Pokoknya Impor

Sabtu, 21/09/2013

Pokoknya Impor

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa sebenarnya sudah lama menyinyalir adanya gejolak harga komoditas pangan yang berbasis impor. Gejolak itu, kata Hatta, disebabnya setidaknya oleh dua hal. Pertama, kenaikan harga komoditas, termasuk kedelai dan daging sapi, di negara produsen akibat adanya anomali cuaca. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah atas dolar AS.

"Ini harus kita waspadai," kata Hatta usai memimpin rapat koordinasi membahas masalah tata niaga daging sapi dan hortikultura bersama Menteri Pertanian Suswono, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan, dan Menteri Perindustrian MS Hidayat di kantornya, akhir Agustus lalu (27/8).

Para menteri itu sudah punya resep bagaimana mengatasi jegolak harga akibat kelangkan barang. Impor. Alasannya, kedelai dalam negeri sudah tidak ada lagi karena sudah selesai masa panen. Kebijakan impor diperlukan untuk menjaga agar harga tidak naik tajam serta pemerintah mempunyai cadangan nasional. "Sudah ada hitung-hitungannya. Memang diperlukan tambahan impor," kata Hatta.

Saat ini, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2 juta ton, sedangkan produksi lokal hanya sekitar 850 ribu ton saja. Jadi masih kurang 1,15 jua ton. Tak ada jalan lain kecuali impor. Sesuai dengan instruksi Wakil Presiden Boediono, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pun mengeluarkan izin impor baru sebanyak 1,1 jut ton dari sebelumnya hanya 580 ribu ton kedelai. Itu adalah kebijkan relaksasi.

Gita juga menafikan sinyalemen keuntungan para importer kedelai hingga Rp 1 triliun. Menurut dia, angka itu harus diuji secara data. Yang terang, Gita minta para importir tidak menimbul dan menjual kedelai stoknya ke pasar dengan harga maksima yang ditetapkan pemerintah.

Pihak importir pun berkilah mereka menaguk untuk besar di antara penderitaan para perajin tahu dan tempe seperti yang ditudingkan Benny. Seorang direksi PT FKS Multi Agro, importer kedelai, mengungkapkan, adanya depresiasi rupiah itu juga telah merugikan perusahaan. Sebab, selama ini usaha impor kedelai dibiayai dengan utang dalam bentuk dolar AS. Jadi stok lama dan stok baru dibaya dengan dolar AS.

Ahirnya pemerintah luluh dengan usulan para pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) dan Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) agar bea masuk kedelai sebesar 5% dihapuskan untuk sementara.

Menurut Mnteri Perdaganganm Gita Wiryawan, dengan harga kedelai saat tiba di pelabuhan Indonesia mencapai Rp 9000/kg, maka dengan penghapusan bea masuk sebesar 5%, akan ada penghematan Rp 450 per Kg. Sehingga cukup lumayan untuk menurunkan harga di tingkat perajin tahu tempe.

"Juga akan memberikan dampak psikologis ke pasar dan para perajin kalau kita care dan mudah-mudahan ini bisa bermanfaat. Ini policy respons dalam semangat untuk menstabilisasi harga yang berlaku. IP (importir produsen) akan saya revisi menjadi IUT (izin usaha tetap)," katanya

Sementara itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, dengan menghapus bea masuk impor kedelai akan sangat membantu perajin tahu tempe di dalam negeri. Pemerintah akan merivisi kebijakan ini ketika harga kedelai sudah stabil. "Kalau sudah stabil nanti kita kenakan lagi," kata Hatta.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro sudah menolak usulan Akindo dan Gakoptindo. "Kita sudah punya pengalaman dan itu bukan pengalaman bagus," ujar Bambang.

Dia mengungkapkan, tahun lalu pemerintah sudah menghapuskan bea masuk tersebut selama lima bulan hingga akhir 2012. Namun, ternyata, harga kedelai tidak pernah turun pada level yang wajar. (saksono)