free hit counter

Ingin Sukses, Bemimpilah!

Muhammad Idrus, Ketua Umum BPP APVA Indonesia

Sabtu, 21/09/2013

“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya...”.

Secuil syair lagu karya Nidji ini mungkin sangat pas menggambarkan perjuangan Muhammad Idrus merengkuh karir sebagai pengusaha. Betapa tidak, semua usaha yang sukses dilakoninya itu semua berawal dari sebuah mimpi, tentu saja dengan berlari tanpa lelah untuk mengejarnya.

Ya, usai menamatkan pendidikan di SMAN 13 Jakarta, Idrus kemudian menuntut ilmu dengan kuliah di Fakultas Teknik Metalurgi Universitas Indonesia. Usut punya usut, ia memilih jurusan teknik dikarenakan mempunyai impian untuk menjadi the next Bacharuddin Jusuf Habibie, negarawan yang juga pakar teknologi. Tetapi, impian lelaki asli Kalibaru, Cilincing, bukan hanya itu.

Sederet impian lain pun terus menggelayut di kepalanya.

“Karena menurut Saya seseorang tanpa impian itu ibarat burung tanpa sayap. Mereka tak akan dapat terbang tinggi, begitulah arti mimpi untuk Saya. Tetapi bukan mimpi yang hanya sekadar mimpi. Mereka harus dikejar dengan perjuangan yang keras,” jawab Idrus.

Makanya, sebelum menamatkan kuliah tahun 2001, Idrus yang juga bermimpi ingin menjadi seorang pengusaha sukses, terus mencoba mengejar impiannya. Sederet usaha pun dilakoni bapak empat orang anak ini. Mulai dari usaha warnet dan juga toko besi pernah dijalankannya.

Tujuannya satu, ia tidak ingin membebani kehidupan orangtua!

Penghasilan dari usahanya itu membuat Idrus tak lagi bergantung pada orangtua. Ia bahkan sudah mulai mampu menafkahi keluarga, dan yang lebih penting lagi, lelaki murah senyum ini mampu mempekerjakan banyak orang serta memfasilitasi beberapa temannya untuk terjun juga ke dunia bisnis.

“Enaknya, ya, itu tadi. Kita juga bisa membantu orang lain memperoleh pekerjaan,” sebut Idrus.

Seperti yang diutarakan Idrus, sukses yang diperolehnya itu tidaklah mudah untuk diraih. Banyak aral melintang dan menghadang, atau dengan kata lain, semua itu harus dilaluinya dengan penuh perjuangan ekstra. Maka jangan heran kalau segala bidang usaha sempat dijajalnya. Gagal satu bidang usaha lalu mencoba peruntungan di usaha lainnya.

Geluti Bisnis Valas

Nah, bermodalkan pengalaman bisnis yang boleh dibilang sempat jungkir balik itu, Idrus kemudian mendirikan sebuah perusahaan dengan bendera Kinan Group. Awalnya perusahaan ini bergerak di bidang pertukaran mata uang asing atau valuta asing saja.

Tetapi lambat laun, karena melihat peluang di manufaktur serta pemukiman cukup menjanjikan, perusahaannya merambah ke kedua bidang tersebut. Tidak melulu bergelut di bisnis valas.

“Dahulu sih (ikut bisnis valas) karena diajak teman. Karena tertarik Saya pun membuka perusahaan ini. Pada awalnya, Kinan bergerak di bisnis penukaran mata uang saja. Tetapi lambat laun Saya mulai melihat sektor lain yang juga cukup menjanjikan,” kenang Idrus.

Kunci sukses menggarap bisnis valas, dikatakan Idrus, adalah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kepercayaan (trust). Untuk itu, ia selalu berupaya untuk tidak mengecewakan konsumennya. Sehingga konsumen yang merasa puas akan pelayanan yang diberikan secara spontan akan menyebutkan nama perusahaannya seraya mempromosikan tanpa diminta.

Kini, Idrus yang menjabat sebagai CEO Kinan Group, terlihat tetap akrab dengan semua rekan kerjanya. Dia juga sangat peduli dengan kesejahteraan seluruh karyawan. Tak hanya itu, dia juga sangat peduli dengan para pedagang valuta asing baik yang resmi atau pedagang valuta asing yang terdapat pinggir jalan.

Alasannya, dalam konteks ekonomi makro, peredaran valuta asing turut menentukan stabilitas moneter Indonesia, sebab APBN Indonesia ditopang cadangan devisa negara.

Berkat kepedulian dan keuletannya itu, Idrus kemudian diberi amanat menjadi Sekretaris Umum APVA (Asosiasi Pedang Valuta Asing) DKI Jakarta. Tak butuh waktu lama ia kemudian didaulat sebagai Ketua Umum BPP APVA Indonesia untuk masa jabatan 2012-2015.

“Saya tidak tahu apa kelebihan Saya, dan Saya juga tidak pernah menanyakannya,” jawab Idrus, sembari tertawa.

Tak hanya itu, Idrus yang gemar berorganisasi juga menjabat posisi penting di organisasi HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), yakni sebagai salah satu Ketua BPD HIPMI Jawa Barat, sebelum saat ini dipercaya untuk menjabat ketua Departemen Infrastruktur Laut dan Sungai di BPP HIPMI.

Keinginannya hanya satu, melalui organisasi APVA, Idrus ingin mengajak semua pedagang valas untuk gabung ke organisasi ini. Sehingga semua pedagang valas yang ada, nantinya merupakan pedagang valas yang legal. Tujuannya agar semua transaksi yang dilakukan lebih aman, dan tidak memberi kerugian baik untuk konsumen atau pun pengusaha itu sendiri.

