakni sebesar 0,9% menjadi sebesar 891 ribu unit, dibawah konsensus ekonom sebesar 917 ribu unit.

Kepala riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan, The Fed akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan tapering (pengurangan stimulus). Hal ini mendorong Dow Joes Industrial Average (DJIA) pun mengalami penguatan sebesar 147,21 (0,95%) ke posisi 15.676,94. “Semua kepanikan yang terjadi semenjak Mei, serasa menjadi lelucon yang pahit,” ujarnya.

Signal negatif yang muncul pada pergerakan IHSG sebelumnya, menurut dia, langsung dibalik menjadi sentimen positif pada Kamis (19/9). Tercatat, beberapa saham sudah ‘membalik’ signal negatif yang muncul kemarin. Dia pun menyarankan posisi spekulatif bisa dilakukan pada saham perbankan, konstruksi, konsumsi, dan properti.

Adanya isu pengetatan stimulus yang akan dilakukan Bank Sentral AS, sebelumnya menjadi hal yang dikhawatirkan karena dinilai akan berkurangnya likuiditas di pasar. Karena itu, pelaku pasar lebih memiliki profit taking dengan adanya kenaikan beberapa saham “Sebelum rilis pengetatan stimulus oleh The Fed, pelaku pasar mengantisipasi dulu.” kata Analis BNI Securities, Viviet S. Putri.

Tak ayal, sambung dia, kondisi tersebut kembali mendorong IHSG melemah. Terlebih, dominasi asing di pasar modal Indonesia masih cukup besar sehingga pada saat dana asing tersebut keluar maka IHSG diperkirakan belum cukup mampu untuk bangkit. Namun, dia menilai, meski ada pengetatan stimulus oleh Bank Sentral AS, investor asing tidak akan sepenuhnya meninggalkan negara emerging market yang tercatat memberikan return menarik. “Mereka melakukan switching portofolio juga, dari pasar saham ke Surat Utang.” ujarnya. (lia)

Related posts