Analis : Cari Aman, Pelaku Pasar Wait And See - Sambut Pertemuan The Fed

NERACA

Jakarta – Aksi ambil untung pelaku pasar memicu perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu kemarin, ditutup melemah. Hal ini dilakukan lantaran kekhawatiran pelaku pasar atas sentimen global tapering off yang dinilai akan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan indeks.

Menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, perdagangan Rabu (18/9) sudah terlihat bahwa indeks berakhir dibawah target support. Selain itu, sentimen global yaitu keputusan tapering off mendominasi penurunan indeks kemarin.“Sepertinya pergerakan semua sektor akan negatif karena dampak tapering off akan dirasakan market secara keseluruhan. Jika mungkin, sektor pertambangan dan perkebunan yang paling minim terkena dampak ini”, kata dia kepada Neraca (18/9).

Selain aksi ambil untung, pelaku pasar juga terlihat lebih memilih wait and see ketimbang melakukan transaksi. Akibatnya IHSG melemah 1,20% atau kehilangan 54,37 poin ke level 4.463,25 seiring pasar yang cari aman jelang FOMC The Fed. Lanjutnya, diharapkan pasar merespon positif terhadap keputusan The Fed dan hasilnya sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, rupiah juga tetap harus dalam kondisi yang baik agar pelaku pasar benar-benar merespon positif.

Sehingga, akibat dari kondisi yang belum menentu ini, langkah mengamankan harga saham emiten seperti pembelian kembali (buyback) saham dinilai tidak akan cukup kuat menahan laju penurunan indeks jika pasar merespon negatif keputusan The Fed tersebut.“Dampak pasti ada, tetapi tidak akan signifikan, karena program buyback emiten-emiten tersebut belum terlihat. Masih berupa rencana. Selain itu, saat ini sentimen global yang lebih mendominasi kondisi market kita”, jelasnya.

Pekan ini memang banyak emiten yang berencana melakukan buyback, setidaknya emiten-emiten tersebut telah mengumumkan akan melakukan buyback dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebut saja MNCN yang sudah 3 kali mengumumkan buyback. MNCN melakukan buyback secara bertahap, awalnya MNCN mengeluarkan dana Rp15 miliar untuk realisasi buyback dan sahamnya terkerek 4,03% ke level Rp3.225 per saham.

Kemudian, kembali melakukan buyback pada 13 September dengan membeli 10,74 juta saham dengan total dana yang dikeluarkan Rp33,66 miliar dan langsung mengerek saham 150 poin ke level Rp3.225 per saham. Selanjutnya, perseroan kembali melakukan buyback senilai Rp39,98 miliar pada Senin kemarin.

Sebelumnya, Analis Dana reksa sekuritas, Lucky Bayu Purnomo menyatakan bahwa dampak negatif dari tapering off disebabkan beberapa hal. Salah satunya pelaku pasar menilai hasilnya tidak akan sesuai harapan dan tujuan awal yaitu untuk likuiditas di pasar bursa. Selain itu, dengan program tapering off ini mencerminkan kondisi perekonomian secara global sedang konsolidasi atau stagnan. (nurul)

BERITA TERKAIT

Rp7,1 Triliun Dana Asing Masuk Ke Pasar Keuangan

  NERACA Jakarta - Modal asing yang masuk ke pasar keuangan terutama melalui Surat Berharga Negara mencapai Rp7,1 triliun dalam…

Produk Atlet Nabung Saham Dirilis di Pasar - Dukung Atlet Melek Investasi

NERACA Jakarta –PT MNC Sekuritas menilai program atlet nabung saham bisa menjadi investasi jangka panjang bagi para olahragawan di Tanah…

MD Picture Bikin Perusahaan Patungan - Bidik Pasar Film Korea dan Cina

NERACA Jakarta – Perluas market share dan genjot produksi film lebih besar lagi, PT Multi Dimensia (MD) Picture bakal mencari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…