“Ya, kita sih hanya dalam tahap mengajak. Kalau (pedagang valas) tidak mau, ya, tidak apa-apa. Tetapi nanti jangan salahkan kita dong kalau terjadi apa-apa dalam bisnis mereka. Toh, mereka itu bukan anggota kita,” tegas Idrus.

Selain itu, dia juga menginginkan agar pemerintah membuat regulasi yang baik untuk para pedagang valas. Dengan demikian, usaha penukaran valuta asing akan lebih memiliki daya saing lagi. Karena, sedari dulu hingga saat ini usaha perdagangan mata uang hanya terbatas dalam dua hal. Yakni sebagai penerima cek travel (travel cheque) serta tempat penukaran mata uang asing saja.

Tidak Mau Berjanji

Bagi sebagian politisi “ikutan nyaleg” mungkin akan menjadi sebuah ambisi besar, tak heran jika segala usaha dilakukan agar dapat menjadi anggota dewan legislatif. Mulai dari berpolitik secara benar hingga melakukan politik uang demi meraih cita-cita. Ujung-ujungnya, nanti korupsi akan terjadi karena mereka pasti tak ingin rugi telah mengeluarkan banyak uang sebagai alat kampanye.

Tetapi tidak dengan Muhammad Idrus. Ia justru diminta Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi calon anggota legislatif (caleg) nomor urut empat, malah beranggapan kalau dirinya mendapat sebuah “musibah” lantaran dipercaya untuk menjadi caleg pada pemilu 2014 mendatang.

Benar saja. Saat itu Idrus langsung mengucapkan kalimat "inna lillahi wainna ilaihi roojiuun", karena dirinya takut tidak dapat menjadi wakil rakyat yang baik. Idrus beralasan, nanti dirinya harus bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.

“Awalnya, Saya merasa tak cocok untuk menjadi caleg, sebab, Saya tidak bisa membuat janji kalau tak yakin dapat menepatinya. Saya tidak mau kalau nanti, umpamanya, sedang berada di surga tetapi ada rakyat yang menagih janji karena belum dipenuhi. Maka Allah SWT akan menarik Saya dari surga dan memasukkan ke neraka,” katanya, dengan mimik serius.

Maka dari itu, jangan heran jika Idrus tidak seperti politisi lainnya yang gemar mengumbar janji tanpa bisa merealisasikannya. Dalam hal ini, Idrus hanya memilih mengucapkan sebuah janji yang memang mampu ia lakukan, yakni tidak akan mengambil sepeser pun dari gajinya kala bekerja sebagai seorang anggota dewan nanti.

Ya, kata Idrus, jumlah gaji yang akan ia terima nanti sebagai anggota dewan hanya ingin dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Maklum, saat ini Idrus melihat masih banyak saudara-saudara sebangsa yang masih kesulitan dalam hidup. Dengan kata lain, ia tidak ingin berfoya-foya dengan segala fasilitas yang diberikan, atau berhura-hura di tengah penderitaan banyak orang.

Tinggalkan Golf

Banyak hal yang bisa dilakukan orang untuk mendapatkan beragam inspirasi, baik melalui belajar, membaca (buku, koran dan majalah) atau melalui hobi yang dimiliki. Nah, Idrus punya hal menarik soal inspirasi, dia yang memiliki hobi jalan-jalan, yang seringkali, mendapatkan inspirasi kala berada di jalan.

“Jalanan banyak menginspirasi Saya. Baik untuk membuka usaha, pergaulan maupun menjadi solusi atas kesusahan orang lain. Makanya, Saya tidak pernah pandang bulu kala bergaul. Semua kalangan Saya temani,” kata Idrus.

Yang jelas, jalanan dan masyarakat pinggiran itu banyak menginspirasinya. Seperti suatu ketika kala makan di pinggir jalan dirinya berfikir dan membedakan makanan yang pernah disantapnya di sebuah restoran ternama.

Saat itu terbesit dalam fikiran, rasanya ia tidak pernah mempermasalahkan makanan yang dimakannya, karena yang dicari hanya satu, yaitu makan dengan rasa enak yang bisa membuat perut kenyang. “Tak pernah terfikir bukan, kalau makanan yang kita makan makan itu baik atau tidak? Yang penting perut kenyang,” kenang pria berusia 35 tahun itu.

Dia berkeinginan untuk menggerakkan para pedagang kecil untuk lebih memperhatikan masalah gizi, di mana nantinya menu yang mereka sajikan adalah menu makanan yang memang sehat bagi yang memakannya.

Karenanya, ia berencana memberi wadah dengan merangkul para pedagang makanan tersebut untuk menghasilkan makanan berkualitas melalui proses pembelajaran mengenai gizi dan lain sebagainya. Intinya, kedatangan Idrus tidak akan membuat usaha pedagang pinggiran tersisihkan, tetapi malah kualitas makanan yang disediakan semakin baik lagi.

Selain jalan-jalan, Idrus sangat gemar bersepeda di lingkungan tempat tinggalnya, bilangan Kelapa Gading Jakarta Utara. Diakuinya olahraga ini dipilih sebagai pengganti olahraga sebelumnya. Maklum saja, sebelum gemar bersepeda Idrus doyan berolahraga golf. Tetapi sejak tiga tahun olahraga kelas premium itu ia tinggalkan.

Alasannya, Idrus tak mau berdiri lantas bersenang-senang mangayunkan tongkat golf miliknya di atas tanah orang-orang susah yang terpaksa harus terus terpinggirkan karena desakan ekonomi yang kian kejam. Karena itu, kini ia hanya menyimpan seluruh peralatan golf-nya sebagai barang koleksi semata.

“Yang jelas, kini Saya tidak lagi menyenangi olahraga golf karena banyak mudharat atau sisi negatifnya,” ungkap Idrus. [ahmad]