Mogok, Tempe pun Seperti Narkoba

Sabtu, 21/09/2013

Mogok, Tempe pun Seperti Narkoba

Apa hubungannya antara tempe dan narkoba? Saat para produsen tempe mogok berproduksi selama tiga hari pada 9-11 September lalu, para pedagang diarang berjualan tahu dan tempe. Kalau ada yang nekat berjualan, akan terkena sweeping. Tempe disita dan langsung diinjak-injak.

“Saat itu di sini mencekam, jualan tempe seperti jualan narkoba, harus main umpet-umpetan,” kata Bambang Wahyutomo, pemilik warung angkringan ‘Warga New Yog’ yang ada di kawasan Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Padahal, di kawasan Pasar Minggu terdapat sekurangnya 100 perajin tempe tahu. Semuanya ikut mogok dan melakukan sweeping ke para pedagang yang biasa menjual tempe tahu.

Mogok secara nasional selama tiga hari itu memenuhi surat edaran dari Gabungan Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo). Mayoritas produsen memilih mogok. Hanya sedikit produsen yang tak mogok dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harian. Tak mogok, biar bisa tetap makan. Di beberapa daerah, mereka yang mogok mengadakan unjuk rasa menuntut pemerintah turun tangan menstabilkan harga kedelai di pasaran. Sebab, harga di pasaran sudah melambung hingga Rp 10.500 per kilogram.

Selama ini, untuk mengakali harga bahan baku yang mahal, para produsen terpaksa menaikkan harga tempe atau mengurangi ukuran potongan tempe dengan harga yang sama. Bagi pedagang makanan, tempe mateng diiris lebih kecil dari biasanya. Harga tahu juga demikian. Jika biasanya tiap 10 iris harganya Rp 4 ribu, kini dinaikkan menjadi Rp 5-6 ribu.

Dalam catatan Gakoptindo, di seluruh Indonesia terdapat sekitar 115 ribu perajin tempe yag mogok berproduksi. Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin mengungkapkan, kerugian akibat aksi mogok selama tiga hari itu ditaksir mencapai Rp 200 miliar. Kerugian terbesar diderita kalangan perajin.

“Kalau ditotal, kerugian aksi mogok produksi sepanjang 3 hari, nilainya cukup signifikan. "Diperkirakan sekitar Rp 200 miliar," kata Aip. Mereka yang mogok sudah barang tentu kehilangan pendapatannya selama tiga hari.

Aip menyatakan, melonjaknya harga bahan baku tempe itu membuat para perajin menjerit. Harga bahan baku naik, tapi harga jual ke konsumennya tak bisa sembarangan ikut dinaikkan, takut tak ada yang beli. "Sampai akhirnya kita keluarkan imbauan untuk mogok karena memang kondisi tata niaga yang diatur pemerintah sudah gagal," kata Aip yang juga pengusaha di bidang transportasi ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Koperasi dan UMKM Kadin DKI Jakarta Nasfi Burhan mengatakan, selama ini para perajin tak mempersoalkan apakah kedelai itu lokal atau impor. Yang penting bagi mereka, harganya stabil dan terjangkau.

Namun dia berharap pemerintah mau memberikan insentif kepada para petani kedelai agar mereka menanam kedelai. Bentuk insentif itu adalah pemberian benih yang berkualitas dan jaminan pemasaran dengan harga yang sesuai. “Kami juga minta pemerintah menyiapkan tenaga penyuluh pertanian dari kalangan perguruan tinggi,” kata Nasfi.

Menurut Nasfi, data dari Kementerian Pertanian, produksi kedelai tahun ini mencapai 847.157 ton. Sedangkan, kebutuhannya mencapai 1,9 juta ton untuk tahu, tempe, tauco, kecap, dan pakan. Jadi masih defisit sekitar 1,1 juta ton lagi. “Itulah target dari swasembada kedelai yang harus diupayakan tidak dengan impor lagi,,” (saksono)