Pengembangan Kedelai Lokal Terkendala Lahan dan Produktivitas Petani

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta - Kapasitas produksi kedelai lokal seharusnya meningkat menyusul harga kedelai impor yang melambung tinggi. Tetapi, hal itu tampaknya belum terwujud lantaran keterbatasan lahan di dalam negeri. "Selama 6 tahun terakhir, luas lahan pertanian menurun sebesar 0,06%," ujar Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kementerian Pertanian Sarsito Wahono Gaib Subroto di Jakarta, Kamis (19/9).

Selain itu, pengembangan kedelai lokal juga terkendala oleh produktivitas petani yang rendah. Hal ini dipicu oleh harga kedelai lokal yang tidak kompetitif dan murah. "Selama 3 tahun terakhir, produksi menurun karena harga membuat mereka tidak bersemangat untuk menanam kedelai," terang Gaib.

Sementara itu, Pakar Pertanian Kedelai Institut Pertanian Bogor (IPB) Munif Ghulamahdi mengakui pengembangan kedelai lokal terkendala keterbatasan lahan. Menurut dia, hal ini disebabkan banyak lahan yang telah dikonversi pemanfaatannya. "Sebagian besar lahan di Jawa mengalami konversi. Yang tadinya bisa buat tanam kedelai, tapi beralih untuk tanam yang lain," ujar Munif di tempat yang sama.

Munif menyarankan agar pemerintah mulai melirik lahan yang berada di luar Jawa karena masih memungkinkan. Hal ini perlu dilakukan agar program swasembada kedelai dapat dicapai. "Harusnya kita lari keluar Jawa. Cari saja lahan-lahan sawah yang baru ditanami sekali. Bergerak ke situ dulu saja," tuturnya.

Andalkan Impor

Par teknologi pangan, Prof Budi Widianarko mengatakan selama ini Indonesia terlalu banyak mengandalkan kedelai impor, tanpa sempat mengandalkan kemampuan produksi kedelai lokal. Padahal, kata dia, produk-produk olahan kedelai selama ini sudah telanjur menjadi makanan sehari-hari kesukaan masyarakat. Dengan begitu, kenaikan harga kedelai impor memberikan dampak yang sangat besar.

"Namun, saya tetap optimistis bahwa kita pasti bisa mengatasi persoalan. Bagaimana kita harus belajar dari strategi kalangan industri untuk mengatasi masalah, seperti mi instan dan roti," katanya.

Pada sekitar 1970-an, kata dia, masyarakat Indonesia tidak mengenal yang namanya mi instan, tetapi saat ini mi instan sudah sedemikian dikenal luas, disukai, dan dikonsumsi oleh masyarakat. "Kemudian, roti. Sampai 20 tahun yang lalu roti masih menjadi produk yang dianggap mewah. Namun, sekarang ini semua orang butuh roti. Kita harus mengambil strategi itu, strategi yang sama," tutur dia.

Diakuinya, pengembangan kedelai lokal pasti awalnya kecil, sebagaimana mi instan ketika baru pertama kali dikenalkan. Namun, lama-lama akan berkembang besar jika dilakukan pengelolaan secara sistematis. Pengembangan kedelai lokal, diyakininya, akan memperkuat ketahanan pangan."Ketahanan pangan yang asli, bukan diperoleh dengan membeli. Inilah yang dimaksud kedaulatan pangan," katanya.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga harus memfasilitasi perguruan tinggi, untuk mengembangkan penelitian pengembangan berbagai produk pangan unggulan, yang kemudian dikenalkan kepada masyarakat secara luas."Kalau perlu, suruh perguruan tinggi meneliti dulu. Kalau penelitiannya berhasil diberi bayaran, namun jika gagal tidak usah," ujarnya. Pemerintah, imbuhnya, harus berani seperti itu, tindaklanjutnya menggandeng dunia usaha.

Sementara itu,pemerintah mengalokasikan dana sedikitnya Rp 800 miliar untuk pengembangan areal lahan penanaman kedelai di Tanah Air. Anggaran tersebut naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 400 miliar. Peningkatan anggaran sejalan dengan naiknya target produksi kedelai tahun ini menjadi 1,5 juta ton dari realisasi tahun lalu 800 ribu ton.

Sentra Produksi

Direktur Tanaman Umbi dan Kacang Ditjen Tanaman Pangan Kementan Maman Suherman mengatakan, total luas lahan kedelai nasional saat ini 700-800 ribu hektare (ha). Sentra produksi kedelai di Indonesia tersebar di Nusa Tenggara Barat (NTB), Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Yogyakarta.

“Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi 1,5 juta ton dengan anggaran yang kami sediakan Rp 800 miliar. Untuk mencapai target ini memang agak berat, kami butuh dukungan semua pihak yang terkait, baik dari regulator maupun swasta," ujar Maman.

Dia menambahkan, upaya meningkatkan produksi tahun ini menghadapi tantangan cukup besar akibat anomali iklim yang menyebabkan musim tanam bergeser. Hal itu sangat berimbas terhadap budidaya kedelai karena tanaman tersebut membutuhkan kondisi tidak terlalu basah dan sinar matahari yang cukup. Masa tanam kedelai terjadi Oktober-November, panen baru terjadi 2014. Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan, pihaknya baru saja melakukan perluasan lahan kedelai 50 ribu ha di Aceh dan NTB 30 ribu ha.

Dua wilayah itu dulunya adalah sentra kedelai, namun karena harga terus turun, luas lahan kedelai pun berkurang. Peningkatan produksi kedelai nasional harus melalui penambahan lahan baru agar tidak terjadi trade-off dengan jagung. Jika luas penanaman kedelai meningkat, produksi jagung akan turun dan sebaliknya.

Pada 1992, lanjut Mentan Suswono, lahan kedelai di Indonesia mencapai 1,6 juta ha karena harga saat itu 1,5 kali harga beras. Lahan kedelai saat ini susut menjadi kurang dari 700 ribu ha karena harganya rendah. Harga kedelai dalam negeri Rp 8.000 per kg saat ini dinilai cukup menguntungkan petani karena biaya produksi hanya Rp 6.500 per kg.