Langkah Buyback Kini Tidak Lagi Tepat

Total Buyback Capai Rp 1,24 Triliun

Kamis, 19/09/2013

NERACA

Jakarta – Langkah menyelamatkan harga saham emiten melalui pembelian kembali (buyback) saham dalam sepekan capai Rp1,24 triliun. Berdasarkan data Neraca, hingga Rabu (18/9) sebanyak 7 emiten telah melakukan buyback dan akan segera merealisasikan buyback. Selain itu, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) telah beberapa kali melakukan buyback. Dalam minggu ini, MNCN merealisasikan buyback sekitar 12,235 juta saham senilai Rp39,98 miliar. Kemudian buyback lagi sebanyak 10,7 juta saham senilai Rp33,66 miliar. PT Panin Insurance Tbk (PNIN) akan melakukan pembelian kembali saham (buyback) saham sekitar 270 juta saham. Perseroan menyiapkan dana sekitar Rp200 miliar.

Sementara emiten BUMN yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA) akan menyiapkan dana sekitar Rp600 miliar melakukan pembelian kembali saham sekitar 50 juta saham atau 2,17% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) yang belum lama menjadi perusahaan publik menyiapkan dana sekitar Rp100 miliar untuk realisasi buyback sekitar 400 juta saham atau 20% dari jumlah modal disetor.

Menurut pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Hutomo, tidak perlu seluruh BUMN melakukan buy back. Cukup BUMN yang punya kapital besar saja yang ikut melakukan buy back. Seperti Telkom, BRI, BNI dan Semen Gresik, “Jika saham-saham itu naik, dia memprediksi IHSG bisa terjaga dan naik lagi sehingga pelaku pasar akan terpancing untuk masuk lagi ke pasar modal, “ujarnya di Jakarta kemarin.

Sementara itu, Analis Dana reksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo menilai saat ini langkah buy back tidak lagi tepat. Menurut dia kebijakan yang dikeluarkan mendadak seperti ini menunjukan fundamental negara tidak solid. Selain itu justru makin memperlihatkan kepanikan pemerintah menghadapi kondisi ekonomi Indonesia.

Sebaliknya, Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, aksi buy back saham oleh BUMN dinilai sebagai langkah yang tepat untuk menopang indeks karena akan menjadi sentimen positif saat ini. Hanya saja, cara ini harus dilakukan secara bertahap guna mempertahankan pergerakan IHSG agar tetap naik. Menurutnya, jika semua emiten BUMN tidak bisa melakukan buyback cukup emiten BUMN yang memiliki market cap besar lakukan buyback.

Sebagai informasi, belum lama ini emiten lain yang merencanakan buyback antara lain, PT Electronic City Tbk (ECII) akan buyback 20% dari modal disetor perseroan dengan dana yang telah disiapkan sebesar Rp150 miliar.. PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) telah merealisasikan buyback saham sebanyak 5,25 juta atau 0,23% saham dengan dana Rp521,4 juta. PT Intiland Development Tbk (DILD) menyiapkan dana sekitar Rp120 miliar untuk melakukan buyback dengan total pembelian kembali saham sebesar 20%.

Sebelumnya, Komisioner OJK Pengawas Pasar Modal I, Robinson Simbolon menegaskan, kebijakan buyback saham yang di keluarkan OJK bukan jaminan mutlak untuk membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) stabil."Tidak ada jaminan mutlak buy back untuk membuat indeks BEI stabil, penurunan indeks BEI juga bukan semata-semata kinerja emiten yang negatif,”ujarnya.

Kendatipun demikian, dirinya akan tetap menjaga keseimbangan di pasar modal sehingga transaksi tetap berjalan meski jumlah saham beredar di pasar modal akan berkurang akibat kebijakan "buy back"."Kami akan menjaga keseimbangan pasar agar transaksi tetap berjalan dan pasar tidak 'kering,”tuturnya. (nurul)