DPR Minta Menteri ESDM Perbaiki Listrik di Sumut

Sektor Energi

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta – Ketua Komisi VII DPR Sutan Bhatoegana menyatakan bahwa daerah Sumatera Utara (Sumut) telah sering mengalami pemadaman listrik sehingga dia menyebutkan kejadian tersebut masuk dalam krisis listrik dalam tahap yang mengkhawatirkan. Pasalnya, ada sejumlah masyarakat Sumut yang berdomisili di Medan menyampaikan keluhan kepadanya.

"Saya minta kepada Menteri ESDM, Jero Wacik untuk segera membereskan masalah listrik di Sumatera. Perintahkan PT PLN (Persero) untuk segera menyelesaikan masalah tersebut," kata Sutan di Jakarta, Kamis (19/9).

Sutan menjelaskan, informasi ini didapat dari kerabatnya yang tinggal di Medan. Hampir sekitar empat jam listrik didiamkan padam. Dan ini berlangsung selama tiga kali dalam sehari. “Ini orang tinggal Medan bilang agar ini bisa diselesaikan. Dia cerita karena sering mati lampu ada tetangga yang buka usaha salon ditegur pelanggan karena mau lurusin rambut jadi keriting sebelah,” katanya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyebutkan pemadaman yang terjadi di Sumur karena ada dua pembangkit listrik yang sedang dalam tahap overhault (perbaikan). Dengan kondisi tersebut, pemerintah telah menyewa kembali Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Ada dua pembangkit yang overhaul (diperbaiki) dengan kapasitas listrik sebesar 400 mega watt (MW). Ini terjadi bersamaan. Karena itu kami sudah sewa PLTD,” tutur Jero.

Ia menyebut, penyewaan pembangkit sesungguhnya tidak ingin dilakukan karena perlu menyerap konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). "Sebenarnya saya tidak mau karena harus pakai BBM lagi. Namun karena untuk ngejar ini ya mau tidak mau," tutur Wacik. Lebih lanjut Wacik menjelaskan, krisis listrik Sumatera akan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. PLN diharapkan bisa melakukan aksi percepatan agar persoalan krisis litrik dapat diatasi secepatnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres), Boediono, meminta Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi krisis listrik di Sumatera Utara (Sumut). "Saya minta kedua menteri segera merumuskan langkah bersama untuk menyelesaikan krisis ini," kata Wapres.

Tidak hanya menyelesaikan krisis jangka pendek, Wapres juga meminta kedua menteri merumuskan payung kebijakan yang lebih bersifat jangka menengah panjang untuk mencegah krisis terulang kembali di Sumatra Utara. Beberapa pembangkit yang prosesnya sudah berjalan itu antara lain pembangkit listrik Nagan Raya yang akan selesai Oktober 2013 dengan kapasitas 110 MW. Sedangkan pada 2014 ada beberapa pembangkit baru dengan total kapasitas 690 MW yang dijadwalkan mulai beroperasi.

Sejumlah pembangkit itu adalah PLTU Nagan Raya 2 (110 MW, Februari 2014), PLTU Pangkalan Susu 1 (200 MW, Maret 2014), PLTU Pangkalan Susu 2 (200 MW, Mei 2014), serta PLTMG Arun (180 MW, Desember 2014). Masih ada lagi pasokan listrik dari panas bumi. Jika pembangunannya lancar, PLTP Sarulla akan mulai beroperasi pada tahun 2016. PLTP Sarulla secara bertahap akan menambah pasokan listrik di Sumatra Utara sebesar 110 MW pada 2016 dan terus meningkat menjadi 220 MW pada 2017.

Terhambat Aturan

Sebenarnya, telah ada rencana untuk pembangunan PLTA Asahan III dan PLTP Sarula di Sumatera Utara, yang diharapkan dapat menjadi solusi atas krisis listrik yang terjadi di Sumut saat ini. Namun hal itu belum dapat terealisasi. Kondisi itu dikarenakan belum keluarnya ijin dari Menteri Kehutanan, terkait pemanfaatan hutan lindung sebagai akses jalan menuju kawasan proyek.

Dirut PLN Nur Pamudji mengatakan, permohonan izin pemanfaatan kawasan hutan lindung untuk akses jalan menuju kawasan proyek kedua pembangkit itu, sudah dikirimkan sejak 21 Mei 2013 lalu. Namun hingga hari ini, belum mendapatkan respon dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

“Untuk kedua pembangkit itu, kalau izin sudah selesai sebetulnya. Tinggal pembangunan fisik saja yang belum bisa dimulai, karena akses jalan ke lokasi kan masih berstatus hutan lindung. Jadi alat-alat berat enggak bisa masuk. Kita sudah ajukan ke menhut sejak 21 Mei lalu, tapi belum ada respon. Ya kita berdoa saja lah, semoga dalam waktu dekat keluar,” sebutnya.

Pamudji mengungkapkan, tender pembangunan untuk kedua pembangkit tersebut sudah rampung. Kontraktor untuk kedua proyek pun sudah dibuat. Sehingga begitu izin keluar, pembangunan bisa langsung dilaksanakan. “Untuk PLTA Asahan III, PLN sudah menunjuk kontraktor yang akan mengerjakan pembangunan bendungan, terowongan dan power house," jelasnya.