OJK akan Terapkan Aturan GCG di 2014

Awasi Industri Perbankan

Kamis, 19/09/2013

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku akan mengukuhkan peraturan penerapan model tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG). Hal ini menjadi penting untuk mengawasi kinerja industri perbankan. Namun saat ini, model GCG tersebut masih dalam pengkajian tata cara pengawasan. “Kita punya ambisi untuk memperbaiki kinerja perbankan dan perusahaan keuangan lainnya dengan metode GCG. Meskipun belum menjadi regulasi tapi kita mengimbau agar diterapkan untuk sejak sekarang,” kata Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK, Nelson Tampubolon, di Jakarta, Rabu (18/9).

Dia mengatakan, secara praktis, OJK akan menerapkan kewajiban menggabungkan seluruh data dan informasi dari tiap anak perusahaan yang berbau lembaga keuangan dalam suatu kelompok perusahaan. Sebab, semua data dan informasi sekarang masih tersebar seperti BI khusus perbankan, OJK khusus IKNB (industri keuangan nonbank) maupun pasar modal. “Padahal untuk memudahkan pengawasan ini harus ada kemudahan untuk menggabungkan semua data dan informasi,” tambah Nelson.

Namun begitu Nelson mengaku, dalam menerapkan GCG, OJK selaku regulator akan memperhatikan aturan permodalan pada tiap-tiap badan usaha. Kemudian akan dilihat pula tingkat likuiditas serta kepatuhannya terhadap pemerintah. Beberapa indikator yang masuk dalam pengawasan OJK antara lain transparansi, akuntablititas, pertanggungjawaban, independensi, dan kewajaran.

“Nanti akan kita berlakukan goodcard bagi perusahaan yang ternyata kinerjanya baik. Hal ini akan berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat. Bagi yang tidak mendapat goodcard, maka nantinya perusahaan bersangkutan akan mengalami kemunduran,” tegas Nelson. Sementara ini OJK sudah hampir rampung menyelesaikan tata cara pengawasan GCG. Dengan demikian, pada 2014 peraturan ini dapat ditetapkan secara sah. “Sejak awal saya mengimbau agar para perusahaan keuangan agar mulai menerapkan GCG. Agar nanti ketika regulasi sudah keluar mereka sudah beradaptasi,” terang dia.

Analisa dampak

Pada kesempatan yang sama, pengamat ekonomi Sidharta Utama, menilai para stakeholder dalam industri keuangan, khususnya perbankan pada dasarnya memang perlu menerapkan model pengawasan ala GCG. Melalui model GCG segala risiko dapat diantisipasi sejak dini. Sebab, industri perbankan dalam negeri sejatinya memiliki risiko yang tinggi. “Bayangkan 90% pendanaan bank kita dari masayarakat. Sehingga votalitas keuangannya pun sangat high risk. Makanya saya juga menganjurkan bahwa para bank dapat menerapkan metode ini,” tutur Sidharta.

Kemudian Sidharta membandingkan perbedaan profit yang dapat ditimbulkan antara perusahaan yang menerapkan metode GCG dan yang tidak menerapkan. Berdasarkan data yang dimilikinya, dari 30 perusahaan besar yang menerapkan metode ini pertumbuhan profitnya per akhir Desember 2012 mampu mencapai 23%. “Coba kita bandingkan dengan yang tidak menerapkan metode GCG. Dari 415 perusahaan yang kita lihat pertumbuhan profit mereka pada Desember 2012 hanya mencapai 14%,” tukasnya. [lulus]