Humpuss Intermoda Pilih Konversi Saham

Lunasi Utang Sekitar 58%

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta - PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) mengakui kinerja sejak 2010 cukup buruk, akibatnya perseroan memiliki hutang memncapai Rp2,5 triliun. Namun, perseroan berusaha bangkit dan menyelesaikan hutangnya dengan beberapa cara yang dinilai akan mampu menghapus 58% hutang perseroan tahun ini.

Perseroan menyatakan bahwa hutang besar perseroan merupakan beban dari anak usaha perseroan yang berada di luar negeri. Seperti masalah kontrak yang membuat perseroan mengalami kerugian. Namun, diakui Direktur Utama perusahaan yang bergerak di sektor jasa transportasi laut ini, perseroan telah menyelesaikan masalah yang berasal dari anak usahanya dan saat ini perseroan mulai bangkit.

Menurut dia, dalam menyelesaikan hutangnya perseroan akan melakukan dengan cara konversi hutang menjadi debt of equity swap (DES), pembayaran secara angsuran, dan pembayaran melalui aset perusahaan. Sebanyak 58% atau sekitar Rp1,4 triliun pembayaran hutang perseroan akan dilakukan melalui ketiga cara ini.“Para pemegang saham sudah menyepakati berbagai cara dalam menyelesaikan utang perseroan, seperti konversi utang menjadi saham atau debt to equity swap (DES), pembayaran secara angsuran dan pembayaran dengan asset perseroan. DES sendiri telah dilakukan hari ini”, ujar dia di Jakarta (19/9).

Dia menyatakan bahwa cara konversi utang menjadi saham mempertimbangkan harga saham perseroan agar tidak ada yang dirugikan antara pemegang saham mayoritas dan kreditur. Nantinya, dalam penentuan harga sahamnya manejemen sedang mengkaji. Sementara pembayaran utang melalui aset dapat dilakukan dengan memberikan kapal yang dimiliki perseroan. Sedangkan, cara pembayaran utang secara diangsur bisa mengambil dari keuntungan bisnis yang diperoleh perseroan.

Dinilai Efektif

Hal ini diakui efektif dalam menyelesaikan hutang perseroan, dengan melihat peningkatan aset perseroan hingga Rp3,37 triliun pada Juli 2013, sementara pada periode yang sama tahun 2012 aset perseroan sebesar Rp2,79 triliun. Selain itu, net profit perseroan juga tumbuh menjadi Rp9 miliar dari sebelumnya pada periode yang sama 2012 justru mengalami kerugian mencapai Rp41 miliar.

Selain itu, Direktur Keuangan perseroan Budi haryono menjelaskan bahwa dampak kinerja anak usaha pada 2009 yang buruk membuat kinerja perseroan terseok-seok. Pendapatan komprehensif perseroan pada 2010 mencapai minus Rp707 miliar, pada 2011 minus Rp199 miliar. Baru pada 2012 perseroan berhasil mebukukan pendapatan komprehensif tumbuh 0,5%.

Perseroan juga melakukan banyak strategi dalam menumbuhkan kinerja perseroan. Tahun ini, perseroan akan menambah 2 armada untuk sangkut petrokimia dan telah terealisasikan 1 armada, offshore ada penambahan 4 kapal. Selain itu, Budi menyatakan bahwa saat ini rata-rata kapal yang dimiliki perseroan berumur diatas tahun 2005. Sehingga yang berumur dibawah 2005 akan diremajakan atau dilepas.“Saat ini kami telah memiliki 17 kapal tongkang dan akan tambah baru lagi. Nilai investasi untuk 1 kapal tongkang sekitar Rp30 miliar, dan butuh waktu sekitar 6 sampai 8 bulan untuk membuat kapal tersebut. Kami sudah mulai membangun kapal tersebut dan diperkirakan akan selesai pertengahan tahun depan”, jelas dia.

Selain membahas pembayaran hutang, dalam RUPSLB perseroan juga memutuskan untuk melakukan efisiensi direksi dalam menstabilkan kinerja perseroan. Pemegang saham memutuskan tidak memperpanjang Permadi Soekasah sebagai Direktur Pengembangan, sehingga manajemen sepakat hanya 2 direksi yang memimpin. (nurul